Bab 8

3042 Kata
teguran cinta Mau sebagaimana pun kau meragukan ku, tetap saja aku ini adalah tulang rusuk mu. Karena itu janganlah kau patahkan aku atau kau kelak tidak akan mungkin berdiri tegak kembali.   Sabrin membanting kuat pintu mobil ketika sampai didepan rumahnya. Lalu berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Fatah seorang diri di dalam mobil. Mereka baru saja bertengkar hebat kembali. Setelah Imam membela Sabrin ketika reuni tadi, Sabrin mempertanyakan kemana perginya Fatah yang hanya diam saja tanpa membantu sedikit pun. Sabrin kecewa dengan Fatah yang tidak melakukan apapun. Setidaknya Fatah mencoba menengahi atau membela dirinya. Tapi suaminya itu hanya diam dan berkali-kali menghembuskan nafas lelah. Terkadang Sabrin berpikir apa menikah dengannya membuat laki-laki itu frustasi? Apa sebegitu buruknya dia sampai Fatah tidak bisa membela sedikit pun? Fatah mengetuk pintu sebelum masuk kedalam kamar. Keadaan cahaya kamar malam ini begitu gelap. Sabrin sepertinya enggan untuk menyalakan lampu. Dari dalam kamar mandi terdengar gemericik air yang Fatah yakini ada Sabrin di dalamnya. Tubuhnya berjalan pada ranjang mungil disudut ruangan kamarnya itu. Tempat tidur berbentuk box kecil dengan banyak gambar mobil yang menghiasi. Tidak ada tanda-tanda Syafiq disana. Kemungkinan besar anaknya itu tidak tidur di sini malam ini. Fatah tahu sejak sore Syafiq sudah dititipkan kepada sang adik, Umi. Karena itu sudah bisa dipastikan Syafiq masih bersama mereka saat ini. Pintu kamar mandi terbuka hingga seberkas cahaya redup terlihat mengisi kegelapan kamar mereka malam ini. Di sana Sabrin keluar sudah mengganti semua pakaian yang tadi dia kenakan dengan baju tidur berbahan sutera lembut yang sangat nyaman dipakai untuk tidur. Dalam kegelapan Fatah menyaksikan pergerakan istrinya yang terlihat tidak peduli. Bahkan ketika Sabrin melewatinya untuk duduk di kursi di depan meja rias, tidak ada satupun dari mereka yang ingin bersuara. Hingga Sabrin sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Fatah masih menatap istrinya itu. Hembusan nafas lelah terdengar kembali darinya, kemudian dia berjalan menuju kamar mandi. Sebelum berbicara dengan Sabrin, semua amarahnya harus dilenyapkan terlebih dahulu. Dia tidak ingin kata-kata yang menyakitkan keluar dari mulutnya untuk istri yang paling dia cintai. Setelah usai membasuh dirinya, Fatah ikut berbaring di ranjang. Dia memiringkan tubuhnya menghadap Sabrin yang membelakangi dirinya. Bisa dia lihat punggung perempuan yang menjadi istrinya itu begitu kecil dan sangat terlihat rapuh. Tapi bukan berarti Sabrin perempuan lemah. Karena baginya Sabrin telah berhasil mengambil jalan hidup menjadi lebih baik. Dia bisa membuktikan kepada sang Pencipta bahwa dia pantas menjadi istri sebaik Aisyah untuk Fatah selama ini. “Sayang..” Sabrin masih diam tidak merespon suara Fatah. “Mas tahu kamu belum tidur. Berbalik lah mas ingin berbicara sesuatu.” Sebelah tangannya membalik tubuh Sabrin. Saat Fatah bisa menatap wajah istrinya, disana kembali terlihat air mata yang begitu Fatah benci. Air mata yang tidak seharusnya dikeluarkan oleh Sabrin. “Mas ingin minta maaf kembali pada mu." di usapnya perlahan pipi Sabrin dengan ibu jarinya. Namun air mata itu tak kunjung reda. “Hust. Jangan menangis lagi sayang. Mas tidak ingin melihat air mata dari mu. Itu terlalu menyiksa ku.” Fatah merengkuh tubuh Sabrin kedalam pelukkannya. Akan tetapi Sabrin semakin menangis cukup kuat didalam dekapan Fatah. Rasa kecewa yang sejak tadi tertanam dalam dirinya kini semakin menjadi. Mengapa Fatah baru merengkuh dirinya dalam dekapan? Mengapa bukan sejak tadi ketika dia begitu terlihat rapuh di kampus. “Ai, dengarkan mas baik-baik. Bukannya mas tidak ingin membela mu sayang. Bukan seperti itu. Tolong hapus pemikiran negatif mu tentang mas.” “Tapi mas Fatah sama sekali gak mencoba untuk melindungi ku tadi.” Sabrin meluapkan kekesalannya kembali. Dia ingin melepas pelukan Fatah tetapi tidak diijinkan oleh kedua lengan kokoh Fatah. “Jangan lepaskan pelukan ini sampai amarah mu reda.” Tegasnya. “Keluarkan semua amarah mu Ai, mas akan mendengarkan segala yang kamu tidak suka dalam diri mas.” “Sabrin gak suka mas Fatah diam saja. Sabrin benci sama sikap mas Fatah yang seakan-akan gak peduli sama Sabrin. Harusnya mas Fatah membela ku tadi. Harusnya mas Fatah menjelaskan kalau aku udah berubah. Bukan diam saja dan membenarkan semuanya.” Isaknya sambil memaki-maki. “Bukannya mas tidak ingin membela mu sayang. Bukannya mas tidak peduli. Sungguh bukan itu. Demi Allah kau adalah segalanya. Tidak mungkin mas seperti itu kepada mu. Tolong pahami posisi mas, di sini mas harus mencoba mengerti segala situasinya. Dimana yang menjadi topik adalah istri mas sendiri dan istri dari sahabat mas.” Jelas Fatah. Jemarinya mengusap lembut punggung Sabrin untuk menenangkan isak tangis yang tidak kunjung reda. “Tapi Sabrin gak mau mas Fatah begitu. Sabrin mau mas Fatah seperti mas Imam. Dia begitu melindungi apa yang dia sayang. Bukannya memang seperti itu tugas mas? Sebenarnya aku ini seberapa penting sih buat mas?” “Ai, mas dan mas Imam itu berbeda.” Ucapnya dengan nada yang mulai terpancing kemarahan. “Sekarang mas minta pisahkan sifat membanding-bandingkan mu itu. Mas Imam itu kakak kandung mu, dan mas ini suami mu. Posisi kami berbeda. Kami sama-sama melindungi namun dengan cara yang berbeda. Jika yang terlihat bagimu hanya mas Imam saja yang melindungi dirimu, lalu apa kamu tidak merasakan betapa sangat besarnya mas melindungi mu? Bukan dari perempuan-perempuan seperti tadi namun lebih kepada api neraka. Karena mas tidak mau ibu dari putra ku merasakan hal yang paling menyakitkan itu.” Sabrin hanya diam, dia bisa mendengar suara Fatah yang bergetar. Tapi Sabrin tidak berani memastikan apa Fatah turut menangis sepertinya atau tidak. “Mungkin bagimu itu semua hanya omong kosong. Mas tidak masalah. Yang terpenting semua yang mas lakukan adalah yang terbaik untuk kedepannya. Ingat Ai, kita hidup di dunia hanya sementara. Tidak perlu kamu pusingkan masalah dunia mu, masalah dengan orang-orang disini. Tapi pikirkan lah bagaimana kehidupan mu setelahnya.” “Tapi mas... aku cuma ingin orang-orang tahu aku punya suami yang selalu melindungi.” Rengeknya. Sudut bibir Fatah tertarik, dia tersenyum mendengar rengekkan dari Sabrin. “Kamu ingin orang lain tahu mas melindungi mu, atau Allah yang tahu mas selalu menjaga mu dengan baik?” “Tentu Allah.” Sahutnya cepat. “Bila itu yang kamu inginkan, untuk apa orang lain tahu. Bukannya Allah lebih penting dari segalanya?” “Ih, tapi kan mas.” Sabrin kembali protes tidak suka. Fatah mencium kening Sabrin, kemudian dia merenggangkan pelukan diantara mereka. “Jangan suka protes seperti anak kecil. Kamu itu bukan anak kecil lagi sayang. Ingin terlihat ‘WAH’ didepan orang lain untuk apa?” “Biar orang lain tahu ada suami sempurna seperti mu” kekeh Sabrin disela-sela isak tangisnya. “Aku tidak sempurna sayang. Aku memiliki banyak kekurangan. Namun ketika ada kamu ada disisi ku, kekurangan ku tergantikan dengan kelebihan mu. Sehingga semua orang menilai ku sempurna. Namun pada kenyataannya aku hanya seorang suami dan seorang ayah seperti yang lainnya” “Pakai merendah segala.” Cibir Sabrin. Dia kembali memeluk tubuh Fatah dengan erat. Pelukan seperti ini memang obat mujarab ketika mereka berdua tengah bertengkar seperti tadi. Karena efek yang ditimbulkan setelah berpelukan adalah perasaan lebih tenang dan lebih nyaman kepada pasangan. “Tadi minta dilepas, sekarang peluk-peluk.” Goda Fatah sambil tertawa lebar. “Biarin. Kan peluknya suami sendiri bukan suami orang lain. Kan kata mas bermesraan dengan pasangan halal itu pahala.” “Memang pahala. Apapun itu yang dilakukan pasangan suami istri adalah pahala. Mas kan pernah bilang, menikah itu ibadah yang pahalanya tidak akan pernah habis sepanjang hidup.” “Ya sudah jangan protes kalau Sabrin peluk mas begini. Kan Sabrin mau nabung pahala. Kira-kira sudah berapa ya pahala ku” kekehnya merasa geli sendiri. Umurnya tidak semuda dulu lagi. Namun Sabrin menyadari sifatnya itu sulit untuk dirubah. “Biar Allah yang menilai semuanya.” Jawab Fatah. Kedua tangannya kembali merengkuh Sabrin kembali dalam pelukkannya sebelum kedua matanya terpejam. "Maafkan mas.." *** Sinar mentari sudah bersinar terang memasuki jendela-jendela rumah Fatah. Jendela-Jendela itu sengaja dibuka agar terjadi proses pertukaran udara yang baik saat pagi hari. Udara sejuk pagi hari terasa memasuki setiap ruangan di dalam rumah ini, tak terkecuali ruang keluarga dimana nampak Syafiq tengah berlari-lari sambil memegang sesuatu ditangannya. “No, Syafiq. Jangan ponsel om. Nanti kalau ada yang mau hubungi om gimana?” “Pinjem om.” Teriak Syafiq ketika Hans berhasil menangkap anak laki-laki itu. “Aaaahhhh.. om lepas.. lepas..” “Kembalikan dulu, baru om lepas.” “Ndak..Ndak” Teriakan Syafiq makin keras didengar. “Syafiq jangan teriak-teriak nak.” Sabrin menghampiri putranya yang sudah diciumi oleh Hans sampai terdengar Syafiq memohon ampun untuk dilepaskan. “Ibuuuu. Tolong..” tubuh bocah laki-laki itu berlari menghampiri Sabrin setelah dilepaskan oleh Hans. Dia bersembunyi dibalik kaki Sabrin sambil mengintip kearah paman nakalnya itu. “Kamu jangan nakal dong sayang. Itu kan punya om. Kan punya Syafiq ada.” “Punya Sapik udah ndak bunyi Bu.” Adunya. “Nanti minta ayah untuk dibenarkan. Biar bisa bunyi lagi ya. Sekarang Syafiq bangunkan ayah dulu sana. Terus ajak sarapan” Syafiq langsung menurut kemudian berlari-lari dengan langkah kaki kecilnya menaiki tangga dan masuk kedalam kamar. Sabrin yang menyaksikan hal itu hanya bisa tersenyum bahagia. Dia tidak ingin berjanji terlalu berlebih kepada dirinya untuk menjadi lebih baik kedepannya, tapi saat ini dia ingin melakukan semaksimal mungkin untuk malaikat kecilnya itu. Serta untuk suami yang begitu dia cintai. “Kak Sabrin ngeliatin apa?” tanya Umi yang ingin menghampiri suaminya. “Bisa Mi, ngeliatin duplikat mas Fatah.” Sahut Hans dengan nada bercanda. “Semalem kan puas ngeliatin yang gede. Karena yang kecil kan kita sita dari kemarin.” Kekeh Umi. “Tapi kemarin Syafiq gak nakal kan Mi?” “Kak Sabrin, mau seberapa nakal pun Syafiq. Buat Umi sama Hans dia tetap keponakan laki-laki milik kami. Dia tetap Syafiq walau mungkin banyak orang tidak suka dengan kenakalannya. Tapi kami sebagai paman dan bibinya tidak akan membencinya atau meninggalkannya. Karena hanya pada keluarga dia akan kembali.” “Tumben kamu bijak mi” Cibir Sabrin. “Itu yang mas Fatah selalu bilang, walau sejak dulu dia tidak pernah membela ku didepan orang banyak. Tapi aku tahu dia orang yang akan selalu sayang pada ku. Tanpa aku balas pun, dia akan selalu seperti itu.” Ucapnya sambil mengingat-ingat kehidupannya ketika kecil. “Masa?” Sabrin mendekati Umi dan Hans. Dia mulai tertarik dengan pembicaraan pagi ini. Karena yang menjadi topik utamanya adalah suami tercinta. “Iya. Memangnya mas Fatah pernah di depan teman-teman ku berubah jadi super hero? Gak. Dia gak akan pernah berlaku seperti itu. Pernah waktu masih sekolah dulu, saat aku ribut dengan teman sekelas ku. Dia hanya diam dan memperhatikan. Sosoknya menjadi kakak kelas yang sempurna dimata semua murid begitu menghipnotis. Tapi tidak bagi Umi. Dia kakak yang berbeda dari yang lain. Kadang aku iri kalau lihat yang lain selalu dibela dan didukung sama kakaknya. Tapi sekarang aku mengerti kenapa mas Fatah seperti itu” “Memangnya kenapa dia kayak gitu Mi?” “Karena dia ingin aku belajar bagaimana berjuang dalam beratnya hidup. Tapi dibalik itu semua tanpa aku sadari dia sudah melindungi ku. Dengan apa? Dengan doa. Bagiku doa itu segalanya.” “Kamu tahu dia doain kamu?” Sabrin terus mencari tahu bagaimana sifat Fatah sejak dulu. Dan Umi lah yang sangat cocok menjadi memberikan informasi. “Awalnya aku kecewa kak, tapi setelah aku ribut dengan teman ku lagi. Gak sengaja aku dengar mas Fatah berdoa. Dalam doanya nama ku selalu dia sebut. Dia meminta kepada Tuhan agar aku diberikan kesabaran lebih dan lebih. Bukan meminta aku menjadi lebih baik atau menang melawan orang lain. Dia hanya minta kesabaran untuk ku.” Kekeh Umi. Dia menahan air mata yang ingin mengalir dari kedua matanya saat ini. “Cuma kesabaran kak. Dan setelahnya aku tahu, mas Fatah lebih mencintai dan menyayangi aku dibandingkan diriku sendiri. Kenapa aku bilang begitu, karena aku sadar untuk apa aku ribut dengan teman ku. Bukannya semua masalah bisa dibicarakan baik-baik. Keributan itu salah satu cara setan untuk menggoda manusia. Saat itu aku sadar aku tidak pernah mencintai diriku sendiri.” “Istri ku lagi pinter.” Goda Hans. Laki-laki ini mencoba mengusir suasana haru dipagi hari. “Jadi seperti itu. Terima kasih Mi untuk ceritanya.” “Bayar ya kak Sabrin” kekeh Umi. Sabrin tertawa sembari menggelengkan kepalanya. Dia kembali mendapatkan ilmu baru dalam hidupnya. Bila melindungi itu tidak harus dengan otot, namun masih banyak cara lain yang bisa digunakan. Salah satunya adalah doa. *** Ketika semuanya sudah berkumpul diruang makan, Fatah mulai memimpin doa untuk memulai sarapan pagi ini. Dia meraih kedua tangan Syafiq yang berada diatas pangkuannya, kemudian dia mengadahkannya keatas sambil memulai doa. Fatah sengaja melakukan ini agar putranya itu ingat bila ingin berdoa. “Gimana Rin kemarin reuni nya? Lancar?” mama memulai bertanya kepada menantunya itu tentang acara kemarin. “Alhamdulillah lancar ma. Pak Menteri nya juga hadir kok kemarin.” “Menteri teknologi dan komunikasi itu harus hadir dong, kan dia juga alumni kampus itu.” Sambung mama. “Iya ma, jadi rasanya reuni itu juga bisa memberikan ilmu lebih.” Kekeh Sabrin sambil mengingat-ingat apa saja ilmu yang dia dapat. “Kak Sabrin lagi kelihatan bahagia tuh ma, lihat aja ketawa terus.” Goda Umi. “Bagus dong kakak mu bahagia, kamu gimana sih nduk.” Fatah yang duduk disamping Sabrin melirik kearah wajah istrinya itu. Sinar-sinar bahagia bisa dia lihat dari kedua mata Sabrin. Mata yang semalam memancarkan kesedihan kini sudah bersinar kembali. Ribuan syukur Fatah ucapkan dalam hati. Karena memang wajah bahagia seperti ini yang ingin selalu dia lihat setiap harinya. Bukan banjir air mata seperti semalam. “Berarti mas mu bisa membahagiakan istrinya.” Papa ikut menimpali percakapan pagi ini. “Terus menurut papa Hans gak bisa buat Umi bahagia.” Gerutu Umi tidak suka. “Papa tidak pernah berkata seperti itu. Kamu saja yang berpikir negatif kepada papa. Sekarang papa tanya memangnya ada orang tua yang ingin anaknya tidak bahagia?” “Ya gak ada lah” sahutnya sambil menggigit potongan roti. Dia kesal jika selalu seperti ini. Suaminya, Hans, selalu menjadi yang terburuk diantara suami-suami dalam lingkungan keluarga mereka. “Kalau kamu tahu tidak ada. Kenapa kamu bisa berpikiran begitu ke papa?” Tidak ada jawaban dari Umi. Dia menundukkan kepala menyesali kata-katanya tadi. “Sudah-sudah. Sedang sarapan masih saja ribut” Mama tidak ingin perdebatan berlanjut dalam pembahasan ini. “Bahagia atau tidak itu kembali kepada diri masing-masing. Bisa tidak dirimu mensyukuri atas semua yang terjadi. Jika bisa maka kebahagiaan lah yang dapat kau rasakan. Tapi bagi mas kelihatan bahagia dimata orang lain itu tidak penting, karena yang lebih penting itu merasa bahagia dalam dirimu sendiri. Apalagi dalam kehidupan berumah tangga, kelihatan harmonis untuk bisa dibanggakan kepada orang lain tidak penting. Karena ada yang lebih penting dari itu ketika menjalani kehidupan berumah tangga.” “Apa mas?” potong Umi cepat. “Kerukunan dalam rumah tangga. Jadi jangan pernah merasa diatas angin saat orang lain menilai kehidupan rumah tangga mu harmonis namun pada kenyataannya didalam hubungan itu tidak ada kerukunan satu sama lain.” Jelas Fatah. Dia tersenyum sekilas kepada Sabrin yang sedang menatapnya dalam diam. Kemudian dia kembali melihat Umi yang merasa belum puas dari penjelasan dirinya. “Tidak perlu pencitraan didepan orang lain untuk bisa dihormati. Karena sesungguhnya apa yang terpancar adalah refleksi dalam dirimu sendiri. Sekarang ini banyak sekali orang-orang yang mengambil jalan pintas untuk terlihat baik didepan orang lain. Tapi sebenarnya dalam dirinya tidak melakukan perubahan apapun. Karena itu lebih mudah dilakukan oleh semua orang. Namun bagi mas semua itu tidaklah berarti apa-apa. Karena segala sesuatu yang berarti itu sangat perlu diusahakan dengan penuh tanggung jawab. Namun segala sesuatu yang tidak perlu diusahakan biasanya tidak pernah berarti” tutupnya. Mama tersenyum bahagia kepada putranya itu. Dia bangga Fatah bisa menjadi anak yang baik baginya, kakak yang baik bagi Umi, suami yang baik untuk Sabrin serta ayah yang terbaik untuk Syafiq. “Thats true. I’m agree with you mas.” Sahut Hans sambil mengangkat kedua ibu jarinya. “Wow mas Fatah memang Top. The best deh buat mas ku yang satu ini.” Kekeh Umi. Fatah kembali tersenyum sembari menggenggam tangan Sabrin dengan erat. “Kemarin mas mendapat mendapat teguran dari seseorang dan dari sana mas belajar kalau hidup mas ini masih sangat banyak yang perlu diperbaiki.” “Apalagi mas yang harus diperbaiki? Mas Fatah itu sosok yang sempurna.” “Kamu salah Mi, mas ini cuma manusia biasa. Mas bukan Tuhan. Jadi sudah pasti mas memiliki banyak kekurangan. Mungkin selama ini semua orang menilai mas dari ketaatan mas kepada Allah dan kecintaan mas kepada Allah. Maka dari itu mas dibilang oleh mereka semua sempurna. Dan semalam Allah menegur mas melalui sosok orang yang terdekat dalam hidup mas. Mungkin mas terlalu terlena akan semua pujian dari orang-orang sampai cara yang mas lakukan untuk orang yang mas cintai  dianggap tidak berarti. Dan dari sana mas sadar untuk apa orang diluar sana melihat mas sempurna sedangkan orang yang berada paling dekat dengan mas merasa tidak bahagia.” “Tunggu-tunggu biar Umi tebak siapa yang negur mas, pasti Kak Sabrin.” “Iya, dia yang menegur ku.” “Tuh Mi, tegur aku juga.” Sela Hans. “Kamu mah ditegur juga sama aja. Buang-buang tenaga.” Kesal Umi. “Sudah-sudah. Kamu itu Nduk, jaga sedikit sikap mu didepan suami.” Nasihat mama. “Ih mama kok jadi aku sih.” “Mi, dengarkan mas. Keluarga adalah tempat mu bertumbuh dan saling mendukung. Saling berdoa untuk kebahagian satu sama lain, saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, saling mengingatkan bila salah. Karena itu jika ada yang mengingatkan mu jangan marah atau kesal. Tapi coba Pahami mengapa mereka menegur mu. Dan cobalah introspeksi diri” “Iya-Iya mas. Umi paham.” Gerutunya. “Dan jangan mendumel seperti itu.” Sambung Fatah kembali. Dia masih saja tersenyum walau setengah mati Umi kesal padanya karena menggodanya dengan nasihat-nasihat seperti itu. Tetapi yang lebih bahagia atas semua penjelasan Fatah pagi ini adalah Sabrin. Dia bersyukur Fatah menerima semua protesnya semalam. Dan mencoba yang terbaik untuk kehidupan rumah tangga mereka kedepannya. Karena jalan hidup tidak selamanya lurus, akan ada saatnya gelombang hidup hadir menghampiri ditengah dua manusia yang saling melengkapi satu sama lain. Kita bisa belajar terbang seperti burung di udara. Kita bisa belajar berenang seperti ikan di lautan. Tapi saat ini aku ingin mengajak mu belajar berjalan dengan baik di atas kehidupan rumah tangga kita untuk saat ini dan kedepannya nanti. ---- continue.. masih mau lanjut baca?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN