6. Pemotretan

1485 Kata
Reginald di dorong paksa agar mau untuk di dandani. Anak remaja ini akan di sulap bak model profesional. Tubuh yang tinggi atletis, rahang tegas, kulit putih, dan wajah tampan sangat menunjang untuk berprofesi sebagai model. Sayang dia tidak mau berprofesi dengan banyak kamera yang memperhatikannya. Reginald terlalu serius belajar dan berolahraga. Di ruangan ganti, professional hair stylist menata rambut Reginald agar lebih terlihat rapi dan berkilau. Wajahnya sudah di pulas make up tipis. Hidungnya semakin terlihat mancung, kulit wajahnya juga terlihat glowing. Reginald sudah menggunakan celana jeans rancangan Igum seri terbaru. Atasan baju berwarna biru dongker dengan banyak kantong dan tali. Dua kancing di buka agar kesan sexy dan machonya terlihat jelas. Tak lupa dan tulang d**a di berikan glitter agar sedikit berkilau. Dia berjalan dengan ragu menuju tempat pemotretan. Pikirannya sudah tidak karuan. Bagaimana caranya berpose? Bagaimana caranya berhadapan dengan gadis itu? Jantungnya sekarang malah ketar ketir tidak karuan. Antara takut dan senang. Takut karena tidak bisa menjadi model dan berakhir dengan kegagalan. Senang karena bisa menemukan gadis bule yang misterius. "Sial … gara-gara Om aku jadi model dadakan." keluhnya yang saat ini sudah sampai di tempat pemotretan. Sudah ada Rimelda yang duduk menunggu pasangan couple photo hari ini. Dia selalu bisa bekerja tim maupun perseorangan. Rambutnya sudah di kuncir dua, di ikat-ikat lagi dengan karet jepang dan di buat jarak antara karet ke karet, agak mengembang dan berbentuk bulat. Anak rambut di bagian depan di linting dan sengaja di buat menempel pada kulit, bergelombang bagai ombak. Wajahnya yang cantik dalam tampilan saat ini terlihat jelas baby face. Makeup natural dan tipis dengan shading warna orens. Rimelda juga menggunakan celana jeans yang terdiri dari dua bagian, inner dan outer. Inner jeans pendek, outer jeans seperti cardigan tapi untuk bagian bawah tubuh. Atasan kemeja biru dongker dan bagian dalam kemben yang hanya menutupi bagian bu*h da-da. Bagian pus*r di hias dengan tempelan crystal agar terlihat berkilau. Sungguh makhluk Tuhan paling sexy dan menawan. Sangat sesuai dengan yang Ivan Gumawan harapkan. Netra Rimelda mengedip beberapa kali saat melihat sosok pria yang semalam tidur dengannya. Apa dia sedang kelelahan dan berhalusinasi jika model sore ini adalah pria yang ia tinggalkan di hotel? Ingin mengucek matanya saja Rimelda tidak bisa. Dia takut make-upnya rusak. Maka dari itu, Rimelda mengedipkan mata lagi untuk memastikan. Ini ternyata bukan mimpi, bukan juga halusinasi. Pria semalam yang kartu tanda pengenalnya ia baca bernama Reginald ternyata pasangan modelnya saat ini. Sungguh kebetulan sekali. Rimelda tidak tahu jika Reginald memang sengaja mencarinya. Yang ia kira Reginald memang model yang bekerja dengannya sore ini. "Yuhu … ayo kita mulai." ujar Igum agar semuanya siap dengan job masing-masing. Couple yang ia lihat sangatlah serasi. Reginald sebenarnya berpenampilan menarik, sayangnya hari ini Rimelda seperti sedang tidak menyukainya. Gadis itu mengangkat satu alis. Dia tidak menyukai pria berprofesi model. Sudah bosan menjalin kasih dengan sesama profesi. Dia ingin sensasi lain, dengan mahasiswa, orang biasa, atau profesi lain. Reginald juga masih sangatlah muda. Rimelda tidak melihat kesamaan Reginald dengan pria yang ia cari. Karena itu Rimelda mending bersikap biasa saja. Rimelda kemudian tidak menyapa Reginald sama sekali. Dia hanya berdiri dan berjalan dari tempat duduk ke tempat pemotretan. Reginald menghampirinya dan photografer meminta mereka berdua untuk berpose. "Camera rolling and action!" Cekrek ... Cekrek … Cekrek …. Tidak ada kontak mata di awal foto. Mereka masing-masing melihat ke kamera. Reginald yang belum terbiasa berpose itu di ajari oleh Syifa. Lama kelamaan Reginald semakin bisa beradaptasi. Dia berpikir masa iya harus terus di ajari? Reginald kan pintar dan ingin serba bisa. Rimelda menyadari Reginald bukan orang yang sudah profesional. Maka dari itu, di awal dia yang banyak bergaya. Kali ini dia melepaskan kemeja yang ia kenakan. Menggenggamnya dengan jari telunjuk di atas bahu kanan. Pose mereka semakin dekat dan terlihat mesra. Reginald menatap wajah Rimelda dari dekat dan kedua tangannya bersandar ke tembok. Rimelda meniup permen karet hingga menggembung di depan bibirnya. Saat permen karet sudah tidak lagi menjadi ornamen pemanis pemotretan ini. Reginald di minta untuk berpose lebih mesra lagi. Kedua tangannya melingkar di pinggang Rimelda dan langsung menyentuh kulit. Tatapan mereka saling bersatu. Reginald di buat mati gaya. Rimelda tetap dalam posisi memegang kemejanya dengan satu tangan sambil menatap Reginald. 'Kenapa pria ini belum bertanya soal semalam? Apa dia tidak ingin tahu apa yang terjadi?' gumam Rimelda dalam hati. Netra Reginald melebar saat melihat pemandangan yang luar biasa. Dia salah fokus gara-gara melihat buah da-da yang hanya ditutupi oleh kain tipis berwarna putih. Putih, berisi dan masing-masing berbentuk bulat. Reginald sampai kesusahan menelan salivanya sendiri. 'Sial, kenapa sexy sekali. Apa model selalu berpenampilan seperti ini?' gumamnya dalam hati. Reginald tentu tidak akan rela jika memiliki kekasih yang memakai pakaian yang terbuka. "Ehem …." Rimelda berdehem saat menyadari lawan mainnya sedang memperhatikan sesuatu begitu serius. 'Semua pria sama saja, m***m!' batin Rimelda dalam hati. 'Mari buat dia lebih tidak bisa fokus!' pikiran jahilnya ingin membuat Reginald semakin merona. Rimelda melingkarkan tangannya di leher Reginald. Posisi pria ini menjadi lebih dekat dengan bu*h da-da Rimelda. Kedua kakinya juga ikut melingkar ke pinggang Reginald yang kokoh. "Eh …." Reginald spontan kaget apa yang Rimelda lalukan. Hal ini ini bisa saja membangunkan juniornya yang sedang tidur. 'Kita lihat, kamu akan kuat atau tidak!' batin Rimelda kemudian kepalanya agak mendongak ke belakang. Tangan kanannya menekan kepala Reginald agar semakin dekat dengan lehernya. 'Aish … kenapa cewek ini tidak ada rasa gugup atau terlihat malas bersamaku yang bukan model. Posenya malah semakin menjadi.' gumam Reginald yang sedang melihat leher jenjang Rimelda. Apa semalam dia mengecupnya? Cekrek …. Foto-foto mesra seperti pasangan kekasih agak panas dingin tapi dengan tampilan funny. Pose beralih lagi. Tidak dalam posisi berdiri melainkan posisi duduk. Rimelda duduk pada bangku yang berbentuk kotak sementara Reginald duduk di bawahnya. Rimelda mengarahkan kepala Reginald agar bersandar di pahanya yang mulus dan mengenakan celana sexy. Awalnya Reginald melihat kamera, berlanjut mengubah posisi, melihat Rimelda saat tidur di pahanya. 'Cantik juga! Setelah ini, aku akan menginterogasi.' batinnya sambil pasrah saja mau berpose apa. Selama pemotretan beralih Rimelda yang mengarahkan dia. Selama itu juga Reginald menahan debaran yang ada di dadanya. Wajah Reginald sedikit memerah. Membuat Rimelda senang karena bisa menjahilinya. Elgio dan Reyhan memperhatikan dari kejauhan. "Reginald pasti panas dingin itu. Posenya mesra begitu." Elgio membuka percakapan. Dia bisa menilai perasaan Regianald. "Dia makin nervous Om. Enak ya jadi Reginald. Dapat nanam benih di cewek cantik, sekarang ketemu eh malah jadi model, pasangan pula." Jika Reyhan semalam tidak pergi ke toilet. Mungkin dia yang beruntung dan berhasil mendekati Rimelda. "Enak ga enak, Han. Enaknya ena-ena. Gak enaknya di campakkan. Itu lihat!" Elgio pun menunjuk. "Lihat apa, Om?" Reyhan ikut memperhatikan. "Di cuekin. Gak ngomong sama sekali." Elgio dari tadi memperhatikan Rimelda. "Eh si Om lupa. Doi orang Paris. Mana lancar ngomong indo. Makanya mungkin diem aja." Reyhan membela bidadari cantik asal Paris itu. "Bener juga. Tapi seringai doi beda menurut om yang udah punya mantan pacar ratusan. Jahil, menantang dan sedikit meremehkan." Elgio tahu Rimelda antara suka dan tidak suka. "Om kek pakar ekspresi aja! Wkwkwkwk!" Reyhan terkekeh. Dia lebih tertarik melihat chemistry dari Reginald dan Rimelda. Reyhan ingin ada di posisi Reginald, bersanding dengan orang cantik dan menjadi orang terkenal. "Balik, yuk!" ajak Elgio, dia ingin mengerjai Reginald dengan meninggalkanna sendiri disini. "Lah … itu Reginald-nya gimana?" Reyhan menunjuk Reginald yang sepertinya masih lama melakukan sesi foto. "Biarin. Biar quality time bareng cewek yang ia cari." Kedua alis Elgio di angkat. Dia akan membiarkan Reginald melakukan pendekatan. "Kasian Om." Reyhan masih punya hati. Dia setia kawan dan tidak mau meninggalkan temannya sendirian. Nanti Reginald pulang naik apa. "Biarin, om udah bantu sejauh ini. Sisanya biar dia lakuin sendiri! Ayo balik, Han. Gak mau ngesot kan balik ke rumahnya?" ajak Elgio lagi sambil bangun dari tempat duduknya. "Ayo, Om. Ayo!" Reyhan akhirnya ikut. Dia tidak mau menjadi obat nyamuk di antara dua sejoli yang entah akan berteman atau bercinta. Dua pria ini meninggalkan Reginald sendirian di tempat asing. Reginald sendiri tidak tahu jika ia di tinggalkan. Pose terakhir adalah kepala yang bersandar di da-da empuk Rimelda. Reginald sedikit keberatan tetapi semua bilang itu bagus. "Memang harus bergaya seperti ini?" tanyanya yang baru membuka suara. Reginald bersikap dingin dan Rimelda juga sama. Sama-sama dingin, nanti siapa yang mengalah? "Memang seperti ini pose untuk couple." Rimelda menjawabnya ketus. "Ikuti saja arahan dariku. Kamu baru?" Rimelda akhirnya mau bertanya. "Aku disini berfoto denganmu karena terpaksa. Aku bukan model. Kamu bisa mengerti dan bisa berbahasa Indonesia?" tanya Reginald yang heran karena Rimelda memakai bahasa Indonesia. "Iya. Cepat lakukan pose ini dan kita harus berganti pakaian lagi." Rimelda memberikan perintah dan Reginald pun menurut. Reginald menelan salivanya susah payah saat dia merasakan kepalanya bersandar pada sesuatu yang terasa empuk. Foto tersebut pun di ambil dengan gaya tanpa senyuman. Reginald hendak bangun dan menoleh ke arah yang lain. Rimelda juga hendak bangun tapi sedikit kesusahan. Dia memegang pundak Reginald dan Reginald pun menoleh. Wajah Reginald terbentur bu*h da-da Rimelda. "Waduh …."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN