Bab 05 - Mulai Balas Dendam

969 Kata
Reynard menjatuhkan dirinya ke kursi kebesarannya, ia memutar kursi itu hingga dapat menikmati pemandangan kota besar yang dipenuhi dengan gedung-gedung bertingkat yang saling berlomba mencakar langit. Sebenarnya, Reynard telah bosan dengan pemandangan itu. Rasanya ingin sekali menjauh dari kota besar yang padat untuk healing sejenak di kota terpencil, namun memiliki pemandangan yang luar biasa indah. Sebagai relaksasi dirinya dari padatnya jadwal pertemuannya dengan para relasinya. Mungkin nanti, setelah Reynard berhasil membalaskan dendamnya pada Zevanya. Agar ia bisa sepenuhnya kembali menjadi dirinya yang dulu lagi. "Bagaimana? Wanita itu mau bicara jujur pada anda, Tuan Reynard?" tanya Marco sambil menyerahkan beberapa lembar dokumen yang harus Raymond tandatangani. Reynard terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari kedatangan asisten pribadinya itu. "Seperti dugaan saya. Wanita itu terlalu pengecut untuk mengakuinya, Marc. Bahkan dia tidak mengenali saya sama sekali! Bisa kau bayangkan itu? Siapa yang bisa dengan mudah melupakan wajah saya? Tidak ada sebelumnya!" jawab Reynard dengan dongkol. Sepanjang pertemuannya dengan Zevanya tadi, berkali-kali Reynard harus menahan dirinya untuk tidak mencekik leher jenjang wanita itu. Atau mengguncang bahunya untuk memaksanya mengakui semua kejahatannya pada Reynard tujuh tahun yang lalu. Tapi, kalau Reynard memberitahunya lebih awal, rencana balas dendamnya pastinya tidak akan berjalan sesuai dengan rencananya. Bisa dipastikan Zevanya akan langsung melarikan diri lagi, dan kali ini belum tentu Reynard dapat dengan mudah menemukannya. "Wanita pintar. Karena kalau dia mengakuinya, maka bisa dipastikan penjara akan menunggunya. Atau besar kemungkinan wanita itu memang tidak mengenali anda, Tuan. Berdasarkan cerita anda, malam itu suasana kamar gelap gulita 'kan?" gumam Marco. Ya, bisa jadi. Reynard pun sempat terpikirkan ke arah sana. Tapi, menuntut Zevanya adalah hal terkahir yang akan Reynard lakukan. Ia akan menyiksa wanita itu lebih dulu, sebelum membiarkannya membusuk di penjara. Bahkan ia dapat meminta beberapa tahanan wanita untuk menyiksa Zevanya di sana. Cepat atau lambat, Zevanya akan memilih mengakhiri hidupnya. Reynard tidak akan memberikan wanita itu pilihan lain, seperti wanita itu tidak memberinya pilihan untuk menolak penyatuan mereka enam tahun lalu. Reynard akan memaksakan semua penderitaan pada Zevanya, seperti wanita itu memaksa Reynard menyerahkan keperjakaannya padanya. Membayangkan akan semenderita apa Zevanya nantinya, membuat sudut bibir Reynard membentuk senyuman sinis. "Bagaimana dengan kakak laki-laki wanita itu? Masih berusaha bekerjasama dengan Star Group?" "Ya, setelah kita menolak proposalnya tempo hari, perwakilan perusahaannya kembali mengirim proposal lainnya, dan sepertinya kali ini mereka percaya diri sekali kalau kita akan menyetujuinya." "Kedua kakaknya hidup berkecukupan, kenapa Zevanya malah sibuk menghidupi dirinya sendiri? Kau harus segera mencaritahunya, Marco! Berikan padaku profile seluruh anggota keluarganya!" perintah tegas Reynard. "Baik, Tuan. Mengenai penempatan Zevanya, di lantai berapa wanita itu akan bekerja?" "Di lantai ini." "Apa anda yakin? Anda begitu membencinya, apa tidak masalah jika anda melihatnya setiap saat? Saya takut hal itu akan mempengaruhi suasana hati anda, Tuan." "Justru karena saya ingin memulai pembalasan dendam saya, maka saya harus menempatkan wanita itu langsung di bawah pengawasan saya! Saya akan menikmati setiap detik kesengsaraan wanita sialan itu!" "Ah ya, saya mengerti. Lalu, di ruangan mana dia akan ditempatkan?" "Mungkin di pantry dan toilet." "Maksud anda, wanita itu akan bekerja sebagai cleaning service?" Reynard menangkap nada tidak percaya di dalam pertanyaan Marco itu. "Tepat seperti itu! Pastikan tidak ada waktu istirahat untuknya. Dan jangan biarkan wanita itu santai, terus berikan pekerjaan untuknya!" tegas Reynard. "Baik, Tuan." Zevanya, nerakamu akan dimulai hari ini! Sementara itu di bagian HRD. "Cleaning service?" tanya Zevanya dengan nada tidak percaya. Meski hanya memiliki ijasa strata satu, tapi Zevanya lulus dengan nilai IPK yang sempurna, ia mendapatkan predikat Summa Cumlaude di salah satu universitas bergengsi di kota besar itu. Dan posisi yang Star Group tawarkan padanya hanyalah sebagai cleaning service? Yang benar saja? "Ya, cleaning service. Kamu bisa baca surat kontrak ini sebagai pertimbanganmu untuk mengambil keputusan nanti." Salah satu staff recruitment itu memutar surat kontrak menghadap Zevanya. Dan Zevanya pun mulai membacanya. Isinya nyaris sama dengan surat kontrak kerja lainya, hanya saja saat membaca bagian salary, kedua matanya nyaris saja melompat keluar, "Dua puluh juta?" tanyanya dengan nada tidak percaya. Berkali-kali ia mengerjapkan matanya untuk menghitung ulang setiap nol di belakang angka dua itu. Kalau memang sebesar itu nominal yang akan ia terima, maka gajinya jauh lebih besar dari yang Zevanya dapatkan di perusahaan sebelumnya, padahal posisinya saat itu sebagai Supervisor. Lagipula, selama tidak menjual diri dan halal, Zevanya akan menerima apa pun bentuk pekerjaannya. Apalagi dengan salary sebesar itu. "Kalau anda setuju, sebesar itulah pendapatan yang akan anda terima. Tentunya dengan total jam kerja yang jauh berbeda dengan cleaning service biasanya. Jam kerjamu tergantung CEO kita, kalau Tuan Reynard bekerja lembur, maka kamu pun akan lembur juga. Dengan kata lain, kamu cleaning service yang ditempatkan secara khusus di lantai ruangan Tuan Reynard berada, Dan hanya dikhususkan untuk melayani beliau," jelas staff itu. Bodoh kalau Zevanya menolak tawaran menggiurkan itu. Lagipula, seberat apapun pekerjaan cleaning service, pastinya tidak akan jauh berbeda dengan yang Zevanya kerjakan di rumahnya setiap harinya. Dan CEO super ngaret yang Zevanya temui barusan, tidak akan selalu berada di kantor 'kan? Bahkan mungkin seperti CEO di perusahaan Zevanya sebelumnya, yang jarang sekali terlihat batang hidungnya, kecuali jika ada rapat penting saja. Jadi, tanpa membaca lagi kelanjutannya, Zevanya langsung mengambil ballpoint yang tergeletak di atas meja dan langsung membubuhkan tandatangan di atas namanya. Ia membalik kembali surat kontrak itu ke staff recruitment di depannya. "Kalau begitu, tugas saya sudah selesai. Kamu bisa mulai bekerja besok. Dan pastikan kamu masuk sebelum jam tujuh pagi. Jika kamu harus masuk lebih awal lagi, kami akan menginformasikan segera padamu. Harap ponselmu selalu dalam posisi stand by!" "Baik, Bu. Saya janji akan bekerja dengan sangat baik, sebagai bentuk terima kasih saya karena sudah diberi kesempatan menjadi bagian dari Star Group." "Ya, sudah seharusnya seperti itu. Dan satu hal lagi, jika Tuan Reynard membutuhkanmu bahkan di jam istirahatmu maupun di luar kantor, kamu harus segera bergegas menemui beliau. Mengerti?" "Ya, Bu. Saya mengerti."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN