Faigh Eòlas

1103 Kata
Clementine terpesona melihat arsitektur di dalam kastil. Seumur hidupnya baru kali ini, ia melihat kemewahan yang ada di depan matanya. Meskipun, ia dari keluarga pencuri. Sang ayah mengajarkan untuk tidak serakah dalam mengambil harta seseorang. "Ambillah seperlunya. Ingat kita mengambil barang milik pendosa negara dan kita harus mengembalikan ke tangan yang membutuhkan." Cle terperanjat saat kepala pelayan menepuk bahunya. "Silakan ikut saya, Nona." Cle mengikuti kepala pelayan yang usianya hampir sama dengan ayahnya. Tak hentinya Cle memandang arsitektur yang indah di setiap dindingnya. "Tuan, siapa yang tinggal di sini?" tanya Cle ingin tahu. Kepala pelayan menoleh ke arah Cle, tatapannya menyorotkan agar ia tidak perlu bertanya. "Maaf kalau aku sudah lancang. Tapi aku ingin mengucapkan rasa terima kasih saja," ucap Cle dengan tulus. "Besok anda bisa menemuinya." Cle menurut dan mengikuti kepala pelayan yang ia tidak tahu namanya. "Tuan, apa aku boleh tahu nama tuan siapa?" "Panggil saja Walkens. Jangan memanggil saya dengan sebutan tuan. Apa anda paham, Nona?" Cle menghela napas, ia seolah bicara dengan robot. Walkens nama pria paruh baya itu memang terkesan tak banyak bicara. "Ini kamar anda, Nona. Sebentar lagi akan ada pelayan yang mengantarkan makanan." Walkens mempersilahkan Cle masuk ke kamar tamu yang sudah disediakan. "Terima kasih, Walkens." Walkens yang hendak pergi setelah mengantarkan Clementine ke kamarnya, berhenti sejenak untuk mencerna perkataan tersebut. "Terima kasih sudah mengijinkanku masuk." Sekali lagi Cle mengucapkan rasa syukurnya. Walkens tak menjawab, ia langsung berjalan. Namun, sebuah sunggingan terpatri di bibirnya. Ia merasa senang. ***** Takjub dan hampir saja ia berteriak. Biarkan orang berpikir ia kolot. Namun, itu kenyataannya. Kamar ini terlihat mewah untuk dirinya. Bayangkan saja tempat tidur ini mampu menampung dua keponakannya yang kembar. "Kalau si kembar ada di sini, pasti mereka berteriak kegirangan," ucap Cle sambil duduk di atas ranjang. Namun sejenak, ia langsung teringat pada ayahnya. Apa yang akan ia katakan pada ayahnya besok? "Nona, ini pakaian dan makannya." Pelayan wanita yang beruban itu mengantarkan makanan dan pakaian bersih pada Cle. "Nyonya, apa boleh saya pinjam ponselnya?" Wanita itu hanya terdiam dan menatap Cle dengan kaku. "Apa nyonya tidak punya ponsel?" tanya Cle tak mengerti tatapan aneh dari pelayan itu. "Di saat bekerja kami tidak memegang ponsel, Nona." "Jika perlu sesuatu cukup tekan bel di samping tempat tidur anda." Cle merengut, ia hanya ingin meminjam ponsel bukannya malah dicuekin. "Baiklah nyonya---" "Panggil saja saya bibi Elieda." "Terima kasih bibi Elieda." Elieda pamit dan menutup pintu kamar bercorak emas. Sekali lagi ada seseorang yang menyunggingkan senyuman saat Cle mengucapkan rasa terima kasihnya. Elieda wanita tua yang sudah hampir dua puluh tahun mengabdi di keluarga Elgio tak pernah mendapatkan perlakuan hangat dari majikannya kecuali ayah dan ibu Elgio. Elieda sadar jika majikan kecilnya memang berbeda dari kebanyakan pria lainnya. Ia berharap kehadiran gadis itu membawa aura baru di kehidupan Elgio yang tak tersentuh perasaannya. Di kastil mewah ini, ia dan beberapa pekerja lainnya jarang kedatangan tamu kecuali Chattlene--ibu Elgio yang tiap akhir pekan datang menemui anak bungsunya. Namun sangat disayangkan, Elgio tak pernah mau menemui ibunya yang selalu berdiri di depan pintu kamarnya. Meski berpapasan, Elgio akan membuang muka pada ibunya. Sang ibu tak memiliki salah pada Elgio, hanya saja Elgio yang menyalahkan dirinya ketika kecelakaan yang menimpa kakak perempuannya. Kembali pada Cle, gadis itu masih belum menyadari jika ada seseorang yang mengawasi dirinya melalui cctv yang terpasang di bohlam lampu. Tanpa ekspresi, Elgio melihat Cle yang masuk ke kamar mandi lalu keluar dengan menggunakan pakaian yang bersih. Tak ada senyuman saat Cle bergembira menyambut makanan yang masuk ke mulutnya. Setelah makanan habis, Cle berguling-guling di ranjang dengan senang. "Kupikir ia gadis yang menyenangkan. Bukan begitu, El?" Elgio menatap datar pada Otto. Asisten sekaligus sahabat masa kecilnya. "Sejak kapan kau ada di belakangku?" Otto sudah terbiasa jika Elgio menggunakan kalimat yang kasar. Pria berkacamata tipis itu memang memahami Elgio sejak kecil. Jadi ia tidak merasa tersinggung ketika ucapan Elgio menusuk hati. "Kau saja yang tidak sadar kalau aku ada di sini," jawab Otto sambil membuka sebungkus cokelat di atas meja kerja Elgio. Elgio tak menjawab. Pria dingin itu masih terpaku melihat cctv yang menampilkan Cle. "Otto, ...." panggil Elgio pelan. "Ada apa?" tanya Otto yang asyik mengunyah cokelatnya sambil rebahan di sofa. "Tanganku gatal." Otto langsung terbangun. Ia paham artinya, sudah lama Elgio tak menggunakan kalimat itu. "Apa ada yang menyakitimu hari ini?" Jika Elgio mengatakan kalimat itu maka artinya ia sedang ada masalah dan akan melampiaskan pada benda atau seseorang. "Heum ...." "El, kau sudah minum obatnya?" tanya Otto sepelan mungkin agar Elgio tak marah. "Aku tidak gila jadi aku membuangnya," ucap Elgio santai. Otto hanya menggelengkan kepala. Ia diperintahkan menjaga Elgio oleh Chattlene. Ia tak ingin wanita yang melahirkan Elgio merasa cemas dan khawatir mendapati sang anak tak kunjung sembuh dari 'sakitnya'. "Tapi kau harus meminumnya, El. Jika tidak ibumu akan bersedih." Elgio pura-pura tak mendengar. Ia justru menatap Otto untuk segera melakukan perintahnya. "Memangnya tidak bisa kau tunda esok? Malam-malam seperti ini mana orang jahat, El?" Otto sengaja mengalihkan pembicaraan. "Aku mohon, Otto. Tanganku tak bisa aku kendalikan dan terasa gatal." Mau tak mau Otto melakukannya. Jika perintah Elgio tak dituruti maka para pegawai di sini akan menjadi sasaran empuk tangannya. "Tapi kau harus berjanji satu hal. Jangan gunakan tanganmu untuk membunuh dan menyakiti pekerja di sini." Elgio diam dan hanya menggangguk. Elgio jika penyakitnya kambuh, ia mencari seseorang untuk melampiaskan kemarahannya. Orang-orang yang menjadi sasaran amuknya adalah mereka yang menjalani hukuman di penjara, karena itulah sang ayah selalu kewalahan menanggapi permintaan Elgio. River sang ayah tak ingin anaknya menyakiti bahkan membunuh orang yang tak berdosa atau para pekerjanya. Sehingga ia mencari cara lain. Pilihannya jatuh pada tahanan yang divonis bersalah karena melakukan kesalahan fatal. River harus mengeluarkan uang yang besar kepada kepala polisi agar tutup mulut. Untungnya setelah menjalani pengobatan, tangan Elgio 'tidak gatal' tiap hari. Hanya pada waktu tertentu saja. "Siapkan tahanan di sel anda sekarang, Tuan Reyman. Uangnya sudah aku kirim ke rekening anda." Otto segera menelepon Kepala Polisi untuk segera membawa salah satu tahanannya keluar. "Baiklah. Saya akan segera menyiapkannya." Reyman tak mempermasalahkan bila salah satu tahanannya menemui ajal malam ini. Toh ... pada akhirnya mereka akan dieksekusi mati nantinya. Namun ada satu hal, yang tak disadari oleh Reyman yang rakus akan uang jika tahanan itu tak meninggal. Mereka akan dikirim ke tempat yang jauh dan identitas mereka akan diganti. Semua itu ulah River sebagai balasan. "Tuan, Elgio akan menyiksa orang lagi malam ini." Otto juga menelepon River, pria tua yang ada di seberang telepon hanya bisa menghela napas panjang dan Otto mendengar kalimat lirih yang terlontar dari bibir sang tuan. "Aku harap ada seseorang yang mengubahnya, Otto." =Bersambung= Faigh Eòlas artinya Berkenalan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN