"Kamu mau kita udahan?" Reynard kembali melayangkan pertanyaan itu. Aku benar-benar bingung. Kesalahanku karena telah mengatakannya dan memancing emosinya, tapi aku hanya ingin dia memahami kalau ini adalah salah satunya jalan keluar untuk masalah yang tengah kami hadapi saat ini.
"Sekarang aku tanya, kamu mau apa enggak? Orang tua aku pengen ketemu sama kamu," timpalku
"Ketemu? Kenapa kamu bersikeras sih, Tan? Ini ga seperti kamu. Aku belum siap buat nanggung resiko apa yang bakalan kita hadapi kalau aku ketemu mereka. Aku rasa ini belum waktu yang tepat."
"Terus kapan waktu yang tepat itu? Ga bakal ada, Reyn karena kita bakalan tetep stuck di satu titik aja, ga bakalan pernah maju kalau gada pergerakan sama sekali. Apa si susahnya ketemu sama orang tua aku? Dia cmn pengen tau gimana bentuk keseriusannya kamu. Kalau kamu nolak terus gimana aku bisa percaya kalau kamu itu bener-bener tulus dan serius sama aku?"
"Entah gimana caranya aku buktiin ke kamu kalau aku bener-bener tulus sama kamu. Aku sayang banget sama kamu, sayang banget malah tapi aku cuma takut ketika nanti aku dateng kesana aku justru di paksa mundur sama orang tua kamu. Kita beda agama, perbedaan yang sangat jauh. Pasti bakalan sulit banget buat orang tua kamu nerima aku."
Aku menunduk, itulah yang saat ini aku khawatirkan. Aku takut akan hal yang sama.
"Terus sampai kapan aku harus nunggu kepastian dari kamu? Aku udh capek gini gini terus. Dan satu-satunya jalan keluarnya kamu harus temuin orang tua aku."
"Kamu terus maksa aku buat ketemu mereka, kamu emangnya udah siap buat kehilangan aku?"
"Reynard, kita coba dulu." Aku menatap mata Reynard lekat-lekat seraya menggenggam tangannya. "Kita ga pernah tau apa yang bakalan terjadi, tapi intinya aku bakalan tetep berdiri di samping kamu."
Aku tidak tau apa yang saat ini ada di pikirannya, tapi ku harap ia akan setuju.
"Yaudah, kalau kamu bersikeras aku bakalan setuju buat ketemu sama mereka. Tapi satu hal yang mesti kamu pahami baik-baik kalau aku ga bakalan bertanggung jawab apapun kalau mereka minta kita sudahi hubungan kita kar—"
"Kita harus yakin. Makasih dan maaf aku udh sita waktu kamu yang berharga itu," ucapku.
"Kapan aku ketemu?"
"Nanti malam."