"Sini." Riri mengambil selang dari tangan James lalu membersihkan lantai. Sekarang lantai sudah bersih meski air sedikit tergenang. James mengambil selang dari tangan Riri dan hendak mematikan keran. Tapi mendadak James terpeleset, Riri menahan James tapi ternyata tubuh James berat dan akhirnya mereka berdua terjatuh. Air mengalir di atas tubuh mereka.
"James... sakit!" Riri memukul badan James agar menyingkir dari atas tubuhnya.
James menyingkir dengan segera, kasihan ia menduduki tubuh Riri."Maaf."
keduanya bertatapan lalu tertawa karena sekarang mereka basah kuyup.
"Kamu mandi sana, udah sore." james berdiri dan mematikan keran.
Riri mengangguk dan pergi. James memandangnya dari kejauhan sambil meneguk salivanya. Tubuh seksi itu kini tercetak jelas karena kaos putihnya basah kuyup. Bahkan, James dapat melihat bentuknya dengan jelas. James menggelengkan kepala berusaha menghilangkan pikiran negatifnya.
Setelah urusan di luar beres, James hendak ke kamarnya untuk mandi. Lagi-lagi ia dikejutkan dengan pemandangan yang tak biasa. Riri keluar dari kamar mandi James, hanya mengenakan handuk.
"Ri... aku salah kamar, ya?"
Riri terdiam, melihat sekeliling dan ternyata ia yang salah kamar. ia pikir ini kamar Jason. Karena untuk menuju kamarnya lumayan jauh, ia sudah tak sanggup berjalan karena kedinginan.
"A... aku pikir ini kamar Jason, maaf."
"Kamar kamu kejauhan,ya? Ya sudah... mending di kamar aku lah, daripada di kamar Jason. ya sudah... aku mandi dulu." James langsung masuk.
Riri memerhatikan kamar James, dinyalakan televisi dan ia nonton dengan santainya.
"Riri kamu masih di sini?" James mendekati Riri dan duduk di sebelahnya.
Riri mengangguk saja lalu kembali menonton. James melirik Riri. Entah keberanian dari mana, James memegang kedua pundak Riri, menatapnya intens.
"J... James?"
James mendekatkan wajah mereka, jarak yang semakin menipis membuat napas mereka bertabrakan. Mata indah James mampu meluluhkan Riri. Seakan terhipnotis, Riri memejamkan mata dan itu menjadi sinyal bagi James untuk melanjutkan niatnya. Ia mengecup bibir Riri sekilas. Kemudian ia menginginkannya lagi dan lagi. Ia melumat bibir Riri dan Riri mampu membalasnya. Tangan kekar James menarik tubuh Riri hingga ke pangkuannya. Handuk yang ia pakai melorot sedikit.Tangan James mulai bergerilya dengan leluasa dengan sekali sentakan handuk Riri lolos dari tubuhnya.Mereka b******u mesra, meluapkan rindu yang selama ini terpendam. Mereka dipertemukan ketika mereka mulai menginjak dewasa, mengagumi fisik masing-masing. Terutama James yang begitu kaget melihat perubahan yang signifikan dari tubuh Riri.
Gerakan-gerakan erotis mereka membuat suasana semakin memanas. Ciuman-ciuman yang menuntut lebih akhirnya berlanjut. Mereka sama-sama polos. Hingga akhirnya James menembus pertahanan Riri.
"James...." panggil Riri lemah.
"Iya,Ri?"
"Aku kehilangan milikku," ucap Riri lirih.
James mengecup kening Riri."Ma...maaf, Ri."
"Tapi,aku menyukainya."
Ucapan Riri barusan membuat James tertawa geli."Maaf, Ri..., tapi... melihatmu...aku seperti ingin memilikimu."
Riri tersenyum, kemudian meringis karena ia merasakan sakit di pangkal pahanya.
"Ayo ke kamar mandi, biar aku bersihkan," kata James saat melihat bercak darah menempel di miliknya." James membopong Riri, membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"James... apa setelah ini kamu akan ninggalin aku?" tanya Riri saat ia akan pulang ke Indonesia. Liburannya telah usai. Satu bulan itu terasa begitu cepat. James jadi lebih sering di rumah, menghabiskan waktu bersama Riri di kamar. Mereka bercinta sepanjang hari saat tak ada siapapun di rumah.
"Aku akan selalu ada buat kamu, Honey." Sebutan Honey itu disematkan pada Riri. Sikap Riri yang manis seperti madu saat di ranjang. Sejak saat itu, mereka adalah dua insan manusia yang saling membutuhkan. Baik James maupun Riri mampu saling memuaskan dan ketergantungan sampai sekarang. Riri mampu mengerti James, begitu sebaliknya. Tapi, sekarang Riri pergi bersama pria lain, setengah hati James seakan hilang. Hidup James terasa hampa.
****
Setelah seharian bersama, Damar memutuskan kembali ke rumah. Namun, kali ini ia membawa Riri ikut serta menemui kedua orangtuanya.
"Kamu yakin mau bawa aku ke rumah?" tanya Riri ragu. Kini mereka tengah berdiri di depan rumah.
Damar mengangguk."Aku sudah berjanji, kan, sayang. Aku akan berusaha agar kita terus bersama. Kamu harus kuat, ya... siapkan mental kamu jika ada ucapan orangtuaku yang tidak mengenakkan."
Riri mengangguk meski ia tak yakin. Damar membawa Riri masuk. Pintu sudah terbuka ketika mereka datang. Riri menelan salivanya karena seluruh anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tamu.
"Assalamualaikum," ucap Damar.
"Damar...." Devi tersenyum pada Damar dan Riri. Ia bersyukur keduanya dalam keadaan baik-baik saja.
"Ada apa membawa dia ke sini? Jadi, kamu menghilang sama dia?" tanya Ibu Damar.
"Bu, jangan bicara begitu. Jaga kondisi kesehatan Ibu." Devi mengingatkan," kalian duduk, lah."
Damar menarik Riri dengan paksa agar mau duduk. Riri menunduk.
"Pak, Bu..., Damar mencintai Riri. Damar ingin Riri yang jadi isteri Damar. Bukan wanita lain," jelas Damar.
Devi tersenyum bangga melihat keberanian adiknya yang berani berterus terang. Berani mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Tidak seperti dirinya yang pasrah ketika dijodohkan dengan pria yang tak ia kenal, hingga berujung perceraian.
"Kami tidak setuju."
"Bu, biarkan Damar memilih sendiri. Damar sudah dewasa." Devi menambahkan.
"Devi... yang Ibu tanya itu Damar," kata Ibu.
"Bu, justru itu...Devi enggak mau Damar ngalamin apa yang Devi rasain. Menikah sama orang yang enggak kita cintai, buktinya Devi diceraikan, Bu," kata Devi yang kini justru menangis mengingat betapa sakitnya saat ia dijodohkan.
"Sekarang itu beda,Damar, kan cowok." ucap Ibu.
"Bu... Damar mohon! Damar sudah dewasa, bisa menentukan pilihan dengan restu Ibu dan Bapak tentunya." Damar berlutut di kaki Ibunya.
Riri terperangah, kini air matanya mengalir melihat pengorbanan Damar.
Air mata sang Ibu mengalir, ia terisak sambil memgang kedua pundak Damar."Nak..., kami selalu menginginkan yang terbaik untuk kamu. Apapun... kami akan berikan asal membuat kamu bahagia."
Damar mendongak."Jadi, maksud Ibu....?"
Ibu mengangguk."Kami... merestui kalian."
Damar memeluk Ibunya dengan erat. Tangis mereka pecah. Devi memeluk Riri.
"Kemarilah, Nak...." Bapak memanggil Riri.
Devi mengarahkan Riri ke arah Bapak. Riri mengangguk, perlahan ia mendekat.
"Berbahagialah kalian." Bapak memeluk Riri dan secara bergantian memeluk Ibunya. Ruangan itu dipenuhi dengan tangis kebahagiaan. Ibu dan Bapak Damar berusaha menerima keputusan Damar, meskipun ada hal lain yang sedang mereka pikirkan. Tapi, di balik dinding sana seorang wanita tengah mengusap dadanya, menangis perih,berusaha menerima kenyataan yang ada.
Usai kejadian itu, Ibu dan Bapak Riri pergi beristirahat. Tinggallah Riri, Damar, dan Devi.
"Kalian berhasil. Kakak senang. Segera urus pernikahan kalian."
"Terima kasih, kak,telah mendukung kami," kata Riri.
"Kekuatan cinta kalian, lah,yang membuat segalanya menjadi lebih baik. Selanat untuk kalian." Devi tersenyum menatap pasangan itu.
"Iya, kak. Terimakasih. Semoga kakak juga menemukan kebahagiaan kakak." Damar memeluk Devi.
Devi mengangguk."Ya sudah... kakak ada urusan, kalian pergilah keluar sebentar, cari angin. Sore ini Bapak dan Ibu pulang."
Riri mengangguk.
"Ayo kita keluar, kita jalan kaki saja keliling komplek. Damar menarik Riri agar berdiri.
Riri terdiam menatap Damar.
"Gimana perasaan kamu?" tanya Damar.
"Masih sedikit shock, tapi... aku bahagia. Terima kasih telah memperjuangkan aku, Sayang." Riri menangkup wajah Damar.
"Sesuai janjiku, Sayang." Damar memeluk Riri.
Riri mengangguk senang, kini mereka berpelukan bahagia. Di balik kebahagiaan mereka, ada luka yang semakin dalam yang tak mereka ketahui.
"Maaf, kami tak bisa membantumu,Nak. Kami sudah berusaha." Ibu Damar mengusap pundak Ayu.
Ayu mengangguk."Tidak apa-apa, Bh, saya tau... Bapak dan Ibu sudah berusaha. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Kalau memang Damar itu jodoh Ayu,kami pasti bertemu."
"Iya, Nak, kamu yang sabar, ya. Maafkan kami, kita tidak bisa memaksakan Damar. Bagaimana pun ... saat ini, ia hanya mencintai Riri," ucap Bapak Damar.
"Kuatkan hatimu, Ayu. Semua akan baik-baik saja."
Ayu mengangguk, berusaha menguatkan hatinya, berusaha tidak menangis tapi sayangnya ia tak sekuat itu. Hatinya sungguh rapuh saat ini.
Dua insan yang tengah berbahagia itu kini berjalan ke taman komplek. Damar menggenggam tangan Riri dengan erat.
"Ngapain ke sini?" Tanya Riri.
"Menghirup udara segar, lagipula di rumah juga enggak tau mau ngapain," jelas Damar.
"Sebenarnya ... tadi itu rumah siapa, sih? Bapak sama Ibu tinggal di solo, kan?" Tanya Riri memastikan.
Damar berpikir, berusaha mengingat."Itu... kalau tidak salah rumah teman Ibu sejak jaman sekolah. Tapi, sudah jarang ditempati karena mereka tinggal di luar kota. Katanya kemarin Ibu minta izin pinjam rumah itu untuk istirahat."
Riri mengangguk."Iya, sayang... eh aku mau makan itu." Riri berlari ke arah penjual bakso. Damar mengikuti Riri sambil tersenyum. Senyuman bahagia Riri kini tersemat setiap detiknya, itu yang membuat Damar jauh lebih bahagia.