Julian 220

870 Kata

Pagi itu udara terasa segar, sedikit lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar ruang keluarga, memantulkan bayangan lembut di lantai. Setelah sarapan hangat bersama Farah dan Jasmine, suasana rumah masih dipenuhi aroma sup ayam yang tadi dimasak dengan penuh perhatian. Ryujin duduk di sofa sambil mengusap perutnya. Perut itu terasa semakin berat hari ini. “Aduh…” gumamnya pelan. Farah yang sedang duduk di kursi seberang menatap menantunya dengan teliti. “Kamu kenapa?” Ryujin menghela napas. “Punggungku pegal.” Farah langsung mengangguk seolah sudah menduga. “Wajar.” Ryujin menatapnya. “Wajar tapi tidak nyaman.” Farah menyilangkan kaki dengan tenang. “Itu karena kamu tidak menggerakkan tubuhmu dengan benar.” Ryujin mengerutkan kening. “Aku sudah b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN