Cinta yang Buta

872 Kata
Wanita itu terlihat sangat buas ketika ibunya dihina lagi-lagi dan lagi. Keberaniannya justru muncul ketika tanpa rasa malu Arga membawa Irham ke rumahnya. Rasa berani yang kemudian datang dari kemarahan yang bertumpuk-tumpuk. ❤❤❤ Suara petir membuat Arga dan Anya menoleh ke jendela. Namun, pria itu tak memindahkan posisinya mengunci tubuh sang istri ke dinding. "A-apa yang Om, inginkan?" gagap Anya ketika matanya bersirobok dengan mata Arga. Satu-satunya tatapan elang pria yang pernah lawan. "Apa sebenarnya maumu?" tanya Arga yang membuat wanita di hadapannya bingung. "Ap-ap-apa?" Tak dipungkiri dadanya bergemuruh hebat. Belum pernah ia sedekat sekarang dengan pria mana pun. Bahkan dengan Irham yang notabene calonnya saja, Anya menjaga pandangan. "Kenapa kamu tak pergi dengan Irham?" Arga menghunus dengan tatapannya. Dua bola matanya bergerak-gerak melihat bayangan dalam manik mata Anya. Wanita itu bergeming. Apa yang Arga inginkan sebenarnya? Jika ingin melihatnya pergi dengan Irham, kenapa tak melepaskannya dan menceraikannya saja? "Apa maksud, Om?" Suara Anya nyaris tak terdengar. "Dasar bodoh! Harusnya kamu pergi selagi bisa! Kenapa kamu kembali?!" Suara itu meninggi seiring turunnya hujan yang menghantam atap rumah yang mereka tempati. "Bodoh?" "Kamu sangat bodoh! Tak seharusnya kamu di sini!" Kini Arga berdiri dan berteriak di wajah Anya. "Kenapa aku bodoh? Apa karena aku hanya ingin taat pada Tuhan dan Anda katakan bodoh!?" Anya tak terima dirinya disebut bodoh lantaran memilih jalan terbaik untuk hidupnya. Jalan Islam yang ia tempuh sejak lama. "Karena Tuhan?! Cih!" Arga mendecih ke arah arah samping. "Kamu adalah anak Mira! Kamu adalah anak lacur yang sudah menghancurkan seluruh masa depanku. Atau kamu sudah berubah motif? Setelah memilih menikah denganku karena ingin melindungi ibumu, sekarang kamu bertahan karena ingin hartaku?" 'PLAK!' Satu tamparan keras mendarat di pipi Arga. "Ibuku bukan p*****r! Jika kamu ingin aku pergi dari sini, CERAIKAN AKU! Aku jijik melihat pria sepertimu!" Anya melotot marah. Wanita itu terlihat sangat buas ketika ibunya dihina lagi-lagi dan lagi. Keberaniannya justru muncul ketika tanpa rasa malu Arga membawa Irham ke rumahnya. Rasa berani yang kemudian muncul dari kemarahan yang bertumpuk-tumpuk. Arga bergeming dengan tatapan marah sambil memegangi pipinya. Tak ada jawaban dari suami, Anya melangkah pergi meninggalkannya. _____________ Mira menoleh begitu Ainun menyebut namanya dari arah pintu. "Mbak Mir, ada yang nyari. Dihentikan aktifitasnya menyulam pakaian bayi. Ia bangkit untuk ke luar menemui seseorang yang sudah menunggunya. Ainun melihat kain yang tergeletak dengan heran. Untuk apa Mira menyulam pakaian bayi? Siapa yang hamil? Apa wanita mantan sekretaris itu tengah hamil? Mira menggeleng, menepis pikiran yang tidak-tidak tentang kakaknya. Lalu berbalik mengekor langkah sang kakak ke ruang tamu. Mira menatap tamu dengan heran. Lelaki itu tampak tak asing, tapi ia tak mengenalnya. "Selamat siang Bu Mira." "Anda yang menelepon saya semalam?" tanya Mira penasaran. Ia menatap pada sang adik yang tampaknya juga tak mengenal tamu mereka. "Benar." Sang tamu menjawab singkat. Ia menyerahkan sebuah kartu nama yang langsung diraih oleh Mira. "Anda bekerja untuk Bapak Admaja?" kejar Mira setelah melihat nama perusahaan yang tertera dalam kartu nama bertuliskan nama 'Muh. Yahya.' "Benar sekali." "Tapi, untuk apa Anda ke mari?" Mira penasaran apa yang sebenarnya Pak Admaja rencanakan untuknya. Ia khawatir jika semua berimbas pada keselamatan Anya yang kini tengah tinggal dengan Arga. Pegawai Admaja itu melihat pada Ainun, ia ingin mengatakan bahwa wanita itu tak boleh mendengar pembicaraan mereka tapi enggan karena tak nyaman. Memahami situasi di depannya Mira meminta adiknya itu untuk masuk ke dalam. Tanpa perlawanan atau pun kecurigaan berlebih, Ainun melangkah masuk. Rasa penasaran mendorong Ainun untuk berpura-pura tak peduli, dan memilih bersembunyi di balik dinding yang memisahkan antar ruang tamu dan ruang tengah. Dengan begitu bibi Anya itu bisa mendengar semuanya dengan jelas. ________ Tak tega melihat Anya wajah Anya yang tampak begitu menyedihkan, Irham menarik tubuh wanita itu ke pelukannya. Anya menangis sejadi-jadinya. Ia butuh seseorang untuk bersandar. "Menangislah, luapkan semua rasa sakitmu. Aku di sini untukmu, An. Aku akan selalu mencintaimu, tak peduli apa pun yang terjadi." Diusapnya punggung wanita dalam pelukan. Irham tahu apa yang dilakukan adalah kesalahan. Mereka bukan hanya laki-laki dan perempuan non mahram yang harus menjaga jarak, lebih dari itu Anya adalah istri orang. Namun, cinta telah membutakannya. Kehadiran Anya di sisinya sekarang adalah bentuk penyerahan diri pada Irham. Ia pasti sudah sangat muak pada suaminya yang kasar dan jahat. Perlahan Irham mendorong sedikit tubuh Anya, melihat matanya yang masih tergenang. "Katakan apa yang laki-laki itu perbuat, An?" "Aku kotor, hiks. Dia memaksaku. Dia menyentuh tubuhku. Hiks." Lirih suara Anya, tercekat di tenggorokan. Tangan Irham meremas dua pundak Anya karena nyeri mendengar penuturan wanita yang dicintai, dipegangi dua pundak Anya kuat-kuat. Lalu mengusap-usapnya. "Inikah yang dia sentuh?" Anya tak menajawab selain tangisnya. "Apalagi? Apa dia menciummu??" tanpa menunggu jawaban Irham menempelkan bibirnya hingga Anya terkejut. Perempuan itu memilih diam, ia pasti tahu bahwa Irham berusaha menguatkannya. Irham menarik kepala lalu memandang lekat-lekat pada wanita di hadapannya. "Apalagi? Aku akan membuang bekasnya." Lagi-lagi tak ada jawaban. Anya menggigit bibir bawahnya. Seolah ada sesuatu yang tertahan dalam dadanya. Dengan gemetar, tangan Irham membuka khimar yang menutup kepala Anya. Lalu membelai hitam rambutnya tanpa perlawanan. Irham semakin berani menanggalkan semua yang melekat di tubuh sang kekasih. Kali ini imannya benar telah hilang di tangan seorang Anya. Gadis yang dulu memberi semangat hidup. Keduanya terbuai, cinta telah membutakan segalanya. BERSAMBUNG Deuh, Irhammmmm.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN