"Sepertinya.. kamu melakukan yang terbaik untuk membuatku terkesan."
Aruna terkekeh setelah memasuki kamar hotel yang Erlan pesan. Sebuah kamar eksklusif dengan design mewah dan berkelas. Mungkin Erlan menghabiskan semua uang tabungannya hanya untuk menyewa kamar ini untuk satu malam. Konyol.
Pria itu.. aish.. benar benar tidak mendengarkan ucapannya agar tidak memaksakan diri. Sebenarnya, Erlan hanya perlu menjadi diri sendiri di hadapannya. Tidak perlu membuang uang hanya karena gengsi. Juga tidak perlu mengorbankan banyak hal untuk mencari perhatiannya.
Namun, dia sangat menghargai kerja keras Erlan untuk membuatnya terkesan.
"Tentu saja, aku memang harus mengupayakan yang terbaik untukmu. Apakah itu salah?"
Erlan mendekat ke arah Aruna, lalu menyodorkan segelas red wine kepada gadis itu. Biarkan saja Aruna berpikir apapun yang gadis itu mau tentang dirinya. Dia tidak melarangnya sama sekali.
Lagi pula, saat seseorang melihatmu sebagai seorang pria, bukan sebagai sumber uang, sensasinya akan terasa berbeda.
"Baiklah.. aku hargai ketulusanmu." Aruna memutar gelasnya, lalu menghirup aroma yang menguar dari red winenya.
Dari aromanya saja, Aruna tau jika ini adalah minuman yang mahal. Tidak perlu di jabarkan dari mana asalnya, nama pabriknya, berapa harganya atau apapun itu. Dia bisa membedakan wine mahal dan murah hanya dengan menghirup aromanya.
Aruna lantas menyesapnya sedikit demi sedikit. Setelah di rasa cukup, dia meletakan gelasnya di atas meja. Lalu membuang pandangannya ke luar jendela. Gelap dan dingin.. adalah gambaran nyata untuk kehidupannya saat ini.
Erlan memeluk Aruna dari belakang, lalu meletakan dagunya pada bahu Aruna. "Jadi.. dari mana kamu berasal??"
Aruna terkejut dengan kelakuan Erlan kepadanya, namun dia berusaha bersikap biasa biasa saja. "Apa itu penting??"
"Hm.." Erlan mengangguk. "Tentu saja, itu sangat penting."
"Baiklah." Aruna tersenyum, lalu menggenggam tangan Erlan yang melingkar di pinggangnya. "Negara asalku adalah IN-DO-NE-SIA." Tambahnya seraya mengeja kata 'Indonesia' dengan intonasi pelan.
Mata Erlan berbinar. "Waow.. benarkah?"
"Tentu saja, memang apa yang salah?"
"Tidak! Aku hanya menyukai Indonesia." Erlan menjawab cepat. "Aku pernah ke sana beberapa kali. Mungkin suatu saat nanti aku akan tinggal dan menetap di sana. Atau.. untuk mencarimu.."
"Baguslah.. aku akan menanti kedatanganmu jika begitu."
Aruna menjawab sembari mencari keberadaan hpnya yang berdering. Dia meraba ke dalam tasnya, mencari keberadaan benda pipih yang masih saja berisik.
Dia melihat layar hpnya sekilas. Lalu menghembuskan nafas gusar. Antara menerimanya atau tidak. Terima.. tidak.. terima.. tidak.. terima..
Baiklah dia akan menjawab panggilannya. Aruna lantas meminta Erlan untuk memberinya ruang agar bisa menerima panggilan ini. Erlan mengerti dan segera melepaskan pelukannya, lalu menjauh. Memberikan gadis ini sedikit jarak.
Aruna menekan simbol received dengan dengan malas. Meski dia sangat membenci si penelepon lebih dari apapun. Namun, dia tetap menerima panggilan itu pada akhirnya setelah beberapa saat mempertimbangkannya.
Belum tiga detik, Aruna menutup sambungan teleponnya. Dia menggertakan gigi dengan kesal, lalu meremas hpnya dengan emosi yang meninggi. Apa apaan ini?
Wajah bahagianya berubah suram dalam sekejap. Dia yang terlalu kuat untuk menangis, membuat air matanya tertahan tanpa bisa mengalir. Tenggorokan tersekat seakan ada sesuatu yang menyumbat di sana.
Rasanya aneh.. saat mendengar suara percintaan Dion dengan Zivanya. Tidak tau apa motif Zivanya meneleponnya kala tengah b******a dengan Dion. Namun, gadis itu pasti sengaja melakukannya untuk membuatnya terbakar.
Aruna terkekeh pelan. Sayangnya, ini hanya angin sepoi sepoi untuknya. Hal kecil seperti ini bahkan tidak akan mampu menumbangkannya. Jangankan menumbangkan, menggoyahkan pun rasanya tidak mungkin.
Sejauh ini Erlan hanya memperhatikan. Tidak benar benar tau isi percakapan yang mereka bicarakan, juga tidak tau siapa peneleponnya. Namun, setelah melihat perubahan ekspresi drastis Aruna yang tampak marah menahan kekesalan setelah menutup panggilannya, dia bisa menebak jika itu adalah sesuatu yang tidak baik.
Erlan mendekat kala melihat Aruna mengepalkan tangan. "Lara.." panggilnya dengan suara lembut.
Aruna menoleh, namun bukan senyum tulus yang dia perlihatkan, melainkan rasa penyesalan yang membuatnya ingin menghancurkan apapun yang dia lihat.
Dia tidak menyesal dengan apa yang sudah terjadi, juga tidak merindukan orang orang di masa lalunya, namun dia merindukan dirinya yang dulu sebelum mereka hadir.
Dia hanya ingin seluruh dunia tau.. jika dia baik baik saja. Meskipun itu adalah suatu kesalahan, tapi dia ingin semua kesalahan itu benar di mata semua orang.
Erlan memeluk Aruna erat. "Semua akan baik baik saja, okey??" Dia menangkup wajah Aruna, "tidak ada yang perlu di pikirkan. Selama aku di sini, aku tidak akan membiarkan seseorang pun menyakitimu." Tambahnya kemudian.
Aruna tersenyum tipis, "tidak perlu khawatir, aku baik baik saja. Aku hanya.. merasa sakit," Aruna memegang dadanya, "di sini."
Erlan memegang tangan Aruna, "dan aku.. akan menyembuhkannya." Ucapnya sebelum menempelkan bibirnya pada bibir Aruna. Mencecapnya pelan pelan. Melumat lalu menghisapnya.
Untuk sesaat Aruna tercengang dengan apa yang Erlan lakukan. Namun dia melingkarkan tangannya pada leher pria itu dan mulai membalas ciumannya setelah dia sepenuhnya sadar dari rasa terkejutnya.
Aruna memejamkan mata kala ciuman Erlan semakin intens, mulai turun ke leher dan meninggalkan tanda cinta di sana. Dia tidak berpikir untuk menolak, ataupun mendorong tubuh Erlan agar menjauh, karena dia membutuhkan pria itu sekarang untuk menghentikan rasa sakit yang di deritanya.
Mungkin dengan cara ini, dia bisa menghilangkan semua kegundahannya walau hanya sebentar.
Aruna mulai menikmati irama ciuman Erlan di dadanya. Tidak tau sejak kapan Erlan sudah membuka pakaiannya hingga tak ada yang tersisa lagi selain tubuhnya dengan lekuk indah tanpa cela.
Erlan meraba punggung Aruna dengan santai. Dia menyukai Aruna yang seperti ini. Namun, di sela sela sentuhannya, dia merasakan perasaan benci yang kuat. Entah dia pria keberapa yang pernah melakukan ini kepada Aruna.
Namun, sekali lagi, itu tidaklah penting untuk sekarang.
Erlan memberanikan diri untuk menyentuh bagian bawah milik Aruna. Sesuatu yang membuatnya semakin b*******h. Membelainya secara perlahan, lalu meminta Aruna untuk menyentuh miliknya setelah dia membuka resleting celananya.
Aruna mengerjapkan mata saat tangan Erlan menuntun tangannya untuk menyentuh sesuatu dari dirinya yang sudah menegang.
"Kenapa?"
Erlan bertanya setelah melihat Aruna diam. Wajah merah merona Aruna semakin menambah kecantikan gadis itu hingga berkali kali lipat.
Aruna menarik tangannya, "aku.." dia memotong kalimatnya. Haruskah dia mengatakan jika dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya?
Erlan memiringkan kepalanya, menunggu jawaban Aruna selanjutnya.
"Aku hanya.. hanya tidak pernah melakukannya." Aruna berkata lirih, bahkan nyaris tidak terdengar.
"Benarkah?" Erlan bertanya dengan nada tidak percaya. Rasanya aneh saat gadis secantik Aruna tidak pernah melakukan ini. Rasanya.. sempurna.
Aruna mengangguk. Dia merasa malu setelah mengatakannya.
Erlan mengecup dahi Aruna sekilas, "jika memang seperti itu.. biarkan aku menjadi yang pertama untukmu."
Aruna tersenyum tipis. "Baiklah."
Erlan melepaskan pakaiannya, lalu kembali menyentuh Aruna. Menjamah setiap inci tubuh Aruna tanpa ada yang terlewat.
"Aku mencintaimu." Ucap Erlan pada sela sela ciumannya. Sejujurnya dia merasa lega setelah tau jika dia adalah yang pertama untuk Aruna. Dia merasa keberuntungan sedang memihaknya.
Aruna terkekeh. Aku mencintaimu?
Aruna mentertawakan serangkaian kata laknat itu. Kalimat sialan yang telah mengantarkannya pada situasi ini. Berkat kalimat itu pula dia mengetahui rasanya di khianati oleh orang terkasih. Namun, berkat kalimat itu pula dia menyadari satu hal, bahwa dia tidak di izinkan untuk mempercayai orang lain selain dirinya sendiri.
Erlan menggendong tubuh Aruna dengan hati hati. Lalu membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang. Sesaat kemudian, dia menindih tubuh gadis itu.
"Aku akan membuat kamu mengerti, jika perasaanku tidak pernah bercanda."
Erlan berbisik pelan di telinga Aruna. Membuat Aruna merasakan perasaan aneh yang terasa asing. Rasa panas ini.. entah dari mana datangnya. Entah karena bisikan itu atau karena gesekan yang di lakukan benda keras milik Erlan pada tubuh bagian bawahnya.
"Mungkin akan sakit pada awalnya," Erlan menjeda kalimatnya. "Tapi setelahnya.. kamu pasti meronta ronta minta lagi." Tambahnya sebelum menekan miliknya untuk memasuki Aruna.
Benar benar sempit sampai Erlan kesusahan untuk melakukannya. Sekarang dia percaya jika gadis itu memang masih perawan. Erlan berusaha keras untuk memasukan miliknya. Mendesaknya dengan lembut. Dia akan melakukannya dengan sangat hati hati.
Erlan sungguh tidak ingin membuat Aruna kesakitan.
"Em.." Aruna mengerang. Dia merasakan sakit yang luar biasa saat sesuatu yang menegang pada diri Erlan membobol liang sempitnya. Dia merasakan perih saat selaput daranya benar benar robek.
Aruna menangis. Sakit di bagian bawahnya tidak seberapa di bandingkan rasa sakit pada hatinya. Kini.. dia bukan lagi seorang gadis perawan. Dia sudah hancur sepenuhnya. Kesucian yang sudah dia jaga selama ini, harus berakhir pada pria yang sekarang berada di atasnya.
Ada saat dimana Aruna benar benar menyesal atas keputusan yang di buatnya karena telah memilih jalan ini, karena telah menentukan pilihan ini. Tapi yang sudah terjadi.. biarlah.
Erlan membungkam mulut Aruna dengan ciuman kala melihat gadis itu menangis. Mungkin itu sangat menyakitkan sampai Aruna meneteskan air mata. Dia tau ini tidak benar, tapi dia tetap harus melakukannya.
Hanya dengan begini, dan hanya dengan cara ini, dia bisa menjerat Aruna agar tidak meninggalkannya. Jika bisa, dia akan menghamili Aruna malam ini juga.
Erlan menghentikan aktifitasnya sejenak. Dia memeluk gadis itu erat sembari menunggu sebentar sampai gadis itu tidak merasakan sakit lagi. Setelah Aruna mulai tenang dan menikmati, dia segera mendesak ke dalam Aruna secara perlahan dan lembut.
Sejujurnya.. ini sangat nyaman. Sempit dan juga cocok di jadikan sebagai sarang untuk adik kecilnya. Juga tempat yang tepat untuk membudidayakan bibit unggulnya.
Aruna mulai mendesah. Rasa sakitnya berangsur hilang, sepenuhnya berganti kenikmatan yang luar biasa. Rasa nikmat ini.. sulit untuk di jabarkan.
Ternyata permainan Erlan sangat menyenangkan. Erlan melakukannya dengan profesional. Lembut namun menghentak. Pria itu akan menariknya dengan lembut, dan akan kembali mendorongnya dengan hentakan yang mampu membuat Aruna melayang.