Pagi-pagi sekali Seth sudah terlihat di kantornya, dia tak peduli kalau hari itu adalah hari libur, karena saat ini dia sedang menghindar dari orang tuanya yang sangat membuatnya kesal. Mereka berusaha untuk mendekatkanya dengan wanita gila itu.
Dia yang kesal ini membanting berkas dan membuatnya berserakan di atas meja. Pikirannya kacau apalagi kemarin setelah acara pengajian itu, dia melihat ternyata Zahara ini sudah ada calonnya. Jujur dia sedikit kecewa, katanya mereka ini diperkenalkan oleh keluarga, sama seperti halnya dia yang sedang didekatkan oleh orang tuanya, sayangnya wanita yang diperkenalkan oleh orang tuanya ini sedikit gila dan terlihat bodoh di mata Seth.
'Zahara ...' gumam Seth tak jelas sambil memainkan jari-jari tangan kanannya di atas meja. Lalu dia mengacak rambutnya.
'Apa bagusnya laki-laki itu?' Dia mendengkus kesal, kemudian mengambil handphonenya untuk membunuh rasa bosan, melihat media sosial dan wanita bodoh itu ada di beranda sosial medianya.
Ternyata wanita ini cukup terkenal juga, orang-orang banyak mengaguminya dan dia sering tampil di acara televisi juga wawancara eksklusif di akun youtuber yang membahas masalah dunia perbankan dan bisnis. Gaya bicaranya lugas dan tegas serta tampilannya yang sangat enak sekali untuk dilihat membuat dirinya banyak dikagumi orang-orang.
'Cih! Orang-orang bodoh!' Dia berdecih karena menurutnya orang-orang yang komentar di kolom komentar selalu membanggakan wanita itu. Rasa tidak suka itu makin menjadi-jadi tatkala wawancara itu bertanya tentang dunia perbankan yang mungkin kedepan akan sangat berpengaruh dengan dunia digital, dia kesal melihatnya karena dari caranya bicara seolah-olah menunjukkan kalau dia sudah sangat tahu seluruhnya.
'Apa bagusnya wanita ini.' Dia lagi-lagi kesal, mematikan handphonenya lalu kembali mengingat tentang Zahara, wanita yang membuat jantungnya benar-benar bergetar hebat.
Kemarin saat selesai acara, wanita itu resmi akan dipinang oleh laki-laki pilihan keluarganya, Seth benar-benar kecewa dan Arya tak enak hati, sesaat sebelum pulang, Arya menghampirinya mengatakan kalau dia benar-benar tidak tahu kalau Zahara akan dipersunting oleh Zaki.
Dia hanya tersenyum menanggapi cerita Arya, mau bagaimana lagi sepertinya dia sudah kalah langkah, dan tiba dirumah dia kembali bertemu dengan wanita yang membuat dirinya muak.
'Seandainya saja aku bisa lebih cepat dari dia.' Kemudian Seth menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
Handphonenya berbunyi, Ibunya menelpon lagi, jelas pasti berhubungan dengan wanita itu, ada rasa tak ingin untuk menjawabnya tapi tak mungkin dia menolak permintaan orang tua, nanti kualat.
"Iya Bu." Jawabnya malas.
"Kamu dikantor ngapain? Biasanya kamu di rumah aja gak mau diganggu sama urusan kantor kalo libur, tumben."
"Ada urusan mendesak Bu, makanya aku pergi ngantor." Berbohong!
"Kapan selesainya urusan kantor kamu itu?" Tanya Ibunya lagi.
"Emang kenapa Bu?" Seth tak ingin banyak bohong.
"Begini Nak, Ibu mau pergi jalan sama Ibunya Ine, Papa kamu sama Papanya Ine mereka sedang mancing sekarang entah pergi kemana, nah maksud Ibu bisa gak kalo kamu ajakin kami jalan?" Ibunya tertawa.
"Dua orang Ibu-ibu mau jalan sama satu anak muda yang ganteng seperti aku, apa gak salah Bu?" Seth berusaha menolak tapi dengan gaya sombongnya.
"Kamu kan anaknya Ibu, lagian juga kapan lagi sih kamu ngebahagiain orang tua?" Jelas kalimat sakti ini tak mampu ditolak oleh Seth.
"Ya sudah, tunggu saja sebelum jam makan siang Aku pulang." Seth sudah tahu ujung-ujungnya dia pasti akan mengalah.
Pastilah wanita itu sibuk dengan urusannya sendiri. Gerutu Seth.
***
Zeline menekuk wajahnya lagi sejak tiba di kantor, dia melihat laporan tim marketingnya membuatnya makin sakit kepala saja. Dia kembali memijat keningnya yang terasa makin sakit, padahal tadi dia sudah minum mefinal untuk menahan rasa sakit itu, tapi angka-angka horor didepannya ini membuatnya kembali mencari cara untuk memecahkannya.
Dia keluar dari ruangannya, menunggu anggotanya tiba di kantor, masih pagi memang belum juga pukul setengah delapan wajar saja kalau anggotanya masih dalam perjalanan ke kantor dan ini juga bukan hari kerja biasanya mereka akan datang ke kantor pukul delapan lewat.
Dia lalu mengambil laporan-laporan dari tim marketingnya, baik dari tim pinjaman dan juga dari tim dana. Dia membuat prognosa perkiraan apa saja yang bisa menyelamatkan target angka kantornya agar tetap sesuai dengan target yang ditetapkan oleh HO*, dia ini wanita yang ambisius, dia tidak ingin angka yang diberikan padanya tak bisa di lampaui apalagi capai. Sepanjang perjalanannya berkarir, dirinya selalu mencapai perolehan nilai yang selalu bisa dibanggakan. Karir memang nomor satu bagi Zeline karena dia tak ingin dianggap sebelah mata oleh orang lain. Dia sudah seperti singa betina yang mengamuk kalau sampai ada hal yang tak bisa dia capai.
Dia cukup baik dalam hal menilai calon debitur. Walaupun dia ingin mencapai targetnya dia tetap menggunakan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Dia tak ingin sampai salah langkah dan dibodohi oleh tim marketingnya karena kesalahan memutus kredit. Karena dia jelas tahu sekali saat kita bekerja di sebuah perbankan siap-siap saja kalau satu kaki kita terbelenggu di penjara. Kalian tahu kenapa? Karena ketika salah langkah siap tak siap harus berurusan dengan hukum. Kadang bukan kita yang melakukannya, tapi tetap kita terkena imbasnya. Yah ... paling tidak bolak balik di BAP di kantor polisi dan ikut ke pengadilan. Hal inilah yang selalu dia jaga dan dia juga harus melindungi para staffnya agar bisa bekerja dengan baik dan jangan tergoda hal-hal yang berbau fraud**! Nikmat sesaat, selamanya sekarat.
Ibunya menelpon membuatnya yang tenggelam bersama pikiran-pikirannya itu tersadar.
"Nak, kalau besok kamu tetep masih ke kantor ya?" Tanya Mamanya sesaat setelah dia menekan tombol hijau itu.
"Ehm ... kurang tahu juga Ma, tapi Ine sih berharap semua bisa selesai hari ini dan besok bisa ngajak Papa sama Mama jalan. Hehehe ... Maaf ya Ma, karena ini bener-bener ga bisa ditinggalin." Suara Zeline terdengar sangat menyesal.
"Kamu itu harus kasih waktu buat kamu juga, jangan kerja terus-terusan. Kalau bisa besok kamu gak usah ngantor dulu, lagian sebenernya hari ini dan besok kan kamu harusnya libur, apa nggak bisa ditunda dulu kerjaannya?" Mama Zeline terdengar sedikit kecewa dengan jawaban anaknya.
"Ya ... gimana Ma, ini memang sudah kewajibannya Ine jadi mau gak mau ya hadis diselesaikan. Maaf ya Ma."
"Iya nggak apa-apa. Hari ini mama mau pergi sama Mamanya si Adam." Lapor mamanya.
"Hati-hati aja Ma, naik apa nanti perginya?"
"Nanti dijemput sama Nak Adam." Jawab Mamanya santai lalu sambungan telpon dimatikan.
Zeline ternganga setelah mendapat perlakuan barusan dari Mamanya. Zeline berharap Seth tak mengubah niatnya untuk membantunya akhir bulan ini.
***
Sudah mendekati pukul sembilan malam, tapi Zeline belum menunjukkan tanda kalau dia akan pulang. Mamanya mencoba kembali menghubunginya, tapi sayangnya telponnya tidak ada jawaban.
"Sabarlah mbak, mungkin sebentar lagi dia juga pulang." Mamanya Seth menenangkannya.
"Tapi ini sudah mau kelewat malam loh." Mama Zeline terdengar sangat khawatir.
"Biasa sajalah namanya juga sedang diujung bulan ya resikonya emang gini." Lagi-lagi mamanya Seth menenangkan.
"Iya tapi dia perginya dari pagi banget loh. Sekarang udah malam dia malah gak angkat telpon lagi."
"Dam, coba kami bantuin hubungi si Ine." Ucapan Ibunya ini membuat Seth membelalakan matanya.
"Apa Bu?" Jelas dia sangat keberatan sekali saat ini, sudah dia menemani dua ibu-ibu belanja sekarang dia harus bertanggungjawab disuruh menghubungi wanita yang membuat moodnya turun drastis.
"Kamu tahu gak, seorang Ibu itu akan sangat khawatir sama anaknya kalau belum pulang dan tak ada kabar." Ibunya membujuk Set yang terlihat wajah masamnya.
"Tapi kan ini belum terlalu malam loh. Lagipula dia pasti sangan sibuk Bu, aku gak mau gangguin kerjaan orang." Seth menolak dengan mencari alasan yang menurutnya paling masuk akal.
"Kamu ini apaan sih Nak. Memang ini belum terlalu malam dan kamu menganggapnya biasa saja, tapi mamanya si Ine itu khawatir, karena mungkin didaerahnya jam segini itu udah malam, mana lagi ini ibu kota, ya wajarlah kalau mamanya Ine itu khawatir." Bujuk Ibunya lagi pada Adam.
"Tenang aja, lagian dia ada supir kan, gak mungkin diculik." Seth bersikukuh tak mau menghubungi wanita itu. Baginya dengan menemani dua ibu-ibu ini saja dia sudah lelah ditambah lagi harus kembali berurusan dengan wanita sok sibuk itu. Harusnya jika saja ini bukan waktu sibuknya si Zeline, jelas dia yang harus menemani Ibu-ibu ini.
"Adam ... kau masih tetap tak mau menghubunginya?" Ibunya mulai memasang wajah memelas didepan anaknya. Seth sangat tak suka ekspresi Ibunya yang seperti ini.
Akhirnya dengan penuh keterpaksaan dia mengiyakan ucapan Ibunya.
"Okay." Jawabnya singkat, dia lalu keluar dari tempat itu menuju teras depan rumah.
Dia berpikir bagaimana caranya untuk menghubungi seseorang yang nomornya saja dia tidak menyimpannya.
"Haiz! Menyebalkan sekali!" Umpatnya sesaat sampai diluar.
Otaknya masih berpikir bagaimana cara menghubungi wanita itu. Dia baru ingat kalau Abrar jelas memiliki nomornya.
Dia menelpon Abrar dengan cepat. Lagi-lagi sepertinya agak sial malam ini. Abrar bahkan tak mengangkat telpon darinya. Tak seperti biasanya. Dia lalu mondar-mandir memikirkan cara bagaimana menghubungi wanita itu.
"Gimana Dam? Sudah berhasil menghubungi Ine?" Ibunya tiba-tiba keluar menemuinya.
"Ah itu Bu ... ehm ..." dia bingung bagaimana harus memberitahu ibunya, karena jelas saja dia akan kena semprot ibunya.
"Kenapa?" Dia memandang curiga pada anaknya.
"Ehm ... aku tak punya nomornya."
"Apa?!" Tuh benar saja tebakan Seth ibunya pasti bakalan marah sama dia karena tak menyimpan nomor wanita itu.
Dia senyum-senyum cengengesan.
"Ini nomornya." Ibunya memberikan handphonenya pada Seth.
"Ibu kok tahu?" Seth mengerengitkan keningnya.
"Karena dia akan menjadi mantunya Ibu makanya Ibu minta sama Mamanya." Ibunya tersenyum penuh arti.
Otak Seth yang masih lama berpikir karena menekan angka-angka di tombol handponenya ini tak menyadari apa yang dikatakan Ibunya.
"Ibu ngomg apa barusan?" Tanyanya.
"Ine itu Mantunya Ibu." Ucap Ibunya, membuat Seth benar-benar merasa tersambar petir di hari panas.
"Apa Bu?!" Ulangnya lagi untuk memastikan kalau dia tak salah dengar.
"Mantu ibu." Ulang Ibunya.
"Ibu punya anak laki-laki kan cuma aku, Ibu mau jodohin aku sama wanita itu?" Benar-benar kali ini Seth kehabisan kata-kata.
"Ya dia bakalan jadi istrinya kamu." Ucap Ibunya sambil senyum-senyum dengan anaknya lalu meninggalkannya masuk kembali ke dalam.
Seth yang awalnya ingin berbaik hati ingin menghubungi Zeline ini mendadak sangat kesal.
Baru saja dua kali panggilan telpon itu tersambung, suara Zeline terdengar dengan lembut di telinga Seth.
"Iya Pak Seth." Artinya jelas wanita itu menyimpan namanya, hanya dia saja yang malas untuk menyimpan nomor wanita itu dan bahkan dia hapus lalu di blok agar tidak mengganggu, walaupun akhirnya wanita ini selalu punya cara untuk menghubungi nomornya.
"Kalau mau aku pindahin dana ke tempat kamu, aku punya syarat!" Ucapnya lagi.
"Syarat? Bukankah kemarin syaratnya sudah Bapak bilang pada Saya?" Suara Zeline terdengar berat sekali.
"Mudah saja! Pertama, kau pulang kerumah sekarang! Paling lama tiga puluh menit lagi kau harus sampai di rumahmu. Syarat kedua, apapun yang terjadi kita tak boleh menikah!" Ucap Seth dengan tegas.
"Apa?!" Suara dari seberang sana terdengar kaget.
"Penuhi dua syarat ini dan kau tak perlu datang ke kantorku hari Senin besok, aku yang akan datang ke tempatmu!" Kali ini Seth sedang bernegosiasi dengan penawaran yang menurutnya tak terlalu sulit.
"Baik. Aku pulang sekarang! Untuk syarat kedua aku sangat setuju, karena jelas, aku juga sangat tak ingin menikah dengan nasabahku sendiri." Ucapnya terdengar halus ditelinga Seth dan itu membuatnya kesal.
Sambungan telpon terputus. Seth tersenyum penuh arti sedang Zeline yang masih sibuk dengan urusan kantornya bisa tersenyum setelah lama wajahnya ditekuk masam.
"Baiklah, cukup untuk hari ini. Senin kita fight untuk terakhir kalinya di triwulan pertama ini! Semangat!" Ucap Zeline yang tiba-tiba mengakhiri rapat tanpa mendengar kesimpulan akhir dari timnya. Membuat orang yang hadir tercengang.
"Jadi besok kita bisa libur kan Bu?" Tanya Wina tak percaya dan dijawab anggukan oleh Zeline.
"Yes! Semuanya kirim ini ke email saya. Saya harus mempelajarinya di rumah. Sekarang kita pulang dan istirahat untuk menjaga stamina di hari senin!"
Zeline langsung ngelonyor keluar dari ruangan itu. Dalam pikirannya ternyata Seth cukup bodoh hanya memberikan syarat itu padanya. Jelas saja dia akan sangat mudah memenuhi keduanya ini.
Saat ini mungkin dewi fortuna sedang berada dipihaknya.
***
Catatan:
*HO: Head Office, Kantor pusat. (Untuk beberapa bank mungkin penyebutannya berbeda-beda)
**Fraud: tindakan curang yang menguntjngkan diri sendiri, kelompok dan pihak lain.