Misi Awal

2052 Kata
Ucapan Seth yang dingin dan juga membuat getaran hebat pada Zeline ini, membuat Zeline benar-benar merasa bagai dihantam benda keras dalam hatinya. Merasa gelisah dan menimbulkan ketakutan. "Ine, kamu kenapa Sayang?" Tanya Ibunya Seth pada Zeline, yang terlihat sedang terpaku menatap sesuatu. "Ah ... tidak ada apa-apa Tante." Jawabnya. "Perasaan tadi tante dengar ada Adam." Ibunya Seth terdengar heran. "Oh iya Tante ... Dia langsung naik ke atas." Zeline berkata sekenanya, sedang hatinya diliputi rasa kegelisahan yang dia juga tak tahu apa itu. "Anak itu macam-macam saja, masa dia gak ngucap salam dulu kalo sampe rumah." Ibunya terlihat kesal. "Maafin Adam kalo dia agak tidak sopan ya Nak Ine." Ucap Ibunya. "Gak masalah tante." "Urusan kerjaan kamu sudah selesai?" Tanyanya. "Ah ... iya Tante, udah kok, sambung nanti lagi aja." Zeline berkata sambil tersenyum. "Kamu bener-bener tipe wanita pekerja keras." Nada suara bangga keluar dari mulut wanita itu, dan hal seperti ini yang sangat disukai Zeline, dia sangat menyukai orang lain membanggakan dirinya dengan apa yang dia peroleh. "Kalian makan malam disini saja ya, katanya Papa kalian juga sudah jalan pulang, nanti kalo sudah makan malam baru boleh pulang." Ucapnya lagi. "Iya Tante, kalau Ine ikut Mama saja maunya gimana." "Eh Iya, Mama kamu ada di teras belakang, kamu temani dulu lah, tante mau panggil si Adam dulu." wanita ini lalu meninggalkan Zeline dan pergi ke atas. *** Tok ... Tok ... Tok ... suara ketukan pintu tak terlalu kuat, jelas ini adalah ketukan hangat dari sang Ibu, Seth yang baru saja membuka pakaiannya ini, segera memakai kembali bajunya lalu memutar handling pintu. "Kenapa Bu?" Tanyanya santai sambil tersenyum. Ibunya langsung masuk kedalam kamarnya lalu menutup pintu itu, kali ini wanita itu menatap dingin anaknya. "Kenapa Bu?" Seth yang dilihat dengan tatapan mengerikan itu membuatnya heran. "Katakan kesalahanmu pada Ibu." Ibunya berkata sambil kedua tangannya dilipat didepan d**a dan kemudian duduk di pinggir tempat tidur Seth. "Kesalahan?" kali ini Seth berpikir keras, dan dia tersenyum, "Maafin Aku karena masuk tanpa salam kedalam rumah." dia tersenyum sambil memeluk Ibunya dengan manja. "Lalu?" lanjut Ibunya masih sok cool menanggapi anaknya ini. "Lalu? Memangnya ada lagi?" Tanya Seth heran. "Iya pastinya adalagi." "Emang apa?" Dia berkata layaknya good boy pada Ibunya ini. "Kau apakan Zeline sampai wajahnya berubah seperti itu? Kau mengomentari yang dia kerjakan? atau kau memarahinya? Apa kau tak bisa bersikap baik sedikit dengan seorang wanita? Bukankah sudah Ibu katakan padamu, kalau Zeline itu pasangan yang cocok untukmu." cerocos Ibunya membuat Seth terperangah. 'Wanita itu lagi biang masalahnya!' Seth mengumpat dalam hati. "Tapi Bu, bukankah sudah kukatakan berkali-kali kalau Aku tak mau dengan wanita seperti itu. Pertama dia itu bukan wanita yang sholehah, mana mungkin dia akan menjaga nama baik keluarganya nanti, kedua dia itu terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, tuh Ibu bisa lihat kan dia itu wanita sibuk, nanti yang ada mana sempat dia ngurusin keperluan keluarganya, apalagi keperluan suaminya. Sama orang tuanya saja dia bahkan tak punya waktu, padahal orang tuanya itu jauh dateng dari luar kota cuma buat nemuin dia." Kali ini Seth tak tahan meluapkan rasa kekesalannya, dia benar-benar tak habis pikir Ibunya bisa mengatakan hal itu sampai berkali-kali. "Wow, sejak kapan kamu bisa menilai orang secepat itu?" Ibunya berkata dengan lembut, membuat Seth sadar dengan ucapannya barusan. "Maaf, tapi aku ... Aku tak bisa Bu, Aku mohon Ibu mengerti." Dia lalu menatap Ibunya mencoba memberitahukan pada Ibunya lewat tatapan itu kalau dia benar tak menginginkan perjodohan ini. "Adam, dengerin Ibu ... Ibu sebenarnya tak memaksa kau harus menikah dengan dia atau tidak, tapi setidaknya kau cobalah untuk bergaul dengannya, siapa tahu kita selama ini hanya melihatnya dari luar saja. Kau juga belum coba untuk berkenalan dekat dengannya, kan?" Ibunya memegang wajah anaknya dengan kedua tangannya. "Bu ... tapi kali ini aku sangat yakin." Seth memblokade tatapan permohonan Ibunya, hatinya saat ini lebih keras, dia teguh dengan pendiriannya, dia terus tetap berpegang pada prinsipnya. "Baik, kalau begitu Ibu tak akan memaksa." Ibunya lalu keluar kamar sebelumnya dia menepuk bahu Seth menandakan kalau dia bisa menerima alasan yang dibuat Seth. Pintu kembali ditutup oleh Seth dari dalam, dan dia sangat kesal saat ini, tapi dia lebih menyesal kalau tadi dia sempat berbicara dengan nada tinggi pada Ibunya. 'Apa yang harus aku lakukan dengan wanita itu. Menyusahkan sekali.' Dia masih terlihat sangat kesal saat ini. handphonenya berbunyi Abrar yang menghubunginya. "Kenapa lagi Lo? Kemarin gue hubungin kayaknya lo sibuk banget!" Seth menjawab dengan malas. "Zahara, si inceran lo itu, dia udah mau kawin Bro!" Abrar berkata dengan semangat empat lima. "Udah tahu." Seth menjawab singkat, dan moodnya makin menurun saja kali ini, karena diingatkan oleh Abrar lagi. "Lo udah tahu? Lo tahu gak calonnya itu siapa?" Tanyanya lagi. "Si Zaki." lagi-lagi dia menjawab dengan malas. "Luar biasa! Tapi asal lo tahu ya, Zaki itu cowok b******k" Ucapan Abrar ini mengundang minat Seth. "Maksud Lo?" "Dia itu, pernah nikah waktu tamat sekolah karena ngehamilin ceweknya dan setelah kawin dia itu kerjaannya jalan sana-sini sama cewek, ngehambur-hamburin duit dan pokoknya dia itu bener-bener Penjahat Kelamin!" Abarar memberikan informasi dengan sangat komplit. "Yang bener lo? betewe sejak kapan lo suka ngomongin orang, tumben." Sebenarnya saat ini dalam hatinya ada rasa harapan yang besar untuk bersama Zahara. Setidaknya sebelum janur kuning melengkung dia tidak akan membiarkan wanita seperti Zahara mendapatkan laki-laki yang modelnya seperti itu. "Gue cuma mau kasih tahu sama lo aja tentang ini, biar lo masih punya peluang untuk deketin si Zahara." Abrar lalu terkekeh. "Dapet darimana lo info ini?" Dia sedikit penasaran. "Cewek yang dia nikahin itu, sepupu gue, mereka udah cere tiga tahun lewat, anaknya sudah umur tujuh tahun, cewek." Abrar berkata pelan. "What?! Dia tanggung jawab gak sama sepupu lo itu?" "Gak juga karena waktu cerai sepupu gue gak minta apapun dari dia, yang dia mau dia cuma minta cerai, prosesnya lama bro, karena dia ini agak posesif." "Kalo gitu, kita ketemuan malam ini, abis Isya gue ketempat lo! Lo jangan ngilang kemana-mana." Seth berkata dengan tegas, seperti memberi perintah pada orang ini. "Okelah gue gak kemana-mana lagian mendingan dirumah bisa istirahat." Dia lalu mematikan sambungan telponnya. Seth yang tahu tentang hal ini sangat merasa bahagia sekali, mungkin doanya dijawab kalau dia masih memiliki peluang untuk bersama Zahara, bukan dengan wanita yang seperti akan dijodohkan oleh orang tuanya. *** Papanya Seth dan Papa Zeline baru saja sampai dirumah dan terjadi keributan diruang bawah, tapi Seth seakan enggan untuk keluar, dia tak ingin menikmati detik-detik kebahagiaannya ini seorang diri. Otaknya sedang mengatur rencana apa yang akan dia lakukan nanti terhadap Zahara. Baginya wanita sebaik itu tak boleh mendapatkan pendamping yang tingkahnya menyeramkan, karena baginya Zahara itu bagaikan wanita yang sangat mulia, dia benar-benar seseorang yang bisa menggetarkan hati dan membuatnya salah tingkah. Pintu terdengar diketuk dari luar, membuat Seth lagi-lagi berusaha untuk menghilangkan pikirannya tentang Zahara. Malas-malasan dia membuka pintu itu dan benar saja, membuatnya kehilangan selera. Wanita bernama Zeline itu sekarang berdiri dihadapannya. "Kenapa?" Seth berkata dengan ketus, dan Zeline menjawab dengan senyumannya. "Pak, diajak turun sama Ibunya, kata beliau Kau harus makan." Zeline memamerkan senyum manisnya. "Nanti sebentar lagi." masih dengan ketus menjawabnya dan pintu ditutup dengan keras, membuat Zeline terkejut. 'Haish!' Zeline melayangkan tangannya ke udara seakan ingin memukul Seth. 'Menyebalkan sekali, memangnya dia siapa, apa dia pikir dia sudah sangat hebat sekali, dasar orang kaya menyebalkan!' gerutu Zeline sambil menuruni tangga dengan kesal, tapi sebelum sampai ke tempat orang tua mereka berkumpul Zeline bisa dengan cepat mengubah mimik wajahnya. "Tante, Om sepertinya si Adam sedang bersiap-siap, katanya kita bisa makan saja dulu." ucap Zeline berbohong, padahal tadi Seth hanya mengatakan sebentar lagi, tak ada ucapan seperti itu. "Ah dasar anak itu, ya sudah ayo kita duluan saja, tak perlu menunggunya."Ucap Ibunya Seth dengan semangat. "Iya Ayo makan saja, tak perlu menunggunya." Kali ini papanya Seth menambahkan, sedangkan Papa dan Mama Zeline hanya tersenyum saja, dan Zeline terlihat jauh lebih santai. Mereka tengah menikmati makanan dan bercerita sedikit heboh dikejutkan dengan kedatangan Seth yang sudah sangat rapi. "Mau kemana?" Tanya Ibunya dengan ucapan tidak suka. "Aku mau ke tempat Abrar dulu, ada yang harus diselesaikan mendesak." Dia berkata santai tanpa menghiraukan keberadaan Zeline yang sudah senyum padanya. "Kamu gak makan dulu?" "Nanti disana saja. Ini lagi mendesak. Mungkin pulangnya malam, jangan ditunggu ya." Dia lalu menyalami tangan Ibunya, Papanya serta kedua orang tua Zeline. "Ibu, Papa, Om, tante, Aku pergi dulu ya." Pamitnya, tapi sayangnya Zeline hanya seperti pajangan saja disana, sangat tidak dianggap. "Zeline anterin aja Adam ke depan." Ibunya Adam terlihat bersemangat sekali dan mebuat Zeline terdiam sesaat. "Eh?" "Adam, biarin si Ine temenin kamu dulu bentar." Ucapan Ibunya ini terdengar seperti syarat yang harus dia penuhi jika ingin pergi keluar. "Apa Bu? Oh Iya." Jawab Seth sekenanya, dan tingkah ini bisa ditangkap oleh Mamanya Zeline kalau sebenarnya Seth ini tak menyukai anaknya. Zeline lalu segera berdiri dan mengikuti Seth dari belakang, setelah tiba didepan rumah Seth segera membalikkan badannya dan membuat Zeline berhenti dengan mendadak. "Kau ..." Seth menunjuk Zeline dengan sangat kesal dan wajahnya benar-benar menampilkan ekspresi geram apalagi melihat wajah Zeline yang selalu tersenyum padanya walaupun dia selalu saja membuat kalimat-kalimat yang menyakitkan. "Maaf, Saya hanya berusaha untuk tidak membuat kekacauan didalam. Saya tahu kita harus profesional, dan Saya harap Anda tidak lupa untuk datang ke kantor Saya." Zeline masih sempat-sempatnya mengingatkan Seth. "Benar-benar keterlaluan! Jangan berharap Aku bersedia menikah denganmu!" Ucapnya dengan nada kesal. "Pak Seth tenang saja, Saya akan berkomitmen untuk tidak melakukannya, tapi tetap seperti yang Saya katakan sebelumnya, Besok Saya tunggu pagi-pagi sekali, karena Anda harus memegang ucapan anda tempo hari." Zeline berkata santai. "Aku tak akan menarik kata-kataku, tapi kau harus paham bahwa kau tidak lupa kita memiliki perjanjian tidak tertulis tentang hal ini." Ucapnya sengit. "Jika Bapak menghkawatirkannya Bisa saya draft untuk perjanjiannya, karena ucapan saja sering kali tak bisa dipegang, Saya setuju untuk kita membuat perjanjian itu, agar kita bisa lihat lagi kalau lupa." Zeline lagi-lagi memamerkan senyumnya! Sumpah saat ini benar-benar Seth ingin memukul wanita itu, karena dia sangat muak. "Baik! Siapkan semuanya." Ucap Seth menantang. "Tunggu sebentar!" Ucapnya pada Seth dia segera berlari kedalam rumah lalu beberapa saat lagi muncul di hadapan Seth dengan membawa Ipadnya. "Pak Seth mau buka untuk nama perusahaan atau pribadi?" Tanya Zeline membuat Seth benar-benar tak habis pikir. "Aku akan buka nama perusahaan, akta pendirian dan lain-lainnya akan aku kirimkan ke emailmu sekarang, kemana aku harus mengirim ini?" Seth lalu menantang wanita ini. "Bisa via chat messege! ini barcode nya." Dia lalu menyerahkan handphonenya pada Seth dan sekejap Seth mengirimkan semua file pendukung untuk pembukaan gironya. "Sekarang kau yang tunggu disini." Perintah Seth lalu dia berjalan masuk kerumahnya. Sambil menunggunya Zeline sibuk mengutak-atik Ipadnya, dia mendaftarkan secara online atas nama persuahaan Seth, dan mengatur semuanya sedemikian rupa sehingga nantinya besok dia akan menyerahkan data itu pada operasional untuk segera verifikasi data dan rekening segera dibentuk. 'Selesai.' Ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan. Seth akhirnya keluar dari dalam rumah dan menyerahkan secarik kertas yang benar-benar membuat mata Zeline makin berkaca-kaca karena bahagia. Sebuah Cek dengan nominal dua puluh milyar terpampang nyata disana. "Sebagai jaminan kau pegang saja dulu ini." Ucapnya masih dengan nada ketus. "Ah ... terima kasih sekali pak Seth, dan ini Anda bisa tanda tangan dulu disini." Dia menyerahkan Ipadnya pada laki-laki itu. Tanpa banyak tanya Seth membubuhkan tandatanganya disana. "Ingat jangan lupakan syaratku, besok jam sepuluh Aku akan datang ke kantormu! Aku tidak suka menunggu jadi jangan sampai aku menunggu lama untuk itu." Setelah mengatakannya, Seth segera pergi karena dia sangat terburu-buru, saat ini dia tak melihat ekspresi bahagia Zeline! Zeline yang mendapatkan hal luar biasa ini sedikit melonjak kegirangan. Dia sepertinya sukses membuat Seth menempatkan dana di tempatnya setelah perjuangan hampir enam bulan dia melakukan pendekatan dengan laki-laki itu, nampak baginya sangat mustahil dan ternyata Tuhan yang Maha Baik mendekatkan dirinya pada Seth yang ternyata orang tua mereka berteman baik. Dia melihat laju kendaraan Seth sampai menghilang dari pandangan matanya. Zeline lalu masuk kedalam dengan memegang iPad dan juga Cek berharganya. Dia masukkan dua benda itu dengan sangat hati-hati sekali ke dalam tasnya. Setelah itu, dia kembali ke ruang makan dengan wajah yang sumringah. "Kau terlihat senang sekali." Ucap Ibunya Seth. "Benarkah Tante?" Tanyanya. "Apa Adam melakukan hal yang baik padamu?" Ibunya sangat penasaran melihat ekspresi Zeline yang sangat berbeda dari sebelumnya. "Gak ada apa-apa Kok Tante. Ayok kita lanjut makan." Zeline makan dengan penuh semangat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN