▪️Chap 1▪️

1129 Kata
-Satu kebencian di masa lalu, akan menghancurkan kehidupan di masa depan- ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Derap langkahnya terhentak cepat. Napasnya tersengal dan mulutnya terus bergumam penuh harap. Ia tak peduli akan peluh yang menetes. Membuat perih di mata yang tengah deras mengalirkan air mata. Meski banyak kendaraan cepat seperti kereta layang atau bus kilat, ia tetap mengandalkan sepasang kaki yang tak memiliki tenaga super. Semua ia lakukan, untuk menghentikan sebuah acara menyedihkan di pusat ibukota. Beberapa kali langkahnya terseok. Bahkan lututnya tampak penuh goresan dengan aspal karena tersandung. Namun, luka-luka yang ia dapatkan tak terasa perih. Hanya hatinya yang terasa pedih setiap mengingat ucapan sosok yang amat ia sayangi. "Besok, Mom akan berhenti bersama kalian. Jaga diri baik-baik, ya, Honey." "Mom, bertahanlah! Kumohon," gumamnya entah sudah berapa ratus kali. Langkah seribunya terhenti saat melihat sekumpulan manusia yang bersorak menonton sebuah acara. Bukan acara konser atau pidato sang presiden, melainkan acara penghakiman seorang wanita tua berumur 45 tahun. Tubuh rampingnya menyerobot masuk ke lautan manusia-manusia yang penuh aura kebencian. Meski beberapa kali ia dimaki bahkan didorong sana-sini, ia tetap tak peduli dan berharap takkan terlambat. "Hei, kau! Jangan halangi pandanganku, Dasar Ja*ang!" Begitulah umpatan yang ia terima beberapa kali. Entah apa bagusnya acara penghakiman yang merujuk ke sebuah acara hukum mati seseorang tak bersalah. Jika ia tak memikirkan cara untuk menghentikan penghakiman itu, semua umpatan yang ia terima akan dibalasnya dengan ribuan hantaman. Namun, yang ia pedulikan saat ini adalah ... keselamatan sang ibu. "Mom ...," gersahnya sembari terus menyisir segerombol manusia yang ia rasa tiada ujung. DUAR Langkahnya mendadak terhenti ketika telinganya menangkap sebuah suara. Pelatuk yang tertarik dan melesatkan sebuah peluru. Wajahnya menengadah ke langit. Telinganya terasa tuli seketika saat mendengar sorakan gembira para manusia yang mengelilinginya. DUAR Tarikan pelatuk yang kedua membuat lututnya melemas. Namun, ia masih mampu menopang tubuhnya. Lagi-lagi, sorakan kegembiraan terasa begitu menyayat hati. DUAR Ketiga kali, ia tak sanggup lagi untuk berdiam diri. Saat langkahnya tertuju masuk ke area penghakiman, langkah para manusia lain meninggalkan area penghakiman. Aura kepuasan tersebar memenuhi tempat terkutuk itu. Bahkan ia merasa muak melihat senyuman lebar yang tercetak di wajah para manusia yang ia lewati. Menyesakkan. Menyakitkan. Ia tak mampu lagi menahan derai air mata yang sempat tertahan di benteng kelopak. Menetes bahkan terasa mengguyur pipinya dengan deras. Membentuk aliran sungai kecil di pipi chubbynya. Akhirnya, ia sampai. Lututnya melemas dan membuatnya bersimpuh. Hatinya tak kuat menahan amarah yang bercampur lara. Ia menyeret tubuhnya mendekati seseorang yang telah terkulai lemas di genangan cairan kental merah pekat berbau anyir. Mata sosok itu tertutup kain hitam. Longdress putihnya telah menjadi merah karena bercampur dengan darah. Kedua tangannya masih terikat di belakang dan dibiarkan memberi bercak merah di pergelangan. Kejam. Negeri itu ditinggali para warga yang kejam. Membenci penyihir dan penuh keegoisan. Seolah mereka hanya mematuhi satu hal, Yang Berkuasa. Tanpa mengutamakan hati nurani. "MOM!" ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Penyihir? Satu kata yang amat dibenci oleh warga negeri. Negeri Castavonia. Mereka akan menghakimi siapapun yang memiliki kekuatan sihir. Bahkan presiden sekalipun. Negeri dengan beberapa kota kecil itu memiliki traumatik yang mendalam tentang sihir. Namun, hal itu justru merugikan diri sendiri dan orang lain. Seperti nasib kedua gadis kembar yang tengah bersimpuh di pusara sang ibu. Sejak penghakiman itu, mereka harus keluar rumah dengan penyamaran. Jaket bertudung dan menyembunyikan identitas. "Beras, telur, sayuran." Mulutnya menggumamkan tulisan yang tertulis di note harian ponselnya. Ia mempercepat langkah dan menuju ke pembelian tiket kereta layang. "Tiket berapa orang?" "Satu." "Tujuan?" "Vandoria." "Lima puluh tavo¹." Tangannya terulur menunjukkan ponsel dengan kode QR di sana. Kemudian sang penjaga tiket menerimanya dan 'TIT'—Kode QR berhasil di scan sebagai pembayaran digital seperti biasa. Usai pembayaran, sebuah tiket keluar dari mesin tertentu yang ada di depannya. Ia pun mengambil tiket itu dan bergegas masuk ke salah satu gerbong kereta yang masih menunggu satu penumpang lain. Sebab, setiap gerbong harus terisi lima orang sesuai dengan sistem otomatis yang terpasang agar dapat berjalan. Kereta itu mulai bergerak. Seperti halnya burung yang mengepakkan sayap, kereta yang awalnya berada di tanah langsung tertarik secara vertikal secara perlahan. Menapaki sebuah rel layang horizontal yang dirancang khusus oleh para teknisi hebat di Castavonia. Jemarinya menekan sebuah tombol 'down' yang membuat kereta layang mulai merendah. Karena tujuannya telah berada di depan mata dan seharusnya memang harus segera turun. Jika tidak, dirinya akan terbawa ke tujuan keempat penumpang yang ada di dalam kereta. Setelah kereta menapaki daratan, pintunya terbuka otomatis. Mempersilakannya untuk memijak tempat tujuan. Usai itu, kereta layang kembali meluncur ke tempat tujuan selanjutnya. "Mari kita belanja. Setelah itu pulang, dan memasak untuk Agetha." Langkahnya kembali terangkat dan masuk ke keramaian pasar kota. Seperti pasar biasa, di sana banyak penjual yang berteriak menyerukan dagangannya. Sayuran, daging, buah, bahkan benda apapun terjual di sana. Ngerinya, penjualan anak di bawah umur pun pernah terjadi di Pasar Kota Vandoria—Ibukota Castavonia. Dalam beberapa menit, ia pun berhasil mendapatkan barang-barang yang diinginkan. Setelah memasukkan semua belanjaan ke sebuah ransel khusus belanjaan, ia pun bergegas pulang dengan menaiki bus cepat yang sudah mangkal di setiap sudut pasar. Kode QR ia tunjukkan pada seorang pria perut buncit yang berdiri di sebelah pintu masuk bus cepat. "Tujuan?" "Kota Letopiea." ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Pupilnya netra biru Aquamarine itu membulat. Napas yang semula menderu normal tetiba menjadi sesak. Kakinya terangkat menyusuri setiap jengkal rumah sederhana berwarna abu keputihan itu. Namun, sosok yang ia cari benar-benar tak ada. Dengan keadaan lemah dan membutuhkan kursi roda, kembarannya takkan mampu berkeliaran seorang diri. Ia terburu keluar dari rumah dan meneriakkan sebuah nama. "Agetha!" Jelas kepanikan menyembul di benaknya. Seorang gadis yang tak mampu mengangkat kakinya sendiri itu mendadak hilang tanpa jejak. Rumah masih tertata dengan rapi dan tak ada tanda terjadinya perampokan. Namun, hanya ada satu cara yang mungkin bisa memberitahu keberadaan sang kembaran. Sihir pelacak. Ia pun bergegas masuk kembali ke dalam rumah dan berdiri di depan cermin. Telapak tangannya terarah ke pantulan bayangan tubuhnya dan bergumam, "Pista²." Sebuah kata yang mampu mengeluarkan semburat cahaya hitam dari telapak tangan. Cermin yang memantulkan bayangan dirinya berubah menjadi sebuah gambaran tempat yang ingin ia pantau. Kamar Agetha. Terlihat sosok gadis tengah tertidur lelap. Tak ada hal ganjal apapun yang terjadi dalam beberapa detik. Namun, tak lama kemudian, pupilnya menyipit untuk memperjelas apa yang tertangkap oleh netra. Sosok bayangan hitam muncul di dekat Agetha dan kemudian menghilang bersama gadis itu. "A—Agetha." Sapuan tangannya ke cermin membuat sihir pelacak itu menghilang tak berbekas. Tangannya mengepal dan giginya gemeretak. Matanya penuh kebencian dan amarah. "Apa itu kau, Dark Master?" ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Footnote : ¹Tavo = Mata uang Castavonia ²Pista = Mantera sihir pelacak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN