(Perjuangan Angga) “Kamu Angga?” Tanya pria menyeramkan di depan Angga. Lelaki yang kini tengah berdiri bersama dengan salah satu ART di rumah Hersa itu menelan salivanya kasar. Angga bahkan tidak sadar jika kini keringat sudah bertumpuk di bagian peilipisnya. “Kamu yang namanya Angga?” Tanya pria itu lagi. Kali ini lebih tegas daripada sebelumnya. Angga mengangguk takut. Lelaki itu mengulurkan tangannya guna memperkenalkan diri. Angga kira tangannya akan dibiarkan menganggur, namun ternyata tidak. Sebab pria di depannya ini sudah lebih dulu menjabat tangan Angga seraya tersenyum. “Saya Angga, Om. Angga Wiraga,” ujar Angga memperkenalkan dirinya dengan lugas. Padahal dalam hatinya ia sedang ketakutan setengah mati sampai tidak bisa menatap mata pria itu. “Saya Hara. Papa Fresya,” j

