Duine Annasach

1127 Kata
Clementine sungguh menikmati pemandangan yang ada di taman bunga ini. Banyak bunga yang bisa dilihat dan dipetik olehnya untuk ditaruh di meja kerja Elgio. Meski dirinya tahu jika pria itu tak menyukai bunga, tetapi apa salahnya dicoba? "Pria aneh. Katanya tidak suka bunga. Tapi kenyataannya ada taman di sini." "Taman ini sengaja dibuat untuk ibunya." Tiba-tiba saja ada suara dari belakang Cle dan membuatnya hampir jatuh. "Otto, kau membuat jantung lepas." Otto dengan gaya santainya mendekati Cle dan membantu gadis itu memetik daun kering. "Jika dia tidak suka ibunya, untuk apa dia membuat taman bunga indah ini?" "Elgio bukan tidak suka dengan ibunya, Cle." "Lalu apa? Menurutku aneh saja, dia tidak dekat ibunya," kata Cle yang asyik memetik bunga. "Kau akan mengerti nanti jika menjadi istrinya," sahut Otto yang masih memperhatikan kecantikan Cle. Otto langsung memalingkan wajahnya, entah kenapa setiap kali berdekatan dengan gadis ini. Hatinya berdebar tak karuan. Ah, dia tidak boleh memiliki perasaan itu. Clementine akan menjadi istri Elgio. "Istri di atas kertas," timpal Cle dengan ketusnya. "Elgio sebenarnya memiliki hati yang baik jika kau mau mengenalnya lebih dekat," ujar Otto dengan senyuman mengembang. "Terlalu susah untuk aku mengenalnya. Kau tahu sendiri jika dia hanya menjawab ala kadarnya. Menurutku dia seperti robot." Rasanya Otto ingin tertawa jika dia tak melihat Elgio sedang mengawasinya dari atas. Tatapan Elgio menghujamnya. Dia tahu jika hal yang sudah menjadi Elgio maka tidak boleh merebutnya. "Lihatlah tatapannya. Bukankah menyeramkan?" Clementine menyahut seraya melangkah masuk. Dia akan menaruh bunga itu di ruang kerja Elgio tak peduli jika pria itu akan membuangnya nanti. Toh menurutnya yang memiliki taman bunga saja tak marah. **** "Kau kira ruanganku taman bunga?" Clementine mendengkus kesal dan tatapannya tajam mengarah pada Elgio." "Memangnya tidak boleh? Lagipula sayang jika bunga cantik itu hanya ada di taman." "Aku tidak suka. Kau buang saja." "Apa salah jika aku menaruh---?" Elgio mencengkram bahu Cle. Tentu saja gadis itu meringis kesakitan. "Jangan pernah membantah apa yang kuucapkan. Jangan sampai aku melukai keluargamu," bisiknya di telinga Clementine. "Aku tidak suka dibantah." Elgio memandang wajah cantik Cle dari dekat. Tanpa sadar kepalanya kian maju dan berusaha mencium bibir gadis itu. Cle mencoba melepas tangan El saat pria itu memeluknya. Mata mereka saling beradu, Elgio dapat merasakan aroma lavender di tubuh Cle. Dia ingin memeluk gadis itu lebih lama. Namun, penolakan justru diberikan Cle. Cle berusaha menjauhkan wajah Elgio yang kian mendekat dan hampir saja bibirnya menyentuh bibir Elgio. "Lepaskan aku, El! Aku tidak suka!" Elgio melepaskan pelukannya, dia menyeringai ke arah Clementine. "Jika kau terus membantah dan tidak mau mendengar perkataanku. Maka aku bisa melakukan lebih padamu. Apa kau paham?" Cle segera menghindar. Dia tak sanggup menatap manik milik Elgio. Kelam dan gelap, tetapi ada kepedihan yang teramat dalam di sana. Dia tahu, mata seseorang tak bisa berbohong. "Baiklah. Aku tak akan membantah ucapanmu. Tapi aku mohon letakkan bunga itu di vas. Apa kau tahu kasihan bunga itu jika mereka tak ditaruh di tempat yang indah?" Sepeninggal Cle. Elgio termenung sesaat. Dia tidak sadar telah berlaku seperti tadi. Ada perasaan yang tak bisa dirinya jelaskan. Ketika dia melihat wajah Cle, Elgio terdiam dan tidak bisa menahan diri untuk menciumnya. **** "Mengapa di dunia ini ada pria seperti Elgio? Jika saja aku tak menerima perjanjian itu, aku tak akan sudi tinggal dengannya." Umpatan terus Cle keluarkan dari bibir kecilnya. Tak peduli tatapan para pekerja saat dia berjalan sambil bicara sendiri. "Jangan bicara tidak jelas, Nona Clementine. Anda akan seperti orang tidak waras," tegur Walkens menghampirinya. "Biarkan saja ini mulutku. Sesuka hatiku mau bicara apa," dengkus Clementine dengan kesalnya. "Jika anda berlaku seperti itu, para pekerja di sini akan berbisik-bisik mengenai keadaan anda," bisiknya pelan. Pandangan Clementine menyapu ke seluruh lantai dua ini. Benar yang dikatakan Walkens. Para pekerja di sini sedang mengawasinya sesekali berbisik dengan sesama rekan kerjanya. "Apa mereka tidak punya kerjaan selain membicarakanku?" Walkens menggeleng dan menghela napas, gadis ini beda dengan yang lainnya. Dia pandai membantah dan berdebat. "Itu karena mereka tidak pernah bertemu dengan orang lain. Mereka terpaksa bekerja di sini dan hanya bisa keluar sebulan sekali," sahut Walkens yang kini berdiri di samping Cle dan turut memandang para pelayan yang bekerja dari lantai atas. "Mereka hanya boleh keluar sebulan sekali? Apa aku tidak salah dengar?" Rasanya Cle ingin memukul pria itu, karena menerapkan aturan yang tidak masuk akal. Namun, saat mengingat tatapan Elgio yang marah, dia mengurungkan niatnya. "Tidak. Yang dikatakan Walkens benar, Nona." Kini ada Lieda yang ikut menimbrung setelah mengantarkan makanan ke ruangan Elgio. "Apa mereka tidak boleh berhenti kerja?" "Boleh asal tuan Elgio yang memecat mereka," timpal Walkens. Seketika Clementine merasa kasihan mendengar aturan yang aneh dan tak masuk akal. Setiap manusia yang hidup pasti membutuhkan hiburan dan keluar setidaknya seminggu tiga kali atau bisa setiap hari. Clementine tak bisa membayangkan jika mereka harus keluar sebulan sekali. "Apa mereka tidak bisa mengajukan protes?" tanya Clementine ingin tahu. "Protes berarti mereka siap menanggung resikonya," jawab Lieda. "Apa itu?" "Mereka akan dihukum oleh tuan Elgio, Nona." Perkataan dari Walkens sungguh membuat Cle tak mengerti tindakan Elgio. "Lalu kalian tetap bertahan di sini?" Lieda dan Walkens diam sesaat, mereka serempak menoleh saat derap langkah kaki Elgio kian mendekat. "Sudah selesai berbincang-bincangnya? Tatapan menusuk langsung tertuju pada kedua pelayan tersebut sehingga Lieda dan Walkens segera undur diri. "Memangnya kenapa kalau kita sekedar bicara?" Jengkel, itulah yang dirasa Clementine. Di sini dirinya tak memiliki teman bicara. Namun, Elgio malah mengusir mereka. "Itu tempatku. Tak ada yang boleh bicara selain jam istirahat." "Tapi itu kau membuat kebebasan mereka terenggut, Elgio." Clementine seakan lupa dengan perkataan Elgio tadi. Dia terus membalas perkataan Elgio. "Seharusnya mereka sudah bersyukur aku memberi mereka libur sebulan sekali." Otto segera menutup mulut Cle agar tak banyak bicara lagi. Jangan sampai gadis ini membuat Elgio emosi. **** "Ih ... aku ingin sekali meninjunya!" umpat Clementine di kamarnya. "Memangnya kau berani dengan Elgio?" tanya Otto bercanda yang sengaja masuk kamarnya. "Kalau dia bukan pria aneh seperti itu, mungkin aku berani." Otto tertawa lepas, tak menyangka memang jika gadis ini akan membuat hidup Elgio jungkir balik. Sejak kedatangan Clementine, kastil ini semakin ramai. Cle menjadikan suasana kastil yang suram berubah dalam sekejab. Dulu saja saat penjelajah hutan tersesat, mereka enggan menginap di kastil ini dan memilih mendirikan tenda di luar. "Memangnya kau tak takut dengan pria monster itu?" Otto tertawa lagi, Cle mengatai Elgio sebagai monster. Sudah lama rasanya dia tak tertawa seperi ini. "Ada apa? Kenapa kau tertawa?" "Karena kau lucu, Cle. Kau malah mengatai dia monster. Tak ada yang berani berkata seperti itu kecuali dirimu." "Ya, kalau dia tidak ada di sini. Aku berani," kata Clementine berkacak pingggang. "Aku lebih menyukai bicara denganmu daripada pria itu," sambung Clementine yang hendak mengajak Otto ke balkon. Namun, Otto menolak. Dia harus pergi saat ini. Elgio memanggilnya. =Bersambung= Duine Annasach = Pria yang menyebalkan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN