Semua orang berkumpul di rumah Zaidan untuk memberi ucapan belasungkawa. Tapi Zaidan tidak begitu menyadari dengan kebanyakan orang yang datang lalu pergi. Bukan hanya mendung atau berselimut kabut, hidup Zaidan bahkan terasa sunyi, sebagian jiwanya benar-benar pergi, direnggut paksa darinya. Marini mengusap punggung menantunya itu. "Kamu harus ikhlas, agar Aqna tenang, percayalah jika kamu ridha, maka Allah jauh lebih ridha.” Zaidan mendengar apa yang dikatakan mertuanya itu. Enam bulan. Hanya eman bulan Zaidan diberi waktu untuk bisa menikmati manisnya bahtera rumah tangga. Kini Aqna benar-benar pergi. Semua orang yang hadir melantunkan ayat suci alquran. Mendoakan almarhumah yang sudah selesai dikebumikan. Proses begitu singkat. Sampai tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepu
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


