#16

1158 Kata
"Bang, kok mau nangis kenapa bang?" tanya Ejak melangkah di sisi Sena. "Kita balik yok Jak,  rencana kita gagal Jak, lain kali aja," ujar Sena menarik bahu Ejak menuju motornya. "Lah siapa yang mau makan tuh makanan yang sudah abang masak,  capek-capek abang masak makanan kesukaan saat ayah sama bunda pacaran dulu, meski cuman rawon kesukaan ayah sama pecel komplit kesukaan bunda kan lama abang nyiapkan tadi, mana banyak lagi," ujar Ejak masih enggan ditarik Sena agar mereka kembali ke rumah. "Duh kamu ini,  jarang ngomong, sekalinya ngomong kayak petasan renteng nggak selesai-selesai," ujar Sena kesal "Tuh ayah sama bunda lagi nangis sambil pelukan Jaaak masa kita tega gangguin mereka," ujar Sena lagi. "Ah masa?" tanya Ejak kaget. "Makanya jangan asal ngomong,  aku tadi maunya masuk ke ruang kerja bunda eh ternyata mereka lagi nangis gitu,  apalagi denger omongan ayah tadi duh bikin sakit dadaku Jak," ujar Sena. Sena dan Ejak akan melangkah saat terdengar teriakan bundanya. "Sena,  Ejak,  ada apaaa,  kok balik?" Sena dan Ejak menoleh dan saling pandang,  dilihatnya ayahnya ada di belakang bundanya,  kedua orang tua mereka terlihat sama-sama sembab matanya. "Eemmm anu,  abang mau ngajakin ayah sama bunda makan siang di rumah, abang tadi masak makanan kesukaan ayah sama bunda," ujar Ejak dan Sena hanya mengangguk sambil berusaha tersenyum. "Oooh iya iya,  ayolah kalau gitu kita pulang," Devi kembali masuk untuk mengambil tas ranselnya. Ananta menatap Devi sambil samar-samar muncul senyumnya,  sisa-sisa tingkah tomboi istrinya masih saja ada. Sneakers, celana jeans belel dan kaos lengan pendek masih saja jadi teman setianya, dan tangannya meraih jaket yang berada di kursi lalu dipakai sambil melangkah. "Ada apa mas menatapku dari tadi?" tanya Devi merasa jengah. "Nggak papa, dandanan kamu masih seperti pas kita kuliah dulu," jawab Ananta melangkah di sisi Devi, dan perlahan meraih tangan Devi menahannya sesaat,  Devi menoleh. "Ada apa?" "Boleh aku menginap satu malam lagi di rumahmu?" tanya Ananta sambil memelas dan Devi mengangguk ragu. "Boleh kan Dev?" tanya Ananta lagi, Devi menatap Ananta, lalu mengangguk tanpa bersuara. Mereka menuju mobil Devi,  sementara Sena dan Ejak telah menghilang menggunakan motor mereka. **** Sesampainya di rumah,  Sena segera berlari ke dapur diiringi langkah Ejak yang tergesa. "Livi,  hangatkan rawonnya, bentar lagi ayah sama bunda sampai, Jak lihat semua yang ada di meja makan sudah ok apa nggak,  aku mau ngatur bunga mawar putih kesukaan bunda di meja kecil ini." "Iya mas,  ini udah mau mendidih malah, aku matikan aja ya, ntar kepanasan ayah yang makan,  nasinya panas,  rawonnya panas," ujar Livia. "Nasinya nggak panas kok Liv, hangat aja, kan sejak tadi sudah aku letakkan di meja makan," sahut Sena menatap bunga mawar yang ia siapkan terlihat cantik di pojok kamar makan mungil itu. "Tuh kedengeran mobil bunda dah nyampe," ujar Ejak melihat ke luar. Terdengar langkah masuk menuju ruang makan dan sesaat Devi serta Ananta tertegun melihat meja makan yang sudah siap dengan penataan yang cantik, lalu matanya terbelalak melihat bunga mawar putih, segera ia menuju ke arah bunga dan menciumnya sesaat. "Ah terima kasih Sena,  Ejak,  Livia," Devi terlihat sangat bahagia meski sisa-sisa sembab masih terlihat di matanya. **** Sena melihat ayahnya sangat menikmati rawon buatannya, dan mendesis perlahan saat ia mulai membubuhkan sambel pada tiap suapannya. Deviana menatap wajah Ananta yang mulai berkeringat, ia tahu bahwa Ananta penyuka masakan pedas,  namun yang paling Ananta tidak suka karena setelahnya ia akan jadi berkeringat. Devi mengulurkan tisu pada Ananta dan Nanta tersenyum pada Devi. "Jadi ingat pas kuliah dulu ya Dev, setelah aku menemani kamu ke perpustakaan, biasanya pas pulang kita mampir ke warung Pak Paidi untuk makan di sana," ujar Ananta mengelap keringatnya menggunakan tisu. Devi mengangguk dan mulai tersenyum. "Yah,  yang pasti mas selalu memesan rawon atau krengsengan, sedang aku selalu pecel komplit, selalu begitu," Devi berbicara sambil menatap makanan yang ada di meja,  seolah berusaha mengingat rangkaian peristiwa yang pernah mereka lalui. "Eh satu lagi Dev,  teh hangat,  kita selalu memesan teh hangat ya?" tawa Nanta perlahan terdengar. "Eh iya, mas Sena tadi dah bikin teh hangat ya Allah lupa," ujar Livi beranjak dari duduknya namun Ejak ternyata lebih sigap mengambilkannya karena lebih dekat dari jangkauan Ejak. "Duduk Livi,  ini sudah aku ambilkan," ujar Ejak meletakkan teko berisi teh hangat di dekat ayah dan bundanya. Devi menuangkan teh hangat pada gelas yang berada di dekat Ananta. "Terima kasih," ujar Ananta sambil menatap Devi lalu menoleh pada Sena. "Jam berapa kamu menyiapkan semua ini Sena?" anya Ananta sambil sesekali mengelap keringatnya lagi. "Sejak pagi sih yah, dibantu Ejak sama Livi, cuman yaaa sembunyi-sembunyi biar nggak kelihatan ayah sama bunda, kan kejutan ya?" Sena melihat wajah Ejak dan Livi yang mengangguk. "Karena bunda pernah cerita dulu kalau salah satu makanan favorit ayah selain gudeg ya rawon,  makanya Sena buatin trus kalau bunda sih kami semua tahu kalau bunda nggak pernah ada bosennya sama nasi pecel komplit kayak gini ya bun," ujar Sena. "Sebenarnya nasi pecel itu lebih nikmat jika dinikmati saat sarapan,  tapi bundamu ini mau pagi, siang atau malam nggak masalah," terdengar tawa Ananta yang dibalas dengan senyum oleh Devi. "Jadi nanti sore Sena antar ke bandara yah?" tanya Sena. "Ayah pulang besok aja,  tiketnya ayah berli yang besok siang," ujar Ananta melihat wajah Devi sekilas. "Alhamdulillah," sahut Sena. "Kenapa Sena?" tanya Devi. "Ya Sena sama Ejak pastinya lebih senamg ayah agak lama di sini," jawab Sena yang diiyakan oleh Ejak. Devi hanya menghela napas dan meletakkan sendoknya karena makan siangnya sudah selesai. "Nggak papa kan Dev aku di sini satu hari lagi?" tanya Nanta. "Nggak papa mas," ujar Devi pelan. **** Sore hari Devi dan Ananta terlihat duduk di teras depan melihat lalu-lalang kendaraan yang ramai di depan rumah mereka. Selalu saja seperti itu karena tepat di depan rumahnya ada galery seni yang di dalamnya terdapat berbagai macam hasil ukiran, "Selalu saja ramai seperti ini ya Dev?" tanya Ananta. "Yah,  sama saja dengan di Jogja,  aku yakin kamu nggak gitu kaget mas,  melihat turis yang lalu lalang, eh bentar ya,  aku mau nyiram tanaman, udah mulai sejuk kayaknya," Devi bangkit dan mulai memutar kran air. Devi menyemprotkan air dengan menggunakan selang pada beberapa tanaman yang ia pelihara di depan rumahnya. "Sejak kapan suka tanaman dan bunga?" tanya Ananta menatap Devi yang sore itu hanya menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan. "Sejak jauh dari mas,  ini kegiatan yang bisa bikin lupa segalanya," sahut Devi, matanya tetap menatap tanaman yang ia siram. Ananta berdiri dan melangkah pelan mendekati Devi namun langkahnya terhenti saat melihat seorang laki-laki tinggi besar berkulit putih bersih dengan rambut pirang tertata rapi, masuk begitu saja melewati pagar dan berhenti tepat di depan Devi yang sedang menyiram tanaman. Devi terpana dan menatap wajah laki-laki di depannya dengan wajah bingung. "Victor, kau kembali, aku bilang tak ada tempat untukmu sampai kapanpun, baru dua bulan kau mencoba, mengapa kembali?" tanya Deviana, tangannya melepaskan selang yang ia pegang dan terpekik kaget saat laki-laki itu menariknya dalam pelukannya. Darah Ananta mendidih seketika,  saat melihat Devi yang berusaha keras mendorong badan tegap itu. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN