"Ada apa bun, kok ayah tadi kayak ketakutan meluk bunda?" tanya Sena.
"Dia ngajak bunda balik Sena, bunda masih mikir, bunda masih ingat semua kesakitan bunda, bunda belum mikir ke sana," ujar Devi lirih.
"Biar Sena ntar lagi balik ke hotel bun, Sena mau nemenin ayah di hotel kasihan ayah sendirian," ujar Sena.
"Yah, ajak dia ngomong Sena, bunda belum mikir ke sana, jangan paksa bunda untuk mengiyakan keinginannya, dia tidak tahu siksa batin bunda," ujar Devi menahan tangis.
"Bundaaa jangan diingat terus yang dulu-dulu, bunda jadi sakit sendiri, nanti biar Sena bicara sama ayah," ujar Sena berusaha membujuk bundanya.
Sesampainya di rumah Devi segera menuju kamarnya, berganti baju dan menuju kamar mandi. Sementara Sena setelah meletakkan kunci mobil di gantungan kunci dekat tv, segera mengambil jaketnya, memasukkan satu kaos ke dalam tas ransel dan segera pamit pada bundanya akan menemani ayahnya di hotel.
Sesaat ia menoleh pada Ejak..
"Jak temani bunda ya, aku nemani ayah," sahut Sena sambil melangkah ke pintu.
****
Ananta melangkah ke pintu saat terdengar pintu diketuk dan ia kaget menemukan wajah Sena di balik pintu.
"Sena mamamu sama Ejak kan?" tanya Nanta terlihat kawatir.
"Iya, jangan kawatir ayah, Ejak nggak akan ke mana-mana, dia lebih betah di rumah," sahut Sena melangkah masuk dan meletakkan tas ranselnya di pojok kamar hotel.
"Bunda kamu baik-baik saja pas nyampe rumah?" tanya Nanta kawatir.
"Bunda kepikiran yah, pelan-pelan saja yah, bunda kayaknya masih belum bisa menerima keadaan yang sudah nyaman ia lalui eh tiba-tiba harus berubah," ujar Sena.
"Aku pikir perasaan bundamu akan sama besarnya seperti ayah, yang sangat ingin segera bersama," ujar Nanta sambil merebahkan dirinya di kasur.
"Kami terlalu sebentar bersama Sena, setelah menikah, ayah melanjutkan kuliah ke SG lalu bundamu hamil dan kami terpisah, tak sampai setahun kami merasakam bahagia lalu terpisah puluhan tahun, begitu berat ujian kami Sena, ayah sangat, sangat ingin segera bersama bundamu, tak peduli ayah yang harus pindah ke sini, ayah ingim selalu dekat dengan bundamu, ayah ingin menikmati sisa hidup yang entah sampai kapan dengan bundamu," ujar Sena dengan suara parau.
"Sena ngerti ayah, tapi posisi bunda beda sama ayah, ayah kan maaf tidak meraaakan siksan batin seperti bunda, bunda masih takut sama nenek," ujar Sena pelan kawatir ayahnya tersinggung.
"Ayah ingin membawamu dan Ejak pada ibu, sebelum bundamu yang ayah bawa, meski ayah tak ingin sebenarnya menginjak rumah itu lagi, tapi bundamu ingin jika kami kembali menikah secara agama, kami tetap meminta restu dari ibu," ujar Nanta sambil menghela napas berat.
"Nggak papa ayah, terserah ayah, mumpung kami masih libur, kami, saya dan Ejak akan melakukan apapun agar ayah dan bunda bisa bersama lagi, Sena kasihan bunda, kadang ada saat-saat tertentu Sena melihat bunda menangis tanpa sebab di kamarnya, Sena nggak bisa memastikan itu kenapa, tapi suatu saat tanpa sengaja catatan harian bunda terbuka di kamarnya, Sena baca dan ada curahan kerinduan bunda pada ayah, mungkin itu yang menyebabkan bunda sering menangis tanpa sebab," ujar Sena yang akhirnya ikut berbaring di samping ayahnya setelah ia membuka jaket dan celana jinsnya, hanya menggunakan celana pendek dan kaos lengan panjang.
"Ayah merasa sangat berdosa pada kalian, membiarkan kalian bertahun-tahun, ayah sudah berusaha Sena tapi semua di luar jangkauan ayah," ujar Nanta.
"Sena ngerti ayah, lebih baik ayah istirahat dulu, mungkin besok kita lanjutkan pembicaraan ini, kita bicarakan dengan bunda juga kapan kita ke Jogja," ujar Sena, akhirnya Nanta berusaha memejamkan matanya.
****
Ejak bangkit dari kasurnya saat bundanya mengetuk pintu kamar dan terlihat bingung.
"Jak, Livia nggak ada di kamarnya, ini sudah jam sebelas malam, bunda telpon nggak diangkat, coba kamu telpon Jak, nggak biasanya anak itu nggak pamit dan ke luar rumah sampe malam," ujar Devi.
Ejak meraih ponselnya, tidak ada jawaban dari Livi saat ia berusaha menelpon.
"Dia nggak akan ke mana-mana bunda, Ejak akan cari dia ke toko," ujar Ejak sambil memakai celana lalu memakai jaketnya.
"Lewat pintu samping aja Jak, ada satpam kok yang jaga," ujar Devi menatap punggung Ejak yang melangkah ke pintu lalu menoleh padanya sambil mengangguk.
****
Tampak satpam yang menjaga mess di samping toko roti sedang merokok.
"Pak Putu, Livi ada di sini?" tanya Ejak sesampainya di toko roti.
"Iya, mau nginap katanya, itu tuh sekamar sama salah satu karyawan, sebenarnya ada kamar kosong, nggak tahu kenapa dia minta sekamar sama karyawan baru," ujar pak Putu menjelaskan ke Ejak.
"Makasih pak, akan saya ketuk dulu kamarnya," Ejak menuju kamar yang ditempati Livia, mengetuknya berkali-kali lalu terdengar kunci pintu diputar. Terlihat wajah ngantuk Livia yang kaget melihat Ejak.
"Ngapain mas ke sini?" tanya Livia.
"Kamu bikin bunda kawatir, nggak biasanya kamu nggak pamit," ujar Ejak menatap Livia yang juga menatapnya.
"Iya aku lupa ngasi tahu bunda, aku mau nginap di sini dua hari ya mas?" pinta Livia.
"Bilang sendiri ke bunda, telepon dia, kalau kamu marah pada salah satu dari kami, jangan gini Livia, jangan bikin bunda kawatir, bunda sudah cukup rumit jalan hidupnya, kita jangan bikin semakin rumit," Ejak berbalik dan melangkah pergi.
"Mas, mas Ejaaak, maafkan Livi," Livia berteriak namun Ejak tetap melangkah ia pamit pada satpam dan menaiki sepeda motornya, berlalu meninggalkan bunyinya yang menderu.
****
"Bunda tenang saja ia ada di mess karyawan, sekamar sama karyawan baru itu," ujar Ejak pada bundanya yang belum tidur dan menunggunya.
"Kok nggak kamu bawa pulang sih Jak, Livi nya?" tanya Devi kawatir.
"Biarin aja dulu bun, Ejak bilang tadi, kalau ada apa-apa jangan gitu, bilang ke bunda kalau mau ke mana aja, trus Ejak tinggalin aja," ujar Ejak melepas jaketnya melangkah menuju kamarnya.
"Jaaak jangan gitu, biarin aja, bunda yakin ini ada hubungannya dengan kamu dan Sena, dia hanya ingin semuanya baik-baik saja, dia ingin menata perasaannya dulu," Devi mengikuti langkah Ejak ke kamarnya.
"Yah, dan dia lebih suka abang bun,"ujar Ejak pelan.
"Bunda nggak tahu mau ngomong apa, tapi abangmu mengatakan pada bunda bahwa ia akan memulai dengan yang lain, bukan Livia pilihan abangmu," ujar Devi menatap wajah Ejak yang masih bingung.
"Bunda, abang mengalah kan pada Ejak?" tanya Ejak denga wajah sedih.
"Nggak, abangmu bertindak seharusnya sebagai abang, dia tidak mengalah, dia memberimu kesempatan agar kamu bisa belajar berbagi perasaan dengan wanita, Sena banyak teman wanitanya Jak, meski sampai sekarang ia belum memutuskan hatinya akan ia labuhkan pada siapa, mereka semuanya teman bagi Sena sampai suatu saat ia akan memutuskan mana pilihannya, mungkin tak lama lagi," sahut Devi sambil menatap wajah Ejak yang terlihat ragu.
"Tidurlah, sudah malam Jak," ujar Devi meninggalkan Ejak menuju kamarnya.
****
Sesaat, setelah baru saja merebahkan badannya ke kasur, ponsel Devi berbunyi, ia meraih ponselnya dan melihat ada nama livia di sana.
Kok nggak ikut Ejak pulang sayang
Maafkan Livi ya bun, Livi lupa pamit
Nggak papa, tapi jangan gini lagi, kamu udah kayak anak bagi bunda, kalau kamu nggak ada, bunda jadi bingung
Besok siang Livi pulang kok bun
Iya iya nggak papa
Devi meletakkan ponselnya dan merebahkan badannya lagi.
****
Pagi-pagi Sena dan Ananta sudah sampai di rumah Devi. Sena mengajak Nanta masuk menuju dapur, sesaat Nanta ragu melangkah melihat Devi yang hanya menggunakan celana pendek dan berkaos tanpa lengan, rambut yang dijepit ke atas. Ada keinginan memeluk dan mencium istrinya namun ia tahan.
"Eh mas, maaf ya, sarapan belum siap, aku buatkan kopi ya?" ujar Devi kaget melihat Nanta yang sudah berdiri di dekatnya, Nanta hanya mengangguk dan menatap Devi sambil tersenyum. Devi terlihat canggung saat Nanta memandanginya dari tadi. Ia meraih bubuk kopi dan gula, lalu mulai menyeduh kopi setelah menuangkan ai panas dari termos kecil ke cangkir.
"Ini mas kopinya, maaf aku belum mandi, mas kok ngelihat aku kayak lihat orang aneh," ujar Devi setelah meletakkan kopi panas di depan Nanta yang kembali tersenyum menatap Devi.
"Kamu cantik Devi, sudah atau belum mandi," ujar Nanta pelan namun sanggup membuat wajah Devi memerah.
"Hhmm masih tetap kalimat itu, jadi ingat kalau mas ke kosanku dulu," ujar Devi melangkah ke dapur menyelesaikan masakannya, Nanta jadi tersenyum mendengar kata-kata Devi.
Devi segera ke kamar mandi setelah selesai menyiapkan sarapan, terlihat Nanta ngobrol dengan Ejak dan Sena.
****
"Dev kalau boleh, aku bawa Sena dan Ejak ke Jogja, meski tidak ingin ke sana, aku ingin ibu melihat dan bertemu keduanya, sebelum aku membawamu dan meminta restu ibu saat kita akan menikah lagi secara agama," ujar Nanta yang membuat Devi menghentikan sarapannya.
****