11

4015 Kata
Keylo merasa pundaknya diputar paksa dan tiba-tiba saja sebuah hantaman keras sudah mendarat pada wajahnya. Laki-laki itu terjerembap sambil terkekeh geli dan mengusap darah yang mulai muncul pada sudut bibirnya. Dia bisa mendengar sentakan napas Zeva, membuatnya mendongak dan menatap wajah gadis yang baru saja diciumnya itu. Zeva menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menoleh ke samping kiri. Keylo mengikut arah pandang Zeva dan kembali terkekeh geli, membuat Zeva mengerutkan kening dan merasa tidak mengenali sosok Keylo yang ada di hadapannya itu. Sementara itu, ciuman secara tiba-tiba yang dilakukan oleh Keylo pun masih terasa di bibirnya. Hangat dan lembut. Tapi juga terasa sedikit menyakitkan karena Keylo melakukannya dengan sedikit paksa.             Di samping Zeva, Devan menahan geram. Dia langsung berlari menerjang Keylo, begitu dilihatnya Zeva dicium oleh laki-laki itu dari kejauhan. Devan bahkan tidak mengingat lagi bahwa dia sedang bersama dengan Neyla.             “Mau jadi pahlawan kesiangan, hmm?” tanya Keylo dengan nada mengejek. Dilihatnya Neyla berjalan dengan langkah pelan, mendekati Zeva dan Devan. “Apa lo nggak pernah ngajarin cowok lo untuk nggak mencampuri urusan orang lain, Ney? Bukannya itu yang selalu lo ajarin ke gue dulu, sewaktu kita menjalin kasih? Supaya nggak mencampuri urusan percintaan orang lain sekalipun orang itu adalah teman?”             Neyla diam. Sama seperti Zeva, Neyla pun merasa tidak mengenali sosok Keylo saat ini. Keylo seperti menjelma menjadi pribadi yang berbeda.             “Apapun yang ada kaitannya sama Zeva,” kata Devan dengan suara sarat akan emosi. “Jadi urusan gue juga!”             “Wah... wah....” Keylo bertepuk tangan dengan tempo lambat. Laki-laki itu kemudian bangkit berdiri dan memasang tubuhnya tepat di depan tubuh Devan. Kedua laki-laki yang hampir sama tinggi itu saling tatap. Devan dengan tatapan tajamnya, sementara Keylo dengan tatapan mengejeknya. “Kenapa urusan Zeva jadi urusan lo juga? Emangnya dia siapanya elo? Pacar? Gue rasa pacar lo itu yang sekarang berdiri tepat di belakang lo.”             Seakan baru saja ditampar, Devan langsung tersentak. Laki-laki itu menoleh ke belakang dan melihat Neyla yang menatapnya dengan tatapan datar. Tatapan tanpa ekspresi. Ya Tuhan... sudah berapa kali dia menyakiti gadis ini?             “Key... lo kenapa, sih?” tanya Zeva yang sejak tadi hanya bisa diam. Dia menatap tepat ke manik mata Keylo, berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi pada laki-laki itu. “Kenapa sikap lo jadi aneh begini?”             “Aneh?” ulang Keylo. “Gue nggak aneh sama sekali. Yang aneh itu justru... si b******k ini!”             Dan tanpa diduga, Keylo langsung menghajar wajah Devan. Devan yang sudah jatuh terjerembap pun masih terus dihajar oleh Keylo secara bertubi-tubi. Zeva dan Neyla hanya bisa terkejut dan berusaha memisahkan keduanya. Tapi, tenaga mereka jelas tidak sebanding dengan tenaga kedua laki-laki itu.             Keadaan kini berbalik. Devan yang mulai terbakar amarahnya, langsung menendang perut Keylo dengan menggunakan lututnya. Kemudian, Devan menarik kerah kemeja Keylo, memaksa Keylo untuk berdiri dan kembali memberinya hantaman keras. Saat itu, Zeva berteriak keras ketika Devan akan kembali meninju wajah Keylo. Gadis itu berlari, memasang tubuhnya tepat diantara kedua laki-laki itu dan merentangkan kedua tangannya. Matanya terpejam kuat-kuat saat Zeva melihat kepalan tangan Devan yang mengarah tepat ke wajahnya.             