“Satu pertanyaan gampang, siapa yang nyuruh kalian nyulik Cinta?” Altaf berdiri di hadapan kedua pria yang terikat erat di kursi kayu. Ia berdiri tegap, kedua tangan bertolak pinggang, tatapannya menusuk tanpa ampun. “Sebut namanya, maka hukuman kalian akan dikurangi,” timpal Bias yang berdiri di samping Altaf. Jika Bias tidak berada di samping Altaf, kedua pria yang ada di hadapan mereka pasti sudah lebih dulu babak belur. Kakak iparnya itu sungguh terlihat emosi dan hampir tidak bisa mengontrol amarahnya. Sementara Bias, harus bisa menjadi pengendali agar mereka tidak ikut tersangkut masalah hukum. Sebenarnya, bukan masalah hukum yang Bias khawatirkan, karena hal itu bisa ia bereskan dalam sekejap mata. Namun, Bias lebih khawatir jika media mencium perbuatan mereka yang main hakim se

