Eheeem Mantap

1182 Kata
“Ayo, cepat. Sudah belum? Kenapa lama sekali? Sedang apa kamu di dalam, sih?!” Ambar merasa dirinya sedang diburu-buru, padahal suasana di dalam kamar mandi itu sangatlah gelap. Ambar saja hampir salah pegang, tadinya ingin mencari letak shower, nyatanya yang dipegang malah benda lain, entahlah benda apa itu kenyal dan lengket. “Ya ampun, lama sekali. Saya masuk kalau kamu tidak menjawab, Ambar!” padahal dirinya tak mampu untuk melakukannya. “Awwww, aduh.” Mendengar suara teriakan dari dalam membuat Tuan Father kesal sendiri, di satu sisi dia ingin sekali menolongnya tetapi di sisi lain bagaimana caranya? Berdiri saja tidak bisa, jangankan untuk menolongnya. Tuan Father hanya bisa berteriak untuk memastikan keadaan wanita itu, di dalam sana memang sangatlah gelap, Ambar diperintahkan untuk membawa ponsel pun tidak mau, padahal itu bisa sedikit membantu agar lebih terang dengan menggunakan cahayanya. “Tuan, apakah aku lama?” “Akhirnya kamu ke luar juga, kenapa bisa lama sekali? Apa yang terjadi di dalam sana? Tadi saya mendengar suaramu seperti berteriak, ada apa?” “Nggak ada apa-apa, Tuan. Itu cuma rasa parno aku aja kok, lagian kenapa banyak sekali mainan anak-anak di dalam bathtub. Aku terkejut karena sempat menyentuhnya, rasanya kenyal ternyata sebuah mainan bebek-bebekan.” Ternyata sial, Tuan Father lupa untuk menyimpannya terlebih dahulu, dia sendiri tidak tahu kejadiannya akan seperti sekarang, tadinya dia berpikir bahwa Ambar tidak akan masuk ke dalam kamar mandinya, nyatanya semua itu salah. Membuatnya malu sendiri karena sudah tertangkap basah oleh Ambar, yang saat ini bisa dia lakukan adalah bersandiwara seolah-olah dirinya tidak tahu apa-apa mengenai semua mainan di dalam sana, toh Ambar orangnya pasti akan langsung percaya begitu saja, dia itu sangatlah polos. “Tuan? Apa itu semua punyamu?” “Ah, tidak mungkin. Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Usia saya sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengoleksinya, jadi jangan berpikir seperti itu lagi.” “Masa, sih? Di rumah ini bukannya hanya ada Tuan aja, ya? Iya, kan? Dan katanya juga ... pada malam hari hanya tinggal seorang diri, karena Al akan pulang ke rumahnya sendiri yang ada di Jakarta ini, hayo? Benar, kan?” “Kamu terlalu banyak bicara, saya tidak mau menjawabnya, cepat! Bantu saya untuk kembali tidur,” titah Tuan Father yang mulai kehabisan alasan. “Maksudnya bagaimana, Tuan? Bantu tidur? Diboboin?” “Ah, ya ampun Ambar ... maksudnya itu bantu saya merebahkan tubuh ini di atas ranjang seperti semula, bagaimana, sih, kamu itu. Lemot banget,” cicitnya. Ambar merasa bukan dirinya yang lemot tetapi tuannya sudah salah berbicara, hanya bisa mengiyakan saja apapun perkataannya, toh semua boss akan selalu benar walaupun dirinya sedang berbuat kesalahan sefatal apapun itu. Begitu nyaman sekali berada di dalam kamar seluas itu, semua tidak ada yang buruk, walaupun saat ini suasananya gelap, tetapi Ambar masih bisa merasakan kenyamanannya. Dia masih setia berdiam diri di dekat pintu sembari menunggu hari esok, berbeda dengan Tuan Father yang kini sudah menyanda di atas bantal nya. “Kenapa kamu masih diam di situ? Tidur lah di sofa, jangan mempersulit dirimu sendiri. Jangan sampai sakit juga, karena kalau kamu sakit, nanti siapa yang akan rawat saya? Al sangat sibuk di perusahaan orang tua, jangan banyak ....” “Begini, kan? Oke baiklah, malam ini aku akan tidur di sofa, jangan lupa kalau udah terbuka pintunya, langsung bangunkan aku, Tuan.” Lah? Kenapa dia langsung menurut, padahal sebelumnya dia selalu menyebalkan, hmm mungkin dia juga merasa tidak nyaman jika tidur di lantai, makanya dia sudah berpikir, ya, mungkin saja begitu. Belum lama sekali mereka berbicara, tetapi sekarang suara menyebalkan itu sudah terdengar sangat jelas, membuat Tuan Father sebagai tuan rumah tidak bisa tidur sama sekali semalaman, suara ngoroknya Ambar benar-benar menganggu sampai subuh pun belum juga berakhir. “Ahhhh, pegal-pegal sekali tubuh ini, pasti karena semalam belum tidur jadi seperti ini.” Baru saja dirinya akan tenang karena sudah melewati malamnya dengan cepat tak terasa, tetapi nyatanya itu semua salah, dugaannya lagi dan lagi berbeda dengan ekspektasi. Ambar bangun lalu berjalan menuju ke ranjangnya Tuan Father, kedua matanya masih terpejam menikmati ilernya sendiri, bibir itu terus saja menjilatinya sendiri, Tuan Father sampai mual melihatnya. “Eh, kamu mau apa? Aaaah tidak, jangan tidur di sini, aduh bagaimana ini? Andai saja saya mampu berdiri pasti sudah langsung saya pindahkan dia ke sofa lagi, tapi ....” “Oh, pangeran ku. Kenapa kamu belum juga memelukku? Ummm ini apa? Empuk dan nyaman sekali.” Ambar meremasnya, membuat empunya kelimpungan sendiri mencari solusi bagaimana untuk menghentikannya, Ambar sangat menyukai d**a berbulunya itu. Bahkan sampai tidur di atasnya, walaupun dalam keadaan tidak sadar tetap saja Tuan Father yang sadar! Dan dia tidak terima itu. “Ambar, ayolah ... pindah ke sofa lagi, kita tidak seharusnya tidur satu ranjang seperti ini, apa kamu tidak takut? Ayolah, bangun sebentar saja.” Tidak! Bukan Ambar yang saat ini terbangun melainkan domba junior di bawah sana tiba-tiba terbangun karena saat ini kedua kaki Ambar sudah tertempel sangat menempel di sana dengan tepat, benar-benar menyiksa laki-laki normal sepertinya. “Ya, ampun ... kenapa pakai bangun segala, saya harus bagaimana ini? Ambar ... hei, bangun lah. Sadar dong ini bukan posisi yang benar untuk tidur, saya ... ahhhh tidak jangan diremas.” *** Tarik napas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan, terus saja melakukan hal itu sampai pagi hari, Ambar sangatlah nyenyak karena semalaman dia sudah bisa mendapatkan posisi tidur yang ternyaman seumur hidupnya, berbeda dengan kondisi mental Tuan Father, sangat tertekan dan masih sangat syok apalagi saat kembali mengingat bagaimana Ambar meremasnya untuk pertama kalinya, benar-benar sangat memalukan. “Loh? Kenapa aku di sini? Aaaaah, nggak mungkin! Tuan? Kenapa kamu di sini?” Sungguh pertanyaan yang sangat bodoh, seharusnya itu yang ditanyakan oleh tuannya bukan dirinya. “Bagaimana? Sudah puas nyonya? Minggir, saya tidak bisa bernapas lagi jika kamu seperti ini,” cecar Tuan Father yang berusaha untuk menyingkirkan tubuh Ambar dari tubuhnya. Ambar ketakutan sendiri karena saat dirinya terbangun langsung melihat bagaimana keadaan keduanya, Tuan Father pun hanya memakai kaos saja tidak memakai hoodie yang semalam dia pakai, apa yang sudah terjadi pada mereka? Ambar langsung bangkit dan mengecek seluruh tubuhnya, melihat semua itu tentu saja ditertawakan oleh tuannya. “Hei? Apa yang kamu cari? Saya semalam tidak ....” “Aaaa kenapa celana ku ada bercak darahnya? Kenapa selimut ini pun banyak darahnya? Tuan ... apa yang udah kita lakukan semalam?!” teriak Ambar sampai menggemparkan dunia. “Ssst, tutup mulutmu itu, jangan sembarangan berbicara. Saya tidak melakukan apapun padamu, untuk apa saya melakukan itu semua? Lagian kamu bukan selera saya! Dan kamu sendiri yang tidak sopan naik ke ranjang majikan seperti itu!” “Apa? Kamu bilang? Aku? Yang naik ke ranjang kamu? Bukan aku! Ini darah apa, ya, Allah ... apa ini darah keperawanan ku? Nggak ... nggak mungkin!” “Kamu stress, ya?” tanya Tuan Father dengan polosnya. “Ini jelas-jelas darah keperawanan aku, Tuan! Jahat! Jahat! Aku nggak mau tahu! Pikirkan sesuatu! Pikirkan!” Terus saja Ambar merengek seperti anak kecil, jangankan untuk memikirkan sesuatu yang harus diputuskan, merasa sudah melakukannya saja tidak, toh semalaman yang ternoda itu bukan Ambar, melainkan sebaliknya, Tuan Father sangat ternoda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN