Tidak terasa sudah setengah hari Faray duduk di kursi kebesarannya sembari berkutat dengan berkas-berkas yang menggunung dan hampir saja menutupnya dirinya. “Ray, makan dulu. Mbak bawain kamu makan siang,” ucap Liani yang baru saja memasuki ruangan dan melirik sekilas pada adiknya. “Sebentar lagi, Mbak. Ini masih ada dokumen yang harus Ray kerjain biar cepat pulang,” balas Faray. Liani tersenyum melihat kegigihan adiknya yang sangat bersemangat ketika mendapat tantangan dari papahnya tadi. Sebelum berangkat ke sini Faray memang diberitahukan untuk segera menyelesaikan dokumennya agar dia bisa cepat pulang. Tentu saja mendengar hal itu Faray langsug bersemangat dan ia berharap dokumennya agar cepat selesai. Akan tetapi, sesampainya di ruangan rahang kokoh Faray hampir saja meninggalkan

