"Max." Arga menyebut pelan nama anak buahnya yang duduk di seberang meja kafe. "Ya, Tuan." Pria yang dipanggil Max menjawab sambil menunduk. Sikapnya terlihat kaku di mata Arga. "Hemh. Ayolah!" CEO muda itu mengulum senyum. "Aku bukan papa. Tuan Admaja yang dengannya kamu harus bersikap kaku." Arga menyeruput kopi yang mengepulkan asap di atas meja. "Em. Em. Ya, Tuan." Max jadi salah tingkah sendiri. Arga menarik satu sudut bibirnya. Percuma ingin bersikap santai pada bawahannya tersebut. Mereka sudah distel seperti robot oleh kehidupan keluarganya. "Em. Tuan. Soal Ibu Mirna ... em, beliau ke kantor polisi." Max mengucap ragu. Pasalnya Arga memintanya untuk menghentikan pengintaian. Namun, ia merasa perlu bercerita sebab selama ini wanita itu mencurigai Arga sebagai pelaku p******

