#11

1312 Kata
"Masak apa bun?" tanya Sena saat ia ke dapur, mendapati bundanya dan Livia sedang asik memasak. "Hmmm kamu kok wangi banget, mana dah rapi sepagi ini,  mau ke mana?" tanya Devi. "Ah bunda,  di tanya malah nanya, Sena mau kencan dulu," jawab Sena sambil mencomot sepotong tempe yang masih panas dan ia mendesis kepanasan saat mulai mengigitnya. "Sepagi ini kencan?" tanya Devi lagi. "Emang kenapa bun, malam minggu terlalu biasa,  aku nyari yang nggak biasa,  karena...orangnya yang ngajakin aku kencan luar biasa ini bun," ujar Sena yang mampu membuat Livia menoleh padanya. "Oh yaaaa, bawa ke sini dong Sena," ujar Livia mulai menggoreng ikan kakap dan ia agak menjauh dari penggorengan. "Pasti akan Sena bawa ke sini ntar," ujar Sena pura-pura tak melihat Livia yang bolak-balik melihatnya. "Ah Sena tahu,  pasti bunda pagi ini lagi nyiapin lalapan ya, ada tahu tempe goreng, itu ada kakap lagi, trus lalapannya juga ah seger banget, mana sambelnya bun?" tanya Sena. "Tuh Livia lagi nyiapin," Devi menunjuk dengan dagunya dan Sena hanya mengangguk tanpa melihat Livia. "Ok deh bun,  aku ke luar dulu ya,  eh iya,  adik manis mas berangkat dulu ya," ujar Sena pamit pada bundanya dan Livia. Devi mengangguk dan melihat langkah lebar Sena menuju pintu. "Mas Sena banyak yamg suka ya bun?" tanya Livia saat Sena sudah berlalu dengan meninggalkan deru motornya. "Yah,  entahlah pesona apa yang dimiliki anak itu, bahkan pernah saat sma dia bingung sembunyi sana sini karena ada anak gadis yang sudah berkuliah ngejar-ngejar dia, kamu tahu sendiri kan Livia, mungkin karena dia selalu ramah dan sopan pada siapapun," jawab Devi. Livia mulai meracik sambel bajak, sesekali ia mengusap matanya saat menguliti kulit bawang merah. **** "Bunda mandi aja dulu, biar Livia yang nyiapun meja makan sama semua nasi dan lauk," ujar Livia setelah semuanya siap. Devi mengangguk dan melangkahkan kakinya ke kamar. Ejak masuk ke dapur dan menyiapkan piring serta sendok. "Mau aku bantu Livi?" tanya Ejak dan Livia mengangguk. Ejak mengambil gelas lalu di tata di sebelah piring yang telah disiapkan oleh Livia. "Kok lima sih Livi piringnya?" tanya Ejak. "Mas Sena mau ngajak ceweknya ke sini," sahut Livia pelan dan Ejak kaget. "Kata siapa?" tanya Ejak. "Kata mas Sena tadi," jawab Livia lagi, hanya kata oh yang ke luar dari mulut Ejak. **** "Aku mandi dulu ya mas, tinggal nuangin air minum aja," ujar Livi yang diiyakan Ejak. "Eh siapa tuh di depan mas kayak ada yang ngetok pintu, oh kak Nira loh kok sendirian,  kok gak bareng mas Sena?" tanya Livia keheranan. "Emang abang bilang kalau ke sini bareng Nira?" tanya Ejak. "Nggak sih,"jawab Livia sambil melangkah ke luar membuka pintu. "Sena ada Livi?" tanya Nira dengan pakaian yang pasti bikin pusing laki-laki. "Mas Sena ke luar pagi-pagi sekali kak," jawab Livia. "Oh, padahal aku sudah nelpon tadi,  iya dah ntar aku balik lagi,  bilangin ke Sena ya aku tunggu di butik," ujar Nira membalikkan badannya dan menuju pintu,  masuk ke mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang. "Apa nggak masuk angin ya pake baju kayak gitu?" tanya Livia lirih dan terdengar tawa pelan Ejak. "Sudah kebiasaan, jadi anginnya yang takut," jawab Ejak menahan tawa. "Tumben mas Ejak bisa gurau?"tanya Livia. "Lah kamunya juga nanya aneh,  dah biasa Nira pakai baju terbuka kayak gitu, pemandangan biasalah di sekitar sini juga turis-turis kayak gitu," jawab Ejak. Livia akhirnya berlalu meninggalkan Ejak menuju kamar mandi. Tak lama bunda sudah ke luar kamar menuju ruang makan dan melihat Ejak yang duduk sendiri setelah menyiapkan mangkok berisi air untuk membasuh tangan. "Iya bener Jak,  bunda lupa mau nyiapkan itu,  tadi kayak ada tamu,  siapa?" tanya Devi. "Nira bun,  nyari abang," jawab Ejak. "Loh gimana sih Sena,  katanya mau kencan kok malah ceweknya ditinggalin," ujar Devi mulai duduk di kursi dan menyuruh Ejak duduk. "Emang abang bilang si Nira ceweknya,  perasaan abang nggak mau deh sama si Nira bun,  takut katanya, ngeri," Ejak tertawa pelan. "Hyyssss kamu ini Jak," ujar Devi lagi, meraih ponselnya hendak menelpon Sena. "Bun,  ada tamu tuh di depan, awas abang ya sama ceweknya," ujar Ejak. Devi bangkit dari dudukmya penasaran siapa gadis pilihan Sena. Devi melangkah ke pintu dan berdiri mematung menatap laki-laki yang telah dua puluh tahun ia tinggalkan. Laki-laki itu tak banyak berubah, tinggi,  tegap dengan kulit putih bersih  dan seyum yang samar-samar mulai terlihat,  hanya rambutnya yang mulai terlihat lembar-lembar keperakan di sana-sini. "Assalamualaikum Devi, boleh aku masuk?" kalimat pertama Nanta akhirnya ke luar. "Iyaaaa silakan, wa alaikum salaam,  mari masuk," Devi segera berbalik namun lengan Devi diraih oleh Nanta dan menariknya dalam pelukannya, Nanta mendekap erat wanita yang telah meninggalkannya dua puluh tahun. "Aku mencarimu sekian tahun,  aku mencarimu Devi, kau meninggalkan aku dalam kesengsaraan dan kesendirian," bisik Nanta dalam tangis sambil memeluk erat Devi dalam pelukannya. Lama Devi tenggelam dalam pelukan Nanta,  Devi tak berkata sepatahpun ia hanya diam dan matanya berlelehan air mata. Setelah agak lama akhirnya Nanta melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah wanita yang ia cintai, tak banyak berubah tetap cantik di usianya tak tak lagi muda. "Mas pasti belum sarapan kan, kita sarapan dulu," ujar Devi akhirnya mengalihkan pandangan Nanta yang sejak tadi seolah tak pernah puas. Ananta menoleh pada Sena yang ada di belakangnya ia melihat Sena yang memperlihatkan jempolnya sambil tersenyum lebar, sementara Ejak yang langsung memeluk Nanta dan Nanta membalas pelujan Ejak. "Terima kasih ayah sudah datang," ujar Ejak dengan suara parau dan segera melapaskan pelukannya. Nanta melangkah ke ruang makan diikuti oleh Ejak dan Sena, di sana Devi terlihat sedang menyiapkan kopi untuknya, mata Nanta terlihat berkaca-kaca,  ternyata Devi masih ingat jika tiap pagi ia pasti minum kopi. Devi meletakkan kopi dan  air putih bersisian. "Ayo yah silakan ambil duluan, ayah kan tamu," ujar Sena dan tak lama kemudian Livia bergabung. "Nah ini ayah yang namanya Livia,  si cantik Livia, anak bungsu mama,"ujar Sena dan Livia melangkah menuju Nanta,  dan mencium punggung tangannya, Nanta tersenyum melihat mereka berlima duduk mengelilingi meja makan. Devi menyendokkan nasi ke piring Nanta dan menawarkan berbagai lauk, Nanta kembali menahan tangis saat menyuapkan makanan ke mulutnya, mimpinya selama bertahun-tahun jadi kenyataan, berkumpul bersama anak dan istrinya. "Ayah, ayo tambah lagi dari tadi lebih banyak ngelamunnya dari pada makannya," ujar Sena dan Nanta tersenyum sambil mengangguk. Devi menyodorkan tempe goreng ke dekat Nanta, dan Nanta sekali lagi menahan sesak dadanya karena istrinya masih ingat apa yang ia sukai. "Ini sambel sama lalapannya juga mas," ujar Devi lirih dan Nanta hanya mengangguk. Selesai makan Devi dan Nanta duduk di ruang tamu, kopi untuk Nanta, Devi bawa ke ruang tamu. Sejenak mereka diam saja, lama tak bersuara hanya Nanta yang menatap wajah Devi dengan tatapan rindu. "Mas Nanta baik-baik saja?" tanya Devi memecah kesunyian. "Tidak,  aku tidak baik-baik saja,  apalagi tahun-tahun pertama kamu pergi,  aku sekarat Devi,  tergantung pada minuman keras, ingin melupakan semuanya,  kamu yang pergi,  bapak yang meninggal,  hotel yang hampir ludes, aku beruntung masih hidup, mengobati lukaku dan tetap tidak bisa melupakanmu,  meski aku beberapa kali mencoba dekat dengan wanita," ujar Nanta panjang lebar. Devi terlihat sedih mengingat bapak mertuanya yang baik ternyata sudah meninggal. "Kamu baik-baik saja Devi?" Nanta balik bertanya dan Devi mengangguk. "Yah aku baik-baik saja, Anta Sena dan Anta Reja yang membuatku harus baik, terima kasih mas sudah menyertakan mereka dalam perutku, karena mereka ada maka aku kuat dan bertahan sampai sekarang,  jika kamu berkali-kali mencoba dengan yang lain,  aku tidak ingin mencoba,  aku takut, aku ngeri membayangkan harus hidup dengan orang lain dan merasakan sakit lagi, biarlah, cukup Sena dan Ejak di sisiku," ujar Devi sambil menunduk hanya sesekali menatap wajah Nanta yang sebenarnya sangat ia rindukan,  ingin memeluknya lagi namun hati Devi melarang karena walau bagaimanapun mereka terlalu lama berpisah ada rasa canggung untuk memulai lagi. Nanta menggeser duduknya lebih dekat, meraih bahu Devi agar lebih dekat ke badannya. Dan perlahan mendekatkan hidungnya ke ujung kepala Devi, menyesap harumnya perlahan sambil memejamkan mata. "Aku merindukanmu Devi,  sangat," ujar Nanta dengan suara tercekat menahan tangis. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN