Mobil Julian melaju seperti anak panah membelah jalanan malam. Klakson bersahutan, lampu merah diterobos tanpa peduli. Tangannya gemetar di setir, matanya tak lepas dari Ryujin yang meringis menahan kontraksi di kursi penumpang. “Julian… sakit…,” suara Ryujin parau, napasnya terputus-putus. “Bertahan, sayang. Kita sudah dekat,” jawab Julian cepat, suaranya bergetar meski berusaha terdengar tegas. “Tolong, bertahan sedikit lagi.” Ryujin menggenggam lengan Julian kuat-kuat. “Aku takut.” “Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana,” ucap Julian, nyaris berbisik, seolah meyakinkan dirinya sendiri. Begitu mobil berhenti di depan rumah sakit, Julian langsung turun tanpa menutup pintu dengan benar. Ia berteriak memanggil bantuan sambil menggendong Ryujin yang sudah hampir tak bisa berdiri. “D