Hanya tinggal satu senti lagi!             Kalau saja refleks tubuh Devan tidak cepat, laki-laki itu pasti sudah meninju wajah mulus Zeva. Kepalan tangan Devan gemetar karena menahan emosi juga karena kecemasan yang sudah membuncah hebat akibat memikirkan apa yang akan terjadi pada Zeva jika dia telat sedetik saja menahan laju kecepatan tangannya. Di belakang Zeva, Keylo hanya diam. Berdiri dengan wajah memar dan luka dan menatap belakang kepala Zeva dengan tatapan datar.             Gadis ini melindunginya.             Kenapa? Kenapa Zeva harus melindunginya jika gadis itu bahkan belum bisa memaafkan tindakannya yang tanpa sengaja sudah melupakan saudara kembar Zeva karena amnesia sialan itu? Kenapa Zeva harus melindunginya jika gadis itu bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mencintainya? Kenapa?             Kedua mata Zeva terbuka perlahan. Gadis itu menatap Devan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Neyla sendiri memalingkan wajah, tidak tahan berlama-lama menyaksikan kejadian ini. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan luapan sakit hati yang mulai menyerangnya tanpa ampun.             “Va! Elo sadar nggak kalau tadi itu bisa berakibat fatal?!” seru Devan keras. “Elo rela naruh diri lo sendiri dalam bahaya cuma karena mau ngelindungin si b******k ini?!”             “Elo ngatain gue b******k, sementara lo sendiri apa? b******n? k*****t? Atau, ada lagi kosakata yang lebih rendah untuk menggambarkan diri lo selain dua kosakata yang barusan gue sebutin?”             Keylo mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Dia menatap Devan dengan tatapan dingin usai membalas ucapan Devan pada Zeva tadi. Seenaknya saja Devan mengatainya b******k!             “Apa lo bilang?!”             Keylo tertawa mengejek. “Nggak sadar, Bung? Selama ini, Zeva selalu cinta sama lo! Gue ulang, ya... DIA SELALU CINTA SAMA LO!” Keylo membuang ludah ke samping tubuhnya. Dia bisa melihat tubuh Zeva yang gemetar hebat di depannya. “Tapi, apa lo bahkan sadar akan hal itu? Nggak, kan? Lo nggak peka sama perasaannya! Dan sekarang, lo baru sadar kalau lo butuh Zeva, gitu? Lo baru sadar kalau lo sayang dan cinta sama Zeva, gitu? Terus, mau lo kemanain si Neyla? Hmm? Mau lo jadiin pajangan dulu? Oh, gue tau! Lo mau nyoba buat poligami. Praktek duluan gitu, sebelum nikah. Kalau berhasil, lo bisa langsung ajak nikah mereka berdua.”             “Diam!”             “Kenapa? Nggak terima sama ucapan gue? Mau mukul gue? Mau nonjok gue lagi? Ayo, sini! Biar gue bisa balas semua perbuatan lo itu dengan lebih keras. Biar gue bisa balas semua rasa sakit hati Zeva selama ini ke lo. Kalau perlu, gue bakalan buat lo mati sekarang juga!”             “Key... udah...,” pinta Zeva lirih. Gadis itu memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan tubuh tegap Keylo. Jemarinya menarik ujung kemeja yang dikenakan oleh laki-laki itu dan kepalanya tertunduk lesu. “Udah... jangan diperpanjang lagi.”             “Coba kalau lo yang ada di posisi Zeva,” ucap Keylo lagi, tanpa memperdulikan permintaan Zeva dan masih menggunakan nada suara sinisnya. Tatapan matanya pun tidak pernah lepas untuk menatap Devan. “Lo bakal ngelakuin apa? Gue rasa, sih, lo nggak akan tinggal diam. Lo nggak akan pernah rela kalau misalkan Zeva pergi bareng cowoknya, sementara lo memendam perasaan cinta lo ke dia. Gue laki-laki. Gue tau apa yang ada dipikiran laki-laki. Dan kalau lo emang laki-laki, bukannya banci yang kebetulan punya postur tubuh laki-laki, lo pasti paham kemana arah pembicaraan gue tadi.”             Atmosfer disana semakin mencekam. Hanya Keylo yang terus berbicara atas kepentingan Zeva. Supaya gadis itu tidak perlu merasa sakit hati dan sedih setiap harinya. Supaya gadis itu mau membuka matanya lebar-lebar, bahwa Devan, sama sekali tidak pantas untuk ditangisi apalagi sampai ditunggu sebegitu lamanya!             Bahwa ada seorang laki-laki yang bernama Keylo, yang jatuh cinta padanya dan rela melakukan apapun untuk membuatnya bahagia.             “Dengar, Devan... gue hanya akan bicara satu kali dan gue harap lo camkan ini baik-baik di otak lo.” Keylo menarik pergelangan tangan Zeva, mengajak gadis itu untuk ikut maju bersamanya namun menempatkannya tepat di belakang punggungnya. Kemudian, Keylo yang sudah mempersempit jarak diantara dirinya dan Devan, menunjuk wajah Devan lurus-lurus. “Jangan pernah coba-coba lo dekatin Zeva lagi! JANGAN PERNAH! Lo nggak tau dengan siapa lo berhadapan, Van... lo nggak tau apa yang bisa gue perbuat untuk menjaga dan melindungi orang yang gue cintai! Dan gue... sampai hela napas gue yang terakhir, nggak akan pernah biarin lo merebut Zeva dari gue. Karena apa? Karena gue CINTA sama dia! Paham, lo?!”             Selesai mengucapkan hal tersebut, Keylo menarik Zeva untuk menjauh dari Devan. Ditatapnya Neyla sebentar, memberikan isyarat pada gadis itu untuk menjaga pacarnya baik-baik supaya tidak mengganggu Zeva lagi.             Sepeninggal Keylo dan Zeva, Devan menggeram. Dia menendang kerikil yang berada di dekat kakinya dengan keras. Kedua tangannya mengepal kuat sampai buku-buku tangannya memutih.             “Van... aku....”             “Kita udah selesai, Ney. Kamu yang menyetujui permintaan aku tadi. Nggak ada yang perlu kita omongin lagi. Aku capek.” Laki-laki itu melonggarkan dasinya, membuka dua kancing atas kemejanya dan berjalan meninggalkan Neyla yang jatuh terduduk dengan beralaskan lutut. Gadis itu menekan kuat dadanya. Sakit. ### Gaza menyilangkan kaki kanannya ke kaki kiri sambil menikmati es jeruknya. Udara sangat panas hari ini, membuat kerongkongan Gaza terasa kering. Rasanya, dia tidak bisa cukup hanya dengan segelas es jeruk. Dia harus memesan es ini lagi, atau kalau perlu, dia akan membeli es teler juga es buah.             Saat sedang asyik meminum es jeruknya, tiba-tiba melalui ekor matanya, dia menangkap sosok Catherine. Lagi-lagi, Catherine sedang bercanda dengan Keanu. Gaza menaruh gelasnya di atas meja dan berdecak jengkel. Teringat lagi olehnya tantangan yang dilayangkan oleh Keanu padanya.             Lalu, perasaan cemburu itu hadir kembali saat dia melihat bagaiman Keanu mengacak rambut Catherine dengan lembut, membuat Catherine tersipu malu. Gadis itu menundukkan kepala dan bertingkah seolah-olah sedang malu dengan ucapan Keanu yang entah apa itu, yang dibisikkan di telinga gadis itu.             Masa, sih, gue beneran suka sama dia? Batin Gaza.             Gaza mengangkat satu alisnya ketika tanpa sengaja, Catherine menoleh ke arahnya. Gadis itu kemudian mencibir dan memalingkan wajah, lantas kembali mengobrol dengan Keanu. Lalu, dia melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Keanu yang sedang tersenyum lebar.             Dan... betapa Gaza ingin sekali melemparkan bom ke wajah Keanu, saat dia melihat laki-laki tengil itu mengangkat ibu jarinya ke udara lalu membalikkannya ke bawah!             Kurang ajar! ### Catherine berjalan dengan langkah santai. Udara panas hari ini membuat gadis itu ingin cepat-cepat berada di rumah, tidur di atas kasurnya yang empuk dengan ditemani si Tweety, boneka burung kuning berkepala besar miliknya itu sambil menyalakan pendingin ruangan dan ditemani dengan segelas s**u dingin. Membayangkannya saja sudah membuat gadis itu tersenyum riang.             Kemudian, langkah kakinya terhenti saat sudah berada di persimpangan jalan dan hendak menyebrang. Gadis itu mengerjapkan mata dan melihat Gaza sedang membonceng seseorang yang tidak dikenalnya. Sepertinya, gadis yang dibonceng oleh Gaza itu adalah anak fakultas lain. Tapi... tunggu dulu. Rasanya, Catherine pernah melihat wajah gadis itu sebelumnya. Bukankah itu... Kakak tingkat mereka? Benar! Itu Pricillia, Kakak tingkat mereka! Anak semester tujuh. Ya ampun! Masa, sih, si Gaza doyannya sama yang lebih tua? Odipus complex kayaknya!             Tanpa sadar, Catherine jadi sewot sendiri. Gadis itu mengerutkan kening dan bertanya-tanya dalam hati, ada hubungan apa diantara Gaza dan Pricillia. Asyik dengan pemikirannya, tiba-tiba, Catherine tersentak. Dia ingat sesuatu.             “Bukannya beberapa kali, gue juga pernah liat si Keanu jalan sama Kak Pricillia, ya? Masa iya, si Keanu juga doyannya sama yang lebih tua?”             Catherine berdecak dan menggigit bibir bawahnya. Gadis itu kemudian menggelengkan kepala, ketika sebuah gagasan paling aneh yang pernah muncul di benaknya mengganggu hatinya sendiri. Lalu, Catherine memutuskan untuk tidak memikirkan kemunculan Gaza bersama Pricillia itu dan mulai menyebrang.             Sayangnya, dia tidak memperhatikan keadaan sekitar.             Dari arah kanan Catherine, muncul sebuah mobil Avanza dengan kecepatan lumayan tinggi. Catherine tidak sadar dan terus saja melangkah. Pikirannya ternyata masih melayang kepada Gaza dan Pricillia, juga Keanu dan Pricillia. Memikirkan ada hubungan apa diantara kedua laki-laki itu dengan Pricillia. Catherine baru tersadar jika ada mobil yang melaju kencang ke arahnya saat dia mendongak dan melihat tampang tegas dan tatapan penuh kecemasan yang dilayangkan oleh Gaza padanya. Laki-laki itu juga bahkan berlari cepat ke arahnya.             Lalu, tubuhnya diterjang dengan keras oleh Gaza, menyebabkan keduanya berguling di atas aspal. Gaza melindungi kepala Catherine dengan kedua tangannya dan berusaha membuat gadis itu tidak terluka. Ketika kemudian dia sadar bahwa posisi Catherine akan membentur ke trotoar, Gaza menggulingkan sekali lagi tubuh mereka hingga punggungnya lah yang membentur trotoar tersebut dengan keras. Laki-laki itu mengerang kesakitan lantas memejamkan kedua matanya.             “Lo... nggak apa-apa?” tanya Gaza mengabaikan rasa nyeri dan sakit pada punggungnya. Dia membuka matanya dan melihat Catherine tidak merespon ucapannya. Mata gadis itu tertutup. “Cate! Jangan main-main sama gue! Lo nggak apa-apa, kan?!” seru Gaza.             Tak lama, secara perlahan, gadis itu mengerang pelan dan membuka kedua matanya. Dia menyipitkan mata, mengerjap lantas terbelalak saat mendapati wajah Gaza berada sangat dekat dengan wajahnya dan tubuhnya berada dalam pelukan laki-laki itu.             “Ga... za...?”             “Bego! Nyebrang jalan malah ngelamun!” omel Gaza. Laki-laki itu melepaskan tubuh Catherine dan bangkit lebih dulu. Sekuat tenaga dia menahan erangan agar tidak lolos dari mulutnya akibat rasa sakit pada punggungnya yang semakin menjadi. Dia mengulurkan tangan, membantu Catherine untuk berdiri dan menoleh ke arah Avanza yang masih berada di tengah jalan. Gaza menghampiri pengendara tersebut, membungkukkan tubuh untuk meminta maaf atas kecerobohan Catherine lalu menatap gadis itu kembali.             “Pulang apa tetap mau disitu? Gue mau pulang.”             Maksudnya?             “Lo mau bareng, nggak?” tanya Gaza seolah mengerti jalan pikiran Catherine saat ini.             “Bukannya tadi lo sama Kak Pricillia? Gue liat lo bonceng dia tadi.” Catherine berkata dengan nada heran. Dia juga baru sadar, kenapa tiba-tiba Gaza bisa muncul dan menolongnya dari tabrakan Avanza tersebut. Kemana Pricillia menghilang?             “Pricillia gue turunin di ujung jalan dan gue cariin taksi. Gue tadi ngeliat lo makanya gue mutusin buat nyamperin elo.”             Hah? Tega banget si Gaza!             “Lo jadi laki-laki, kok, tega banget? Nurunin Kak Pricillia di tengah jalan kayak gitu.”             “Ralat! Gue turunin Pricillia di ujung jalan, bukan di tengah jalan.” Gaza meringis sejenak, lalu cepat-cepat menormalkan wajahnya kembali ketika melihat Catherine menatap curiga padanya. “Buruan! Mau bareng apa nggak?”             “Eh... iya, deh.” Catherine terpaksa menyetujui. Lagian, setelah kejadian barusan, lututnya masih terasa lemas dan kepalanya sedikit pusing. Jadi, lebih baik dia pulang bersama Gaza. Untuk sementara, terpaksa melakukan gencatan senjata.             Di tempat lain, sebuat motor sport berwarna merah menyalip sebuah taksi yang sedang melaju pelan. Si supir taksi terpaksa menginjak pedal rem kuat-kuat untuk menghindari kecelakaan dengan pengendara motor sport tersebut. Pricillia yang duduk di kursi penumpang menyipitkan kedua matanya dan tersenyum manis saat si pengendara motor membuka helm-nya. Rambut orang tersebut berkibar diterpa angin.             Pricillia membayar ongkos taksi dan mengucapkan terima kasih. Dia turun dari dalam mobil dan berjalan menuju motor sport tersebut.             “Tau darimana gue disini?” tanya Pricillia dengan nada lembut. Dia merapihkan rambut tebal orang yang masih duduk di atas jok motornya.             “Gue niatnya mau ngasih diktat kuliahnya si Cate yang nggak sengaja kebawa sama gue, makanya gue ngejar dia. Nggak taunya, gue disuguhin pertunjukan yang asyik banget tadi.” Orang itu meraih tangan Pricillia dan mencium punggung tangannya, membuat rona merah menjalar pada pipi gadis itu. “Pulang?”             “Boleh.” Pricillia mengangguk. Dia naik ke jok belakang motor sport tersebut dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang orang itu. “Ngomong-ngomong, Keanu... Papa sama Mama nanyain lo melulu. Kapan main ke rumah lagi?”             “Nanti gue kesana.” Keanu menoleh ke belakang dan mengedipkan sebelah matanya. “Bilang sama Oom Farhan dan Tante Mitha, gue bakalan kesana malam Minggu nanti sama Lexna dan si kembar.” ### Gaza yang ternyata sudah lebih dulu sampai di rumah langsung terheran-heran ketika mendengar suara deru mesin mobil berhenti tepat di depan rumah. Laki-laki itu, yang sedang duduk bersandar di sofa dengan malas bersama Verco yang memang sedang tidak ada jadwal praktek di rumah sakit, langsung menoleh ke arah pintu rumah. Pun dengan Verco yang sedang melahap roti bakarnya.             Sosok Keylo muncul disana. Dia tidak sendiri.             Dia bersama Zeva!             Zeva sebenarnya sudah memberontak sejak diseret kembali ke kantor dan dipaksa masuk kedalam mobil oleh Keylo. Tapi, percuma saja. Tenaga Keylo itu seperti tenaga sapi yang sedang mengamuk! Kuatnya bukan main!             “Key! Lepasin, nggak?! Lepasin!” teriak Zeva keki. Gadis itu masih saja berusaha memberontak, tapi Keylo seakan berubah menjadi batu. Dia masih saja menyeret Zeva dan mendorong gadis itu sampai terduduk di atas sofa. Verco langsung menahan tubuh Zeva yang sempat limbung itu.             “Siapa, Key?” tanya Verco. Bingung. Sementara Gaza hanya melirik Zeva tanpa minat. Dia pernah bertemu sekali dengan gadis ini di kantor Keylo. Gadis galak yang berseteru dengan Abangnya itu.             “Cewek yang gue hamilin!” tandas Keylo asal, membuat kedua mata Zeva membulat maksimal. “Mana nyokap sama bokap?”             “Lagi pergi. Kenapa?”             “Mau minta restu!” Keylo menatap Verco tepat di manik mata. “Lo mau minta apa?”             “Maksud?”             “Gue bakalan ngelangkahin lo, kan? Jadi, lo berhak minta apapun dari gue dan gue kudu nyetujuin karena gue bakalan nikah sebelum lo.”             “KEYLO!” seru Verco dan Zeva bersamaan. Keduanya saling tatap sedangkan Gaza menatap ke arah televisi kembali dengan tatapan malas. Pusing dia dengan keributan ini.             “Za!”             “Hmm?” sahut Gaza malas.             “Lo awasin dia. Jangan sampai kabur! Gue mau mandi terus ngegebuk drum! Stres gue!”             “Hmm....”             “Kalau sampai dia kabur, elo bakalan gue cincang!”             “Hmm....”             “Jangan cuma ‘hmm-hmm’ aja, lo. Ngerti, nggak?”             “Bacot! Gue cipok juga, lo, Bang!” Gaza mendengus dan memindah acara televisi. Diliriknya Keylo yang kini naik ke lantai dua. Menuju kamar laki-laki itu. Kemudian, lirikannya beralih kepada Zeva.             “Lo dengar, kan, apa yang diucapin sama Abang labil gue itu?” tanya Gaza dengan nada datar. “Kalau lo nggak bersikap kooperatif, gue bakalan ngurung lo di bagasi mobil.”             Sementara Zeva melongo, Verco justru kebingungan. Dia menatap Gaza, meminta adik bungsunya itu untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, tapi adiknya itu menolak memberikan konferensi pers. Verco akhinya beralih kepada Zeva, satu-satunya oknum yang berurusan langsung dengan Keylo hingga membuat adiknya itu menjadi senewen.             “Hai... gue Verco... Kakaknya Keylo. Lo?”             Ragu, Zeva menyunggingkan seulas senyum dan mengangguk pelan. “Zeva. Zevarsya Venzaya.”             Zevarsya Venzaya... Verco merenung dalam hati. Sepertinya, nama itu tidak terdengar asing. Nama itu mirip dengan nama gadis yang dulu sempat dekat dengan Keylo namun akhirnya meninggal dunia.             Nama itu mirip dengan nama... Zevi. ### Suara drum membahana sampai ke lantai satu. Zeva yang merasa kikuk dan canggung berada di ruang tamu hanya berdua bersama Gaza mulai bergerak gelisah. Verco sudah pamit kepadanya. Dia harus menyelesaikan sesuatu dan pergi menuju kamarnya.             “Kalau nggak nyaman sama gue, mending susul Bang Keylo di lantai dua.” Gaza bersuara, menyadari kegelisahan dan keresahan Zeva. “Nanti, pas di lantai dua, lo belok kanan. Terus, lo ke ruangan paling pojok. Disitu Abang gue yang labil lagi ngegebuk drum.”             Zeva buru-buru mengangguk dan setengah berlari menuju ruangan yang ditunjuk oleh Gaza. Di tempatnya, Gaza tersenyum geli melihat kelakuan Zeva dan menggelengkan kepalanya.             “Dasar pasangan labil,” gumamnya geli.             Di depan ruangan yang sudah ditunjuk oleh Gaza tadi, Zeva menarik napas panjang dan menyentuh gagang pintu. Dia membuka pintu itu dengan pelan dan melihat punggung Keylo. Laki-laki itu sedang sibuk memukul drumnya dan melantunkan sebuah lagu.   She left me hangin' by a thread again I stood there waiting like a fool for her I never dreamed that I'd be in this place But here I am all alone It's not the first time that she's walked away Changed all our plans within the blink of an eye And looking back it's always been the same But I refuse to see it all for what it was               Aduh... galau banget itu lagunya, batin Zeva. Gadis itu meringis aneh, merasa bersalah dengan perubahan sikap Keylo hari ini. Gadis itu tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Hanya diam di ambang pintu,memperhatikan Keylo yang entah kenapa terasa keren dengan kaus lengan panjang yang dia kenakkan, walaupun laki-laki itu memunggunginya.   Has anybody ever felt this way Has anybody been ripped apart Anybody give everything to the one they love Am I the only one left behind Am I the only one who hates goodbyes God I know this can't go on forever I wonder if she ever thinks of me And all the promises she swore to keep Some nights I lay in bed just burning up 'Cause I know that she's out with someone else!               Zeva menimbang-nimbang dalam hati. Dia harus mendatangi Keylo atau tidak? Kalau dia mendekati Keylo, apa yang harus dia katakan pada laki-laki itu? Meminta maaf? Tapi, dia masih... dia masih... aduh! Tanpa sadar, wajahnya memerah. Ciuman itu masih terekam jelas dalam ingatannya. Dan membuat jantungnya berdetak seperti tabuhan drum Keylo.   I was the one who gave up everything for her When no one would listen I heard every word, oh It took me so long to see that maybe I am better off alone Has anybody ever felt this way Has anybody been ripped apart Anybody give everything to the one they love Am I the only one left behind Am I the only one who hates goodbyes God I know this can't go on forever God I know this can't go on All I wanna do is just move on God I know this can't go on forever Yeah I know this won't go on forever God I know this can't go on forever   (Jesse McCartney-Anybody)             Dengan satu tabuhan yang sangat keras, Keylo mengakhiri permainannya juga mengakhiri nyanyiannya. Dia membanting stik drum tersebut dan meremas rambutnya frustasi. Ya Tuhan! Apa si Zeva itu tidak tahu bahwa dia sangat mencintainya? Harus dibuka pakai apa, sih, kedua mata Zeva itu supaya dia sadar? Dicongkel pakai obeng, apa!             “Key,” panggil Zeva lirih. Akhirnya, gadis itu memberanikan diri untuk memanggil Keylo.             Keylo bergeming. Dia tetap memunggungi Zeva. Kedua matanya terpejam kala mendengar suara lembut gadis itu.             “Maafin gue, ya?” Gadis itu kembali berbicara. Senyuman itu muncul di bibirnya. “Gue tau, gue emang udah bego banget masih aja ngarepin Kak Devan. Gue juga minta maaf karena nggak mau ngedengerin penjelasan lo tentang Zevi. Gue benar-benar minta maaf untuk kedua hal itu. Gue cuma marah karena orang yang Zevi sering ceritain dulu dengan penuh semangat semudah itu ngelupain dia.” Zeva menarik napas panjang. “Soal Kak Devan... gue... gue sebenarnya udah nggak terlalu mikirin dia lagi... soalnya... kayaknya... gue... gue....”             Kalimat Zeva belum sempat selesai diucapkan, ketika tiba-tiba gadis itu merasa tubuhnya ditabrak dengan keras dan dipeluk dengan eratnya. Dia bisa merasakan detak jantung Keylo pada telinganya. Dan entah kenapa, dia seolah bisa membaurkan detak jantungnya sendiri dengan detak jantung laki-laki itu.             “Gue sayang sama lo.” Keylo memejamkan kedua matanya. “Gue cinta sama lo.”             Iya... gue tahu. ### Kesalahpahaman diantara Zeva dan Keylo mengenai Zevi akhirnya bisa diselesaikan. Gadis itu sudah mengerti duduk permasalahannya karena Verco juga ikut menjelaskan. Sementara ketiga orang tersebut berbicara, Gaza justru menggalau di ruang tamu sambil memakan kentang goreng. Tidak tertarik dengan permasalahan yang sedang terjadi diantara Keylo dan Zeva itu. Lagipula, dia mempunyai masalahnya sendiri.             Hari ini, Zeva duduk sendiri di sebuah kafe di dekat kantornya. Dia sedang tersenyum-senyum sendiri sambil mengingat kejadian kemarin di rumah Keylo. Bagaimana Keylo memperlakukannya seperti seorang puteri raja. Bagaimana Keylo mengenalkannya kepada kedua orangtua laki-laki itu.             Dan... bagaimana Keylo memberitahu kedua orangtuanya bahwa dia adalah gadis yang dicintai oleh Keylo. Bahwa dia adalah pacarnya.             Ya... mereka memang sudah resmi berpacaran sekarang. Zeva menerima laki-laki itu karena jauh didalam lubuk hatinya, dia memang mulai menyukai Keylo. Buat apa dia berbohong pada dirinya sendiri? Dia justru sangat berterima kasih kepada Keylo karena laki-laki itu membantunya untuk move on.             “Zeva....”             Zeva mendongak.             Di depannya... berdiri sosok Neyla.             “Maaf gue terlambat.”             Zeva mengangguk dan mempersilahkan Neyla untuk duduk. Lama mereka terdiam, sampai kemudian, Neyla mengatakan sesuatu yang membuat Zeva terkejut.             “Gue putus sama Devan. Waktu kita ketemu di taman kemarin. Waktu Devan sama Keylo berantem cuma karena lo.”             “Maksud Kak Neyla ngomong itu ke gue apa?” tanya Zeva tak mengerti.             “Elo perempuan, Va... sama kayak gue. Apa lo tega ngeliat gue kayak gini?”             Zeva menatap Neyla dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Gadis itu bisa melihat sorot kesedihan dan kekecewaan yang terpancar jelas di kedua mata Neyla. Semalam Neyla meneleponnya. Dia berkata bahwa dia mendapat nomor ponselnya dari Jasmine. Neyla bilang, dia tidak sengaja bertemu dengan Jasmine di kafe dekat kantor sahabatnya itu.             “Gue nggak ada urusannya sama masalah lo, Kak. Gue nggak tau apa-apa.” Zeva bangkit berdiri. Gadis itu berniat untuk meninggalkan resto ini, ketika suara Neyla kembali terdengar dan membuatnya terpaku.             “Bisa-bisanya lo bilang kalau ini nggak ada urusannya sama lo. Devan mutusin gue karena dia suka sama lo! Karena katanya dia mulai CINTA sama lo!”             Zeva membeku di tempatnya. Devan mencintainya? Berarti... penantiannya selama ini ternyata... membuahkan hasil?             “Gue nggak bisa tanpa Devan, Va... gue nggak bisa... gue cinta sama dia... gue nggak mau kehilangan dia... tolong... tolong balikin Devan ke gue.” Neyla menundukkan kepalanya. Dia mulai terisak. “Tolong, Va... lo perempuan dan lo pasti ngerti rasa sakit yang gue rasain.”             Apa yang harus dia lakukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN