Hari yang Berat

1315 Kata
Sejak papah bilang mau ketemu sama Reyn, tidurku mulai tidak bisa nyenyak. Aku mulai merasa takut dan khawatir secara berlebihan, mungkin. Tapi bagaimana bisa aku bersikap biasa saja kalau seperti ini? Papah benar-benar ingin menemui Reynard. Bagaimana bisa aku bicara dengan Reynard, kalau aku saja dengannya sedang marahan. Aku yakin kalau pun kami baik-baik saja ketika ku ajak dia pasti akan menolak, itu sudah pasti. Reynard benar-benar tidak ada usahanya untuk memperjuangkan aku, katanya ia serius tapi aku tidak melihat bentuk keseriusannya. Ia selalu saja punya alasan untuk menolak apapun yang aku katakan, terlebih lagi soal bertemu Papah dan Mamah. Saat ini aku berada di ruanganku, duduk diam menyatukan tangan sembari menatap ke arah pintu dengan tatapan kosong. Entah sudah berapa lama aku ada disini duduk melamun memikirkan langkah apa yang akan ku ambil selanjutnya. Entah aku harus mengikuti perkataan Desi atau tidak. Jika aku tidak mempertemukan Papah dengan Reyn, Papah pasti akan marah besar. Mungkin benar dengan apa yang telah Desi katakan bahwa ini kesempatan yang baik bagi kami untuk menunjukkan keseriusan kami terhadap hubungan ini, tapi Reyn bagaimana dengan dirinya? Jujur saja situasi ini membuatku ingin muak. Aku benar-benar tidak menduga bahwa hari ini akan tiba dan pada akhirnya aku mau tidak mau harus siap untuk menerimanya. Tok tok tok!! Pintu ruangan ku terbuka, terlihat Desi datang dengan membawa beberapa dokumen. "Hai? Aku bawa beberapa arsip file yang kamu minta tadi," ucap Desi sembari menaruh dokumen itu di mejaku. Setelah itu, ia duduk di kursi tepat di hadapanku. "Kamu masih ngelamun. Masih mikirin soal kemaren ya?" tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. "Udah - udah, jangan terlalu di pikirin ya." "Gimana aku ga mikirin? Setiap kali aku pulang ke rumah aku pasti ketemu papah dan papah selalu nanyain, kapan kamu bawa laki-laki itu ke rumah, papah selalu ngomong gitu. Aku bener-bener bingung harus gimana," jawabku sembari mengusap-usap kepala. "Ya jawabannya tetep sama, yaitu kamu harus segera temuin Reyn dan minta dia ketemu sama papah kamu, cuma itu jalan keluarnya, Tan. Please jangan mikir lagi, selama kamu nunda - nunda terus aku yakin papah kamu bakalan kurang respect kalau sewaktu-waktu kamu temuin mereka. Ayoo, kamu pasti bisa." Desi selalu saja bisa membuatku semangat, walaupun terkadang ucapannya selalu menjadi alasanku untuk bersedih tapi tetap saja dibalik itu semua apapun yang ia katakan itu benar dan tidak ada yang salah. Aku terdiam, ucapannya membuatku berpikir bahwa aku harus segera mengatasi semuanya dalam waktu cepat. Masalahku dengan Reyn harus ku atasi sesegera mungkin dan mulai membicarakan keinginan papah untuk menemuinya. "Jadi gimana? Kamu bakalan tetep diem aja dan nunggu Reyn yang bergerak walaupun kita gak tau kapan atau kamu sendiri yang mulai cari jalan keluar untuk masalah kalian?" tanya Desi. Ia menatapku dengan tatapan serius, ia sepertinya sangat menunggu jawaban yang memuaskan keluar dari bibirku. "Iya. Aku bakalan berusaha secepatnya buat cari jalan keluar masalah aku sama Reyn, tapi jujur aja aku bingung mau gimana lagi. Aku ga bisa nunggu dianya yang bergerak 'kan? kalaupun aku nunggu ga bakal ada apa-apa yang bakalan terjadi," ucapku menjelaskan. "Iya, aku setuju. Kamu harus yakin sama hubungan kamu. Jangan setengah-setengah. Kamu pasti bisa lewatin ini semua. Jangan biarin 5 tahun kamu sama Reyn berakhir sia-sia," tukas Desi. Aku mengangguk mengiyakan. "Yaudah, aku pamit dulu ya tadi aku bawa file ini aja yang kamu minta. Aku masih ada urusan buat ngecek kamar edelweis." "Yaudah, hati-hati ya." Desi pun pamit untuk kembali bekerja, Desi memang selalu punya cara untuk membuatku merasa lebih baik. Aku akhirnya mulai menjalankan tugasku, mengecek satu demi satu arsip kesehatan para pasien. Rata-rata yang ku temui untuk pasien lanjut usia adalah stroke, hipertensi, diabetes, dan juga penyakit jantung. Penyakit ini juga banyak merenggut nyawa. Aku menutup arsip kesehatan terakhir lalu menyimpannya. Ku lirik jam yang melingkar pada pergelangan tanganku, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dimana jam ini adalah waktu ku untuk memeriksa/mengecek pasien untuk menanyakan bagaimana kondisinya dan juga mengetahui gejala-gejala yang mereka rasakan. Saat membuka pintu, rupanya sudah ada 3 orang perawat yang sudah menungguku. 1 orang perawat pria dan 2 orang perawat wanita yang masing-masing diantara mereka membawa buku beserta peralatan medis. "Kalian udah nunggu lama?" tanyaku untuk memulai pembicaraan. Mereka mengangguk bersamaan. "Kenapa ga masuk aja?" tanyaku lagi. "Tadi kita mau masuk Dok, cuman ga enak aja soalnya dokter keliatan sibuk banget baca sesuatu. Kita takut ganggu," jawab salah satu diantara mereka. "Ga sibuk-sibuk banget sih. Cuman baca arsip kesehatan pasien, bukan hal besar. Lagian kalau kalian masuk kan kalian ga bakal nunggu lama, iya kan?" "Iya, dok." sahut mereka hampir bersamaan. "Yaudah, kita langsung aja ya? Kalian yang dampingin saya kan?" "Iya, dok." "Yaudah, ayo!" Kami berjalan menelusuri sepanjang lorong koridor rumah sakit. Aku berjalan di depan dan mereka menyusul dari belakang. Jujur saja aku sedikit tidak nyaman jika di perlakukan seperti ini tapi ketika ku ajak untuk jalan beriringan mereka menolak, katanya tidak sopan. Ruangan tujuan pertama kami adalah ruangan Anggrek, disana tempat pasien yang baru di Operasi dan hendak di Operasi. Pasien pertama yang aku cek adalah seorang pria paruh baya, yang mungkin seumuran dengan papah. Dia mengidap stroke. Gejalanya meliputi gangguan penglihatan, gangguan berbicara, mengalami kelumpuhan dan masih banyak lagi. Banyak hal yang perlu diperhatikan untuk mengatasi penyakit stroke, seperti makan makanan yang sehat, hindari mengonsumsi makanan yang berkadar minyak tinggi, rajin berolahraga, tidur yang cukup, mengelola stress dan juga sering memeriksakan kondisi kesehatan kepada dokter spesialis agar mendapatkan perawatan yang lebih maksimal. Pasien selanjutnya adalah seorang anak perempuan yang mengidap penyakit tumor otak stadium III. Dia adalah Caca, gadis yang baru berumur 16 tahun. Usia yang terbilang sangat muda. Ketika aku melihat matanya menatapku, terlihat banyak sekali harapan yang ia torehkan, yang terkadang membuatku merasa takut dan cemas. "Hai, Caca," sapaku dengan penuh semangat yang ku harap bisa memberikan efek positif padanya. "Hallo dok," jawabnya dengan lemah. "Gimana perasaan kamu sekarang, kamu masih kenal saya 'kan?" Dia tidak menjawab, ia hanya menatapku. Sekarang ku alihkan pandanganku ke arah orang tuanya. "Bu, ibu udah dapet informasi belum kalau anak ibu mau di pindahin ke ruangan ICU?" "Iya, dok. Tadi udah di sampaikan." "Okey, jadi si adek butuh perawatan lebih intensif nih, butuh penanganan lebih ketat lagi makanya di pindahin ke ruangan ICU. Ibu ga usah khawatir ya, nanti semuanya akan di urus oleh Darma." Aku melirik Darma yang merupakan pendamping dokter yang ikut bersamaku. "Makasih banyak ya dokter." "Iya, sama-sama. Doain yang terbaik buat si adek ya bu. sebentar lagi pasien akan di pindahkan, jadi ibu siap siap aja." Kulirik Caca sekilas, ia masih menatapku dengan tatapan sayu. Aku akhirnya berpamitan lalu segera menuju ke ruangan para perawat yang khusus menjaga di ruangan anggrek. Aku datang dengan perasaan campur aduk. Saat aku tiba terlihat mereka tengah berbicara. "Caca pasien kamar A3 kenapa ga dipindahin ke ruangan ICU dari kemaren-kemaren?" tanyaku dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya. "Belum ada perintah dari dokter Wahyu, dok." jawab salah satu perawat. "Iya, saya tau Caca pasiennya dokter Wahyu tapi apa kalian ga pernah ikut ngecek kondisinya? Seharusnya Caca udah ada di kamar ICU dari lama. Kok baru mau di pindahin hari ini? Itu pun saya yang nyuruh baru di pindahin. Kalian ini gimana sih? Inikan tanggung jawab kalian. Setiap hari kalian keluar masuk ruangannya, kok ga ngecek-ngecek kondisi Caca yang semakin hari semakin memburuk?" "Maaf, dok." "Pokoknya saya ga mau tau, setuju tidaknya kalian hari ini Caca udah di bawa ke ICU, ini bukan permintaan tapi ini perintah," ucapku dengan tegas. "Siap, dok. Kami akan minta perawat laki-laki buat segera—" "Segera? Nggak, saya mau sekarang. Detik ini juga. Saya ga peduli kalian lagi istirahat atau enggak, pokoknya sekarang." Usai mendengarkan ocehanku masing masing dari mereka mulai melakukan aksinya, ada yang bertugas menghubungi kepala bagian perawat ada juga yang mulai mengecek Caca. Aku menoleh ke arah Darma, "Kamu saya kasih tugas untuk pastiin kalau Caca aman, dan baik-baik aja. Sekarang kamu kesana, saya mau jalan lagi sama yang lain." "Siap, dok."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN