“Kamu melahirkan anak, tapi kamu ditinggalkan oleh suamimu!” “Kamu kira, martabatmu lebih tinggi dari istriku?” “Istriku jauh lebih mulia dari yang kamu bayangkan, ia melayani suaminya dengan baik, ia berusaha keras untuk bisa hamil, ia tidak mengeluh dengan segala pengobatan yang harus ia jalani, ia masih bisa bersikap lembut meski di hina seperti yang kamu lakukan padanya!” Tatapan Tian tajam dan penuh amarah, suaranya lantang tanpa keraguan. Ia benar-benar murka saat istrinya dihina seperti itu. “Anita, yang jelas kamu tidak sebanding dengannya. Kamu belum tentu bisa seperti dia bila dihina seperti itu. Kamu lihat istriku, berapa banyak pandangan menghina itu ada, dia tidak goyah. Dia wanita yang hebat!” “Aku yakin kamu tidak akan sekuat dia bila ada di posisinya!” “Ah, satu lagi!

