Bab 5

1040 Kata
“Aku cuma ngetes dia aja,” ucap Nina santai sambil mengangkat bahu. “Pengen tahu dia bakal percaya sama aku atau enggak. Itu doang.” Ratna langsung menghembuskan napas panjang, seolah beban di dadanya baru saja terangkat. “Astaga, Nina. Ada-ada aja kamu ini. Mama hampir aja kena serangan jantung. Kalau jantung mama beneran copot gara-gara kamu, mau tanggung jawab gimana, hah?” Nina terkekeh kecil. “Nggak, Ma. Aku nggak akan biarin itu terjadi.” Ratna masih menatapnya lekat, belum sepenuhnya tenang. “Tapi serius deh. Kamu beneran nggak nolak perjodohan kamu sama Arya? Kamu bener-bener mau nikah sama dia?” tanyanya memastikan, suaranya lebih pelan tapi penuh selidik. Nina mengangguk tanpa ragu. “Iya, Ma. Serius.” Ia bahkan tersenyum tipis. “Lagian Arya cocok kok dijadiin suami. Ganteng, pinter, tinggi lagi. Nggak ada kurangnya sama sekali. Wanita mana sih yang nggak mau sama dia? Aku malah bakal beruntung kalau jadi istrinya.” Tatapan Ratna berubah aneh—antara heran dan curiga. “Tumben banget kamu muji dia,” katanya sambil menyipitkan mata. “Ada angin apa ini? Biasanya kamu jelek-jelekin dia terus. Kesambet apa kamu?” Nina berdecak kesal, merasa tak terima. “Jelek-jelekin salah, muji juga salah. Menurut Mama, aku harus ngapain sih ke dia?” “Bukan gitu maksud Mama,” Ratna cepat membela diri. “Mama cuma heran aja. Baru beberapa hari lalu kamu nolak dia terang-terangan di depan keluarganya, sekarang tiba-tiba muji-muji. Mama takutnya kamu salah makan atau kenapa-kenapa.” Nina menghabiskan suapan roti terakhirnya dengan tenang. “Ya terserah Mama mau mikir apa,” ujarnya santai. “Anggap aja aku salah makan. Tapi mulai sekarang Mama harus biasain denger aku muji dia.” Ratna terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Mama sih seneng dengernya. Karena itu yang Mama harapkan dari dulu. Mama pengen banget kamu bisa akur sama Arya.” Ia menghela napas pelan. “Kamu tahu sendiri kan, Mama sama Papa udah lama bersahabat sama orang tuanya Arya. Kita ini udah kayak satu keluarga besar. Kalau kamu menikah sama dia, hubungan kita bakal makin erat.” Nina meneguk jusnya sampai habis, lalu meletakkan gelas kosong ke atas meja. Ia berdiri sambil meraih tasnya. “Iya, iya, aku ngerti, Ma. Aku berangkat ke kantor dulu ya.” “Iya. Hati-hati di jalan,” balas Ratna. “Iya, Ma.” **** Begitu pintu rumah tertutup di belakangnya, Nina langsung mengembuskan napas panjang. Senyum dan nada santai yang ia pakai di depan Ratna perlahan luruh, digantikan raut wajah datar yang sulit ditebak. Bahunya sedikit turun, seolah beban kepura-puraan akhirnya dilepas. Ia melangkah cepat menuju mobilnya, menekan kunci hingga terdengar bunyi bip singkat. Setelah duduk di balik kemudi, Nina belum langsung menyalakan mesin. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Kata-katanya sendiri tadi terngiang di kepalanya—tentang Arya, tentang pernikahan, tentang keyakinan yang ia paksakan terdengar meyakinkan. Entah untuk ibunya… atau untuk dirinya sendiri. Beberapa detik kemudian, mesin mobil dinyalakan. Nina mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Jalanan pagi itu cukup ramai. Deretan kendaraan bergerak perlahan, klakson sesekali terdengar bersahutan. Ia sempat menyalakan radio, namun buru-buru mematikannya kembali. Terlalu berisik. Pikirannya sudah cukup penuh. Tangannya meraih ponsel di kursi sebelah. Layar menyala, menampilkan deretan nama kontak. Jarinya sempat ragu sebelum akhirnya berhenti di satu nama. “Halo, Nin. Pagi,” sapa Tomi di seberang sana. “Pagi,” jawab Nina. “Gimana kerjaan kamu? Udah beres?” “Udah dong. Tinggal siapin jadwal Bu Bos cantik ketemu sama Pak Arya yang ganteng,” ucap Tomi dengan nada bercanda. Nina langsung mencebikkan lidahnya. “Cih. Asal kamu tahu, aku baru aja muji dia di depan Mama.” Tomi tertawa kecil. “Kedengarannya menyiksa.” “Mau gimana lagi,” sahut Nina. “Mama cuma pengen aku nikah sama dia. Kalau aku terus memberontak, aku takut benar-benar dicoret dari daftar pewaris.” Tomi terdiam sesaat, lalu terdengar tersenyum kecil. “Kamu cuma mau terima perjodohan supaya Arya yang nolak, kan? Bukan benar-benar setuju.” “Menurut kamu,” jawab Nina datar, “setelah aku membenci dia sejauh ini, apa aku kelihatan bakal jatuh cinta sama dia?” “Mungkin nggak,” jawab Tomi yakin. “Itu dia,” balas Nina. “Udah ya. Sambung lagi nanti. Sampai ketemu di kantor.” “Oke, Bu Bosku yang cantik.” Nina tersenyum kecil mendengar pujian itu, lalu memutuskan panggilan dan meletakkan ponselnya kembali ke dashboard. Setibanya di kantor, Nina langsung memarkir mobilnya dan turun. Ia melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah percaya diri, tanpa menyadari bahwa dari kejauhan, seorang pria dengan ekspresi datar tengah memperhatikannya dari balik kaca gelap—berdiri di tempat yang tersembunyi, tak terlihat oleh siapa pun, termasuk Nina sendiri. ***** Ruang kerja Arya berada di lantai paling atas gedung utama Diaskara Group. Dinding kaca membentang dari lantai hingga langit-langit, menampilkan panorama kota yang sibuk—namun tak satu pun cukup menarik perhatiannya saat ini. Arya duduk di balik meja kerjanya, jas abu-abu gelap terpasang rapi, kancing kemeja tertutup sempurna hingga atas. Sebuah tablet terletak di sisi kanan, sementara laptop di depannya menampilkan laporan keuangan kuartal terakhir. Jemarinya bergerak cepat di atas layar sentuh, sesekali berhenti untuk menandai angka-angka yang tak sesuai ekspektasi. “Margin proyek cabang Surabaya turun hampir tiga persen,” ucapnya datar tanpa mengangkat kepala. Sekretarisnya, Dinda, yang berdiri di seberang meja, refleks menegakkan punggung. “Iya, Pak Arya. Tim operasional menyebutkan ada kendala logistik di awal proyek, tapi—” “Alasan,” potong Arya singkat. Ia akhirnya mengangkat pandangan. Tatapannya tajam, tenang, dan sama sekali tidak memberi ruang untuk berkelit. “Saya mau solusi. Bukan cerita.” “Baik, Pak.” Dinda segera mengangguk. “Saya akan minta mereka revisi strategi distribusi dan mengirim laporan pembaruan sebelum jam empat sore.” Arya memberi anggukan kecil. “Pastikan.” Dinda mencatat cepat di tabletnya, lalu menarik napas tipis sebelum melanjutkan. “Ada satu agenda lagi, Pak. Jadwal makan siang dengan pihak Star Company sudah dikonfirmasi. Jam satu.” Jari Arya berhenti tepat di atas keyboard. Nama perusahaan itu jelas bukan nama asing baginya. Ekspresinya tetap datar, namun ada jeda singkat yang terlalu halus untuk disadari siapa pun—kecuali dirinya sendiri. “Dengan siapa?” tanyanya tenang. "Nona Gianina Ratnadewi.” jawab Dinda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN