Setelah pulang dari Hongkong, Sri mencoba bersikap biasa saja. Meski hatinya selalu ingin mengajaknya perang karena setiap dia menemui Romeo, jantungnya dua kali lebih cepat dari biasanya. Memang betul, Sri bisa menahannya. Tapi, lama - lama seluruh energinya terkuras untuk menahan rasa debaran di jantungnya dan ingin pingsan. Sri, wanita itu hanya duduk didepan meja makan dan matanya terus mengerjap. Tangannya diam hanya memegang sendok besi. Rosa, yang duduk didepan wanita itu menatapnya heran. "Sri, kamu tidak ingin sarapan? Saya lihat kamu hanya memegang sendok dan melamun saja?" Sri yang tersadar menoleh ke arah Rosa dan tersenyum kikuk, "Haha, ndak Bu Rosa. Sri hanya anu-" Tiba - tiba Romeo datang dan berdiri tepat dihadapan Sri. Dia menatap sang Mamah dengan tatapan datar se

