Tuan Puteri terlalu kaget sepertinya...
Kalimat Keylo itu terdengar sangat pelan di kedua telinga Zeva, membuat gadis itu sedikit merinding. Belum lagi jantungnya yang berdetak kencang, tidak seperti biasanya. Ketika kedua matanya menatap langsung ke manik mata Keylo, Zeva bisa melihat sinar jenaka dan penuh godaan yang terpancar jelas dari mata laki-laki itu. Langsung saja, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Zeva mendorong tubuh Keylo dari tubuhnya dan gadis itu segera mengambil jarak dari Keylo. Zeva mendesis jengkel dan mengusap kedua lengannya, seolah-olah sedang membersihkan diri dari ribuan virus mematikan yang kemungkinan besar ditularkan oleh Keylo beberapa saat lalu. Hal yang membuat Keylo terbahak dan menarik napas panjang. Laki-laki itu kemudian menyandarkan sebelah bahunya di dinding dengan kedua tangan yang terlipat di depan d**a.
“Terakhir kali gue check-up ke dokter di rumah sakit, gue terbebas dari segala macam penyakit mematikan. Gue bersih dari narkoba, HIV, AIDS, H5N1, H1N1 dan semua teman-teman sebangsanya. Jadi, lo nggak perlu khawatir kalau lo mikir gue mungkin baru saja menularkan penyakit mematikan ke lo.” Keylo tersenyum miring dan memiringkan kepalanya ketika menatap wajah jutek Zeva. Dia kemudian menunjuk wajah Zeva diiringi dengan sorot penuh kegelian. “Lo jelek kalau lagi jutek begitu, Zevarsya Venzaya. Senyum lebih cocok buat muka cantik lo itu.”
Meskipun kesal setengah mati dengan tingkah Keylo, tak urung Zeva juga merasa salah tingkah karena ucapannya barusan. Gadis itu berdeham pelan dan ikut melipat kedua tangannya di depan d**a, seperti yang dilakukan oleh Keylo saat ini.
“Lo lagi ngerayu gue?” tanya Zeva ketus. “Asal lo tau, ya... rayuan lo itu nggak mempan buat gue. Dan gue peringatin sama lo, berhenti ganggu gue. Lo emang pernah nolongin gue pas gue pingsan tempo hari di tengah jalan, tapi, jangan karena hal itu, lo jadi beranggapan kalau lo bisa berakrab-akrab ria sama gue! Nggak sama sekali! Karena apa? Karena gue benci sama orang yang sok akrab apalagi pake acara ngerayu-rayu gue segala.” Zeva memutar tubuhnya, berniat meninggalkan Keylo yang saat ini menaikkan satu alisnya. Belum jauh dia melangkah, gadis itu kembali menghadap ke arah Keylo dan menunjuk wajah laki-laki itu. “Dan nggak usah manggil gue dengan nama panjang gue, seolah-olah lo udah terbiasa mengucapkan nama gue dan seolah-olah kita itu adalah teman. Dan jangan coba-coba nyebar gosip kalau kita pacaran, seperti apa yang lo bilang ke Kak Devan tempo hari!”
Sepeninggal Zeva, Keylo berdecak dan menggelengkan kepalanya. Dia terus menatap punggung Zeva yang semakin menjauh dan senyumnya semakin melebar. Ketika sosok Zeva menghilang dari pandangannya, Keylo menarik napas panjang dan menundukkan kepala sambil berkacak pinggang. Sikap jutek Zeva itu benar-benar menggemaskan, membuatnya ketagihan untuk terus mengganggu gadis itu. Tak lama, suara tawa geli Keylo terdengar, disusul kemudian helaan napas panjang dan terkesan berat. Tatapan Keylo berubah menjadi datar, ketika dia menatap ujung-ujung sepatunya. Tiba-tiba, ada perasaan aneh yang menyusup kedalam hatinya. Bukan karena Zeva, tetapi karena hal lain.
Hal yang sudah lama dikubur oleh Keylo, namun terpaksa harus muncul ke permukaan karena takdir mempertemukannya dengan Zeva. Dia tidak menyalahkan Zeva. Dia menyalahkan sikap gadis itu. Sikap yang menggemaskan, lucu dan sangat menantang.
Juga sikap yang membunuhnya secara perlahan.
###
Semua karyawan sedang pergi ke kafetaria untuk makan siang, namun Zeva lebih memilih untuk tetap tinggal di kubikelnya. Gadis itu masih mengerjakan beberapa laporan keuangan yang harus dia selesaikan akhir bulan ini. Dia membawa bekal makanan sendiri berupa nasi goreng dengan telur mata sapi kesukaannya.
Juga makanan yang menjadi makanan kesukaan Devan.
“Va? Lagi ngapain?”
Sendok berisi nasi goreng yang sebentar lagi akan masuk kedalam mulut Zeva terhenti di udara. Gadis itu menoleh dan mengerjapkan kedua matanya ketika Devan sudah duduk di depannya. Laki-laki itu tersenyum lebar dan menopang dagunya dengan kedua tangan. Ditatapnya kotak bekal makanan milik Zeva dan wajah gadis itu secara bergantian. Zeva masih saja mematung di tempatnya dan menatap Devan tanpa berkedip.
“Hei....” Devan mengacak rambut Zeva hingga gadis itu tergeragap dan berdeham salah tingkah. Sendoknya diletakkan kembali kedalam kotak bekalnya dan gadis itu buru-buru menutup benda tersebut. “Kok ditanya malah bengong, sih?”
“Kak Devan ngapain disini?”
“Kalau di kantin, menurut lo, gue mau ngapain?” tanya Devan geli. “Gue mau makan, lah... masalahnya, gue males makan sendiri. Neyla lagi izin nggak masuk kuliah. Kakak sepupunya nikah.”
Mendengar hal tersebut, Zeva tersenyum tipis. Senyum getir juga pahit. Senyum yang dipaksakan untuk menutupi hatinya yang terluka dan berdarah. Dia menepuk pundak Devan beberapa kali dengan tangannya yang gemetar dan menghembuskan napas panjang.
“Sabar, ya, Kak... besok juga ketemu lagi sama Kak Neyla, kan?”
“Iya, sih,” balas Devan sambil terkekeh pelan. Laki-laki itu melirik nasi goreng milik Zeva sekilas. “Gue boleh nyobain? Kebetulan, gue suka banget sama nasi goreng pake telur mata sapi. Favorit gue banget dari kecil soalnya.”
“Oh ya?” Zeva tertawa pelan dan membuka kembali kotak bekalnya. Dia memotong telur mata sapi bagian kuning dan mencampurkannya dengan nasi goreng. “Gue nggak mau Kak Devan sakit perut, loh, setelah makan nasi goreng ini. Jadi, saran gue, mendingan Kak Devan pesan nasi goreng di kantin aja. Rasanya lebih enak dan terjamin. Nah, kalau nasi goreng ini, biar buat gu—“
Ucapan Zeva terhenti di udara ketika tiba-tiba, tangannya dicekal oleh Devan dan laki-laki itu mengarahkan sendok yang dipegang oleh Zeva kedalam mulutnya. Jantung Zeva rasanya ingin meledak, akumulasi antara perasaan senang, gembira, sayang juga sakit yang bercampur menjadi satu.
Karena, kebaikan Devan ini hanyalah kebaikan antara senior-junior semata, bukan karena Devan memiliki perasaan khusus padanya, seperti perasaannya kepada laki-laki itu. Meski begitu, Zeva ingin membiarkan perasaan ini tetap mengalir didalam hatinya, menyatu bersama degup jantungnya dan wajahnya yang mulai menghangat. Hanya untuk sekali ini saja, walaupun hanya satu hari, Zeva ingin bersama dengan Devan.
“Enak banget!” seru Devan dengan mata berbinar. Laki-laki itu mengambil alih sendok yang berada di tangan Zeva dan menarik kotak bekal tersebut ke arahnya. Melihat hal itu, Zeva hanya tertawa renyah dan menggelengkan kepalanya. “Buat gue aja, ya, Va? Sumpah, nasi goreng buatan lo benar-benar enak! Gue bisa ketagihan kalau begini caranya. Besok bawa lagi, ya? Oke?”
“Mitosnya, sih, di lantai tiga ini banyak penunggunya, loh.”
Suara berat itu membuat lamunan Zeva buyar. Gadis itu menoleh dan mencibir ketika melihat sosok Keylo yang perlahan mendekatinya. Dua kancing kemejanya dibiarkan terbuka, hingga belahan segitiga kaus putihnya terlihat. Kedua lengan kemeja Keylo pun sudah dilipat hingga sebatas siku. Semua perempuan yang melihat Keylo pasti akan terpesona pada laki-laki itu, namun tidak untuk Zeva. Jangan artikan bahwa degupan jantungnya yang meliar beberapa jam yang lalu di depan toilet adalah karena Zeva suka pada laki-laki itu. Itu sama sekali tidak benar! Zeva yakin, semua perempuan pasti akan deg-degan apabila berdekatan dengan ketiadaan jarak seperti dirinya dan Keylo tadi.
“Iya! Dan yang gue dengar, sih, elo itu gembongnya para penunggu di lantai ini!” sembur Zeva langsung. Gadis itu menyimpan semua laporan yang sedang dia kerjakan di komputernya dan mulai membuka kotak bekalnya. Zeva menarik napas panjang dan mati-matian menahan tangis, ketika semua kilasan masa lalunya bersama Devan dan nasi goreng kesukaan mereka mulai muncul ke permukaan.
Anehnya, semua kilasan itu menghilang saat tangannya ditepuk pelan oleh Keylo.
“Dimakan, bukan diliatin doang, kali.” Keylo mengedipkan sebelah matanya dan melirik penuh minat ke arah nasi goreng yang dibawa oleh Zeva. “Enak, tuh, kayaknya. Gue boleh minta?”
“Di kafetaria masih banyak makanan yang bisa lo makan, Key....”
“Wow!”
Seruan Keylo itu membuat Zeva terlonjak dan tersedak. Gadis itu memukul dadanya dengan heboh dan berusaha menggapai air yang ada di ujung meja kerjanya. Melihat hal tersebut, Keylo langsung mengambil air mineral itu dan menyerahkannya kepada Zeva. Dengan beberapa tegukan, Zeva berhasil mendorong makanan yang tertahan di tenggorokannya. Gadis itu mendesah lega dan memelototi Keylo.
“Elo mau bikin gue mati?! Iya?!”
Mendengar ucapan Zeva, Keylo hanya cengengesan. Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengangkat bahu tak acuh. “Ya, maaf... abis, gue terlalu excited pas lo nyebut nama gue. Selama ini, semua orang selalu manggil gue ‘Lo’, bukan ‘Key’ seperti yang lo sebut barusan.”
“Cuma karena itu, lo sampai teriak-teriak nggak karuan dan hampir bikin gue mati karena keselek?!” seru Zeva keki. Gadis itu kemudian tertawa hambar dan melempar botol air mineral ke arah Keylo. Keylo berkelit dan mengelus dadanya karena berhasil menghindari botol yang dilempat oleh Zeva itu.
“Ya Allah, tega bener, lo sama gue, Va... sampai ngelempar botol ke gue segala.” Keylo memasang mimik memelas dan menggelengkan kepalanya. Sementara itu, Zeva menyipitkan kedua matanya dan bangkit berdiri. Dia berjalan meninggalkan kubikelnya dan juga bekal makanannya, membuat Keylo kaget.
“Eh... eh... Zeva Sayang, lo mau kemana?” tanya Keylo dengan suara keras. Senyum lebar mengembang di bibirnya yang kemerahan. “Makanan lo biar Aa Keylo yang makan, ya?! Boleh, kan, Sayang?!”
“JANGAN MANGGIL GUE SAYANG! GUE BUKAN SAYANG LO!” teriak Zeva menggelegar, membalas ucapan Keylo barusan. Yang dilakukan oleh Keylo hanyalah terkekeh geli dan mulai melahap nasi goreng milik Zeva.
“Bodo amat, dah... palingan dia marah-marah sama gue. Justru itu yang gue tunggu-tunggu. Gue suka liat muka cantiknya kalau dia lagi ngomel-ngomel.” Keylo mulai mengunyah nasi goreng Zeva dan wajahnya terlihat sangat puas.
###
“Gara-gara si tengil Keylo sialan itu, gue mesti nyari makanan diluar! Kafetaria pake acara penuh segala, sih!”
Sepanjang perjalanan menuju kedai makanan yang berada di dekat kantor, Zeva terus mengomel. Gadis itu memasang wajah cemberut dan menarik napas panjang. Dia terus melakukan hal tersebut untuk mengurangi emosi yang naik ke level paling tinggi akibat ulah Keylo. Heran, kenapa si Keylo itu selalu mencari masalah dengannya, sih?
Pilihan Zeva jatuh pada masakan padang yang terletak lumayan jauh dari kantornya. Gadis itu tersenyum sumringah dan melangkah dengan riang menuju rumah makan tersebut. Dia mengambil tempat di sudut ruangan dan memesang gulai ayam kesukaannya. Sambil menunggu pesanannya datang, Zeva mengeluarkan ponsel dan memeriksa BBM serta SMS yang masuk.
“Zeva?”
Suara itu membuat tubuh Zeva membeku. Gadis itu terpaku dan perlahan mendongak. Di depannya, sosok Devan muncul. Laki-laki itu berdiri sambil menatapnya dengan tatapan lembut juga senyum hangat. Senyuman yang selalu disukai oleh Zeva sejak dulu. Tatapan yang selalu disukai oleh Zeva sejak dulu.
Orang yang masih dia cintai sejak dulu.
“Boleh gue duduk disini, Va?” tanya Devan pelan. Laki-laki itu sebenarnya tidak menyangka bisa bertemu secara kebetulan dengan Zeva di tempat ini. Devan hanya sedang malas makan di kantor dan pilihannya jatuh pada rumah makan Padang ini karena rekomendasi dari beberapa karyawannya. Karena penasaran, Devan akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran karyawan-karyawannya dan takdir mempertemukannya lagi dengan Zeva.
“Ngapain minta izin sama gue?” tanya Zeva dingin. Dia mengontrol dirinya sendiri untuk tidak luluh di depan Devan. Terlebih, dia harus mati-matian menahan airmatanya yang sebentar lagi mengancam untuk jatuh membasahi pipinya. “Ini tempat umum, kan?”
Devan menanggapi kalimat dingin Zeva dengan senyuman yang masih setia bertengger lembut di bibirnya. Laki-laki itu menarik kursi dan duduk tepat di depan Zeva. Untuk beberapa detik lamanya, Devan memandangi wajah Zeva. Wajah gadis itu tidak berubah dari yang terakhir kalinya dia lihat. Wajah gadis itu masih cantik dan manis, juga dewasa. Hanya saja, sikap ramahnya menghilang, tergantikan dengan sikap dingin yang sama sekali tidak cocok bagi gadis itu menurut Devan.
“Apa kabar, Va?” tanya Devan ramah. Laki-laki itu masih betah menatap wajah Zeva yang justru lebih memilih sibuk dengan ponselnya. Hanya gadis itu dan Tuhan yang tahu, bagaimana dia harus ekstra berakting di depan Devan agar terlihat biasa saja.
“Baik,” jawab Zeva pendek. Gadis itu mulai meminum es tehnya yang sudah datang dan makan nasi yang sudah dia pesan tanpa menawari Devan sama sekali. “Kak Devan sendiri?” tanya gadis itu berbasa-basi.
Jangan nangis disini... jangan nangis disini, Zeva... elo kuat! Elo berhasil melewati semuanya sendiri selama ini. Elo gadis yang kuat! Jangan nangis!
“Gue juga baik.” Devan menarik napas panjang dan membuangnya pelan. Zeva benar-benar sudah berubah. “Um... soal tempo hari... gue minta maaf kalau perlakuan kasar gue bikin lo sakit. Tangan lo yang gue cekal waktu itu... nggak apa-apa, kan?”
“Nggak apa-apa, biasa aja, kok.” Zeva menjawab datar. Dia tetap tidak ingin menatap Devan karena hal itu akan menambah beban di hatinya. Hal itu akan membuat luka di hatinya kembali berdarah. Dan dia yakin, dia tidak akan bisa mengatasi hal itu sebaik dia mengatasinya dulu. “Lo nggak makan, Kak?”
“Nanti,” jawab Devan cepat. “Lo... kenapa nggak mau natap gue?”
“Gue lagi makan.”
“Bohong.”
“Terserah lo. Yang jelas, gue lagi makan dan gue harus berkonsentrasi. Lagian, makan sambil ngobrol itu sesuatu yang nggak baik.”
“Apa lo lupa kalau dulu lo selalu ngobrol sama gue setiap kali kita makan?” tanya Devan langsung. Dia bisa melihat gerakan tubuh Zeva yang berubah kaku. “Kita bahkan selalu ketawa bareng dulu, meskipun kita lagi makan. Lupa?”
“Masa lalu nggak baik dikenang terus-terusan.” Zeva berkata tegas. “Ada beberapa hal yang lebih baik dilupakan daripada harus ada tetapi selalu menorehkan luka yang mendalam.”
“Apa... lo bersikap seperti ini karena lo suka sama gue?”
Zeva langsung mendongak dan matanya bertemu dengan mata Devan. Laki-laki itu menatapnya tegas dan mengurung gerakan tubuh Zeva hanya dengan melalui tatapan matanya.
“A—apa maksud lo, Kak?”
“Lo suka, kan, sama gue? Sejak kuliah dulu?”
“Itu....”
“Kenapa? Kenapa lo lebih memilih diam dan ngebiarin diri lo sakit? Kenapa lo nggak ngasih tau gue? Gue berhak tau soal perasaan lo ke gue, Va!”
“Dan gue juga berhak untuk tetap diam, Kak!” Zeva menggebrak meja dan langsung berlari meninggalkan Devan yang berseru memanggil namanya. Zeva tidak pernah menoleh lagi ke belakang karena dia ingin menyembunyikan tangisnya.
Tuhan... kenapa perasaan cinta yang harusnya bisa membahagiakan dirinya, justru membuatnya semakin menderita?
###
Keylo bermain futsal di lapangan belakang kantornya dengan tidak fokus. Sudah sore dan sosok Zeva tidak terlihat lagi sejak gadis itu pergi meninggalkan kubikelnya. Rasa khawatir dan cemas semakin merasuk didalam dirinya, hingga dia beberapa kali mengaduh kesakitan kerena terkena tendangan bola. Inilah rutinitas Keylo dan beberapa rekan kerjanya setiap Senin sore dan Jum’at sore. Mereka selalu menyempatkan diri untuk bermain futsal dari jam lima sore sampai jam tujuh malam.
Itu artinya, Zeva juga sudah menghilang selama kurang lebih empat jam!
“Keylo! Tendang bolanya! Malah bengong, lagi!” seru Yoyo, temannya dari bagian pemasaran. Keylo yang tersentak langsung mengangguk dan menendang bola yang berada di kakinya. Sayangnya, konsentrasinya yang memang sudah buyar sejak permainan awal dimulai, membuat laki-laki itu menendang bola ke arah yang berbeda dari instruksi Yoyo. Keylo mengikuti arah bola tersebut melayang di udara dan detik itu juga, kedua matanya terbelalak hebat.
“ZEVAAAA!!! AWAS!!!”
Sialnya, Zeva juga seperti sedang berada di dimensi lain. Keylo berdecak jengkel dan langsung berlari ke arah Zeva, ketika dia melihat bola mengenai kepala gadis itu dan tubuh Zeva langsung kehilangan keseimbangan. Langsung saja, Keylo menahan tubuh Zeva dan menepuk pipi gadis itu pelan.
“Va? Zeva, bangun, dong....” Keylo benar-benar cemas sekarang, karena Zeva tetap menutup kedua matanya. Laki-laki itu kemudian langsung mengangkat tubuh Zeva kedalam pelukannya dan membawa gadis itu kedalam kantor. Direbahkannya tubuh Zeva dengan hati-hati di atas sofa yang berada di lobby depan.
“Va? Ya Allah, Va... bangun, dong!” Keylo mengelus rambut Zeva dan membelai pipi gadis itu dengan lembut. Keylo melirik ke kanan dan ke kiri. Haruskah dia memberi napas buatan kepada Zeva?
“Ah, ini bukan dicium, tapi ngasih napas buatan!” serunya gemas pada diri sendiri. Laki-laki itu menarik napas panjang dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Zeva. Perlahan, wajah keduanya semakin berdekatan. Jantung Keylo pun berdegup kencang tanpa sadar dan Keylo sama sekali tidak sempat memikirkan kenapa hal itu bisa terjadi padanya.
Ketika bibirnya akan mendarat pada bibir Zeva guna memberikan CPR, mendadak, gadis itu membuka kedua matanya. Keylo baru menyadari bahwa kedua mata Zeva benar-benar indah dengan bola mata berwarna cokelat terang. Zeva saat ini melotot maksimal dan langsung mengangkat kepalanya dan dengan sengaja membenturkan kepalanya ke arah kepala Keylo. Benturan yang lumayan keras itu membuat Keylo mengerang dan dengan satu gerakan cepat, laki-laki itu berdiri menjauhi sofa.
“Zeva! Lo udah gila?!” seru Keylo kesal sambil mengusap jidatnya yang terasa nyeri. Di depannya, Zeva juga meringis menahan sakit. Sudah terkena bola, sekarang dia harus membenturkan kepalanya ke kepala Keylo demi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
“Lo mau ngapain gue, hah?!” teriak Zeva berang. Gadis itu duduk dan menutup dadanya dengan kedua tangan. Kedua matanya menatap nyalang Keylo yang hanya mendengus dan bersedekap. “Ngapain lo pake acara mau nyium-nyium gue segala?! Dasar tengil m***m!”
“Kalau ngomong disaring dulu, ya, Mbak.” Keylo balas melotot dan mendekati Zeva. Gadis itu semakin menyudutkan dirinya di sisi sofa dan kedua tangannya semakin menutupi bagian depan tubuhnya. Tanpa disangka, Keylo malah mengetuk jidat Zeva beberapa kali, sebelum kemudian berkata, “Pikiran lo yang m***m, kali.”
“Sialan!” sungut Zeva keki. Gadis itu bangkit dari sofa dan mendorong tubuh Keylo keras, membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah ke belakang. “Mulai sekarang, lo jaga jarak sama gue, oke?!”
Tanpa berniat untuk mencegah, Keylo membiarkan Zeva pergi sambil bersungut-sungut ria. Keylo menahan tawa dan memalingkan wajah. Laki-laki itu kemudian menaikkan satu alisnya dan tersenyum miring.
“Gaza? Lo ngapain di kantor gue?” tanya Keylo heran. Dia mendekati sosok laki-laki yang saat ini bersandar pada sebuah dinding sambil menatap Keylo dan punggung Zeva yang mulai menjauh secara bergantian. Tatapan mata laki-laki yang dipanggil oleh Gaza itu terlihat dingin dan tegas. Rambutnya dibiarkan memanjang hingga mencapai tengkuk, hidung yang mancung serta rahang yang tegas. Wajahnya tidak jauh berbeda dengan wajah Keylo.
“Gue izin kuliah soalnya nyokap nyuruh kita buat segera ada di rumah jam tujuh malam.” Gaza memberikan informasinya dengan cepat dan menunjuk sosok Zeva dengan menggunakan dagu. “Siapa dia, Kak?”
“Teman.”
“Galak banget.” Gaza mencibir dan melirik Keylo sekilas. “Buruan, nyokap udah nunggu di rumah. Kak Verco lagi on the way.”
Keylo mengangguk dan menoleh sekali lagi ke belakang. Zeva sudah tidak terlihat lagi. Tanpa bisa dicegah, laki-laki itu terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya. Geli dengan sikap galak Zeva.
###
“Kenapa kamu mau kita putus?”
Pertanyaan laki-laki itu hanya dibalas dengan tatapan datar dari gadis bermata abu-abu di depannya tersebut. Mereka sudah berpacaran selama dua tahun dan seingat laki-laki itu, dia tidak pernah memiliki masalah dengan gadisnya. Dan sekarang, tiba-tiba saja, gadisnya meminta mereka untuk putus?
“Aku suka sama cowok lain.”
Pernyataan itu menghantamnya telak di ulu hati. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Dia membeku dan menatap dingin ke arah gadis tersebut. Tidak ada raut wajah bersalah sama sekali. Yang ada hanyalah tatapan dan raut wajah datar.
“Oke. Kita putus.” Laki-laki itu mengangguk tegas dan memutar tubuh. Sebelum benar-benar pergi, dia menoleh dan berkata, “Kamu tau, kan, kalau karma itu selalu ada?”
Dengan satu gerakan cepat, orang tersebut bangun dari posisi tidurnya. Peluh membasahi wajahnya. Napasnya terengah-engah dan tubuhnya gemetar hebat. Sepertinya, dia sempat berteriak sebelum terbangun, karena sekarang, pintu kamarnya terbuka.
“Lo kenapa, Kak?”
Dia tersenyum tipis sebelum menjawab, “Gaza... gue habis mimpi buruk, nih. Mimpiin orang sialan yang udah bikin gue hancur waktu itu!”
“Neyla?”
“Siapa lagi?” Keylo menarik napas panjang dan menatap Gaza dengan tatapan menerawang. “Gue cuma bertanya-tanya, apa Neyla udah mendapatkan karmanya, ya?”
“Lo dendam sama dia, Kak?”
“Gue? Dendam?” Keylo tertawa pelan. “Kalau gue dendam, mungkin gue udah bikin masa depan dia suram waktu itu, setelah dia bilang kalau dia mutusin gue karena dia suka cowok lain. Nyatanya? Gue lebih memilih diam dan tenggelam dalam luka gue sendiri, kan?”
“Yah....” Gaza mengangkat bahu tak acuh. “Gue cuma beranggapan kalau didalam sudut hati lo yang paling dalam, lo masih cinta sama Neyla.”
“Hah?”
“Lo udah coba move on dan nyatanya lo udah bisa, kan? Setidaknya, itu yang coba lo tunjukin ke gue sama Kak Verco. Juga semua teman-teman lo. Sekarang, lo mimpiin dia lagi? Apa lo tau artinya?”
“Yeah... i’m stuck on her!”
“Good guy!”
###