Mas Dales kalap setelah dia mendengar jawaban yang keluar dari mulutku. Wajah ini dijadikan samsak tinju. Entah berapa pukulan yang didaratkan padaku. Menyesal? Tentu saja. Tapi berkat ini, aku jadi tahu bahwa keputusanku untuk tidak lagi menerima maafnya tidaklah salah. "Lancang kamu! Berani sekarang main laki-laki di belakangku?" Mas Dales menoyor keras kepalaku. Diam. Sedari awal aku tidak berniat membela diri, juga tidak ingin membantahnya untuk hari ini. "Bisu kamu? Jawab!" Kembali lagi pipi ini menerima tamparan dari lelaki bergelar suami tersebut. Karena tidak mendapat jawaban dariku, Mas Dales keluar dengan masih menahan amarahnya. Dia membanting pintu dan menghidupkan mobil, setelah itu semua kembali sepi. Hanya isak tangis yang sedari tadi kutahan yang terdengar. Setelah pe

