Hera tersadar dari lamunannya ketika seorang pelayan membawakan pesanannya. Hera tersenyum tipis, "Terimakasih." Dia menghela nafas, dan kemudian mengusap wajahnya. Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Tidak. Perasaan ini tidak boleh muncul kembali. Sudah cukup, perasaan ini seharusnya lenyap," kata Hera tekad. "Perasaan apa? Perasaan dengan tunanganku maksud kamu Hera?" Hera menoleh dan melihat wanita dengan dress minim berwarna dongker, bersama dengan sepatu tinggi yang mencapai mungkin satu jengkal tangan mungilnya. Dia mendekat, dan tersenyum ke arah Hera, lalu duduk didepannya. "Apa kabar, adik Romeo?" Hera mengeraskan rahangnya, "Ngapain lo kemari, bukannya lo harusnya sadar, kalau Kakak gue itu udah ngebuang lo!" kata Hera sarkas. Nindy, wanita berusia dua puluh empat tahun

