Cinta yang tak terukur

1079 Kata

Terlalu banyak pikiran, kondisi kesehatan Aqna kembali turun. Tiga hari ini dia dihadapkan dengan Zaina yang tidak mau makan, tidak mau bicara padanya, pada ayahnya juga pada Aqila.  Zaidan tidak ingin memaksa, saat Aqila hendak membawakan sepiring nasi beserta lauk kepada Zaina, dia marah. “Biarkan sajalah, nanti kalau dia lapar dia akan minta makan,” pekiknya.  “Tapi, Mas--” “Duduk!” Zaidan meminta Aqila agar duduk kembali. Meja makan hanya diisi oleh mereka berdua, Zaidan dan Aqila. Aqna yang sedang sakit kepala hanya ingin tidur, sementara Zaina sedang ngambek.  Terdengar denting-denting sendok beradu dengan piring keramik. Suapan demi suapan begitu pelan masuk ke mulut Aqila. Sementara Zaidan ingin segera selesai. Aqila menuangkan air ke gelas Zaidan hingga penuh. Namun, pria itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN