Bab. 6 - Desas-desus

2147 Kata
Niko dan Anna saling menatap penuh tanya. Melirik tingkah Nessa dengan tampang tertekuk datar. Beberapa kertas digulung asal sampai acak-acakkan. Satu persatu dilempar ke tempat sampah sembarangan. Sejak kemarin apapun yang diperintahkan ketua Senat juga tak sungguh-sungguh dilakukan seperti biasa. "Kenapa tuh anak? Apa si manusia purba nolak dia kemarin?" seloroh Niko penasaran. Anna mengangkat bahu tak peduli. "Mana gue tahu. Tapi kayaknya sih ada yang nggak beres. Bisa jadi ditolak, bisa jadi diomelin, bisa jadi apa ya? Susah ditebak sih kelakuan si Gama," tukasnya menerka-nerka. Niko hanya manggut-manggut saja meski ia kurang agak paham. Di sisi lain, Gama baru saja tiba di ruang utama organisasi. Meletakkan ransel ke kursi dan mulai berkutat dengan komputer layar datar yang tersedia di meja putihnya. Ia memandang sebentar pada gadis di seberang tempatnya. Nessa acuh tak acuh mengetik proposal lanjutan untuk acara pentas seni. Merasa pandangan Gama beralih ke mereka, Niko dan Anna pura-pura membahas acara. Walau obrolan yang ada jadi terkesan melantur. "Ehem. Gimana kerjaan kalian? Udah beres semua? Udah dicek ulang sampai bener?" Gama berdehem dan duduk bersila setenang mungkin. "Udah kelar semua kok. Proposal pengajuan buat iklan juga udah dikirim. Tinggal nunggu jawaban aja sih," sahut Anna. "Nggak usah dipikirkin terlalu serius. Paman gue pasti setuju. Ada gunanya juga kan gue di sini," celetuk Niko percaya diri. Anna memukul lengan Niko, sebal mendengar penuturannya. Gama menunggu seorang lagi membuka suara, tapi nihil. Nessa bahkan sudah sengaja menutup dua telinga dengan headset ungu dan memutar lagu di playlist favoritnya. Jemarinya masih lincah di atas keyboard netbook pinjaman dari rekan tim. Berhubung laptopnya belum juga dikembalikan. "Ehem. Ehem. Kayaknya ada yang sengaja pira-pura nggak denger pertanyaan gue nih," sindir Sunggu melirik Nessa. Niko baru saja ingin menjawab, tapi gerak Nessa tiba-tiba membungkamnya. Gadis itu berdiri merapikan beberapa kertas, memasukkan ke dalam map biru dan menentengnya mendekat ke Gama. Diserahkannya lampiran tersebut pada sang leader team tanpa sepatah kata pun. Ia berlalu mengambil netbook juga tanpa ucapan permisi. Gama melongo, baru kali ini ia merasa sangat diabaikan. Harga dirinya seperti diruntuhkan begitu saja. Namun, ada perasaan menggelitik juga bersamaan menekan dadanya. Gama mengulum senyum tertahan. Ternyata kalau lagi ngambek keliatan lucu juga ya si Nessa. Batinnya berbicara.  "Gue terlalu banyak ngasih tugas apa ya? Kayaknya nggak sih. Apa iya?" dumel Gama pada diri sendiri. Sayup-sayup terdengar cibiran lirih dari Anna tapi tak begitu jelas. Kata-katanya hampir tertelan angin yang masuk lewat jendela terbuka di sisi kiri tembok. Suaranya seperti mengejek tak jelas. Dasar nggak peka sama sekali. ======== Kerumunan mahasiswa di halaman universitas sedang saling berbincang, bercanda, ada pula yang bersemangat dengan gosipnya. Salah satu kelompok berdesas-desus adanya hubungan spesial antara ketua Senat dengan anggota barunya. Nama Angel langsung melejit ketika gosip menyebar, terlebih ia disandingkan dengan salah satu tokoh paling berpengaruh di kampus. Kejadian hukuman membersihkan aula karena kesalahan Nessa kemarin sudah terdengar hampir seantero kampus. Pasalnya di sini seharusnya bukan hanya dia yang dapat hukuman. Bagaimanapun juga Angel ikut terlibat dalam insiden yang terjadi. Dan anehnya seorang Gama membebaskan gadis cantik putri tunggal dekan kampus dari hukuman. Itu sebabnya berita tak mengenakkan langsung mencuat. Kenapa hanya Nessa yang dibebani hukuman? Itu tidak adil. Begitu keluhan mereka terdengar. Dari alasan Gama memanfaatkan hubungan untuk mendongkrak nilai. Juga sampai kabar betapa pilih kasihnya dia. "Oh my God. Gue mggak habis pikir sih kalau si Gama kayak gitu. Gue pikir dia orangnya  paling konsisten," celetuk seorang gadis berambut pirang pendek seleher. "Sama. Gue juga nggak nyangka seleranya cewek super manja dan polos. Seriusan ya, gue ilfiel banget sama tuh cewek. Kalau ngomong sok imut banget lagi. Najis banget deh. Emosi gue jadinya," timpal temannya si body kutilang (kurus tinggi langsing). "Si Angel tuh selalu jadi bunga di kelas. Hampir seluruh dosen mengagungkannya. Ya. Apa hebatnya dia, kecuali dia anak dekan." cibir gadis lainnya yang asik memainkan ponsel. "Jujur gue agak kasihan sama Nessa. Kan dengar-dengar dia udah lama naksir ketua. Si Gama mungkin kayaknya dibutakan perasaan. Pengen banget gue buli tuh cewek manja!" omel si pirang menggebu-gebu. Nessa berdiri kaku menyandar lorong tembok. Telinganya cukup jelas mendengar skandal yang ikut menyertakan namanya. Hatinya mulai gusar dan sakit. Bertahun-tahun ia menyimpan perasaan untuk seseorang. Menolak semua cowok yang berniat menjadi pacarnya. Mengabaikan semua hati yang siap memberinya kasih sayang dan pengertian. Siapa lagi alasannya kalau bukan Gama. Bahkan di saat hampir semua orang tahu akan perasaannya, Gama malah tak memahami sama sekali. Entak memang tak tahu, atau memang tak peduli. Menerima cecaran, ceramahan, serta hukuman dari cowok impiannya mungkin masih bisa diterima lapang d**a. Tapi urusan adanya pihak lain, jelas menjadi momok menyakitkan bagi Nessa. Perasaannya seolah sia-sia. Hanya dirasakan sendiri. Dinikmati sendiri. Dipertahankan sendiri. Dan terluka sendiri. Daa Nessa bergemuruh nyeri. Harus kah dia melupakan Gama sekarang? Apa dia bisa melepaskan cinta diam-diam yang selama ini ia genggam erat di hatinya? Nessa dilema seorang diri. Kelopak matanya mulai panas. Direngkuhnya makin erat dua buah buku tebal dalam d**a. Ia ingin lekas pulang. Makan wafer cokelat dan minum sebotol yogurt rasa strawberry kesukaannya. Ingin berbaring di atas kasur empuk dan melanjutkan bacaan komik di aplikasi webtoonnya, sekadar menghilangkan rasa suntuk dan sedih. Tapi satu jam lagi ia masih ada mata kuliah. Mau tak mau yang bisa dilakukan hanyalah duduk di taman membaca novel yang belum terselesaikan. Ia berharap Edward Cullen bisa menghibur lara hatinya yang merana. "Siapa tuh? Sumpah ya ganteng banget! Keren banget sih!" "Tinggi atletis, gengs! Bikin ser-seran nih!" "Tentara itu. Lihat seragamnya!" Suara-suara kekaguman terdengar membahana. Nessa menoleh kanan kiri. Agaknya topik perguncingan sudah berubah jadi topik lain. Hingga dua retina hitam kecoklatannya mendapati sosok makhluk tampan berpostur tinggi tegap. Ditambah sunggingan senyum yang menawan. Menyadari sesuatu, ia melempar pandang ke arah lain, mencari celah untuk melarikan diri. Nessa ambil langkah seribu, menyelinap di antara kerumunan mahasiswa di lorong. "Astaghfirullah. Ngapain sih itu orang ke sini! Perasaan gue jadi nggak enak. Mending kabur aja!" serunya tetap berlarian kilat. "Bang Yudha!" teriak Anna mengenal pria dengan seragam kerjanya. Ia berlari mendekati sosok tertuju. Yudha berhenti, mengamati gadis yang amat ia kenal. "Ngapain Bang Yudha di sini? Ada perang di kampus? Ada bom? Atau ada cinta yang hilang?" seloroh Anna setengah mengejek. Ucapannya mendapat jitakan ringan di kepala. Anna meneliti dari atas hingga bawah kembali ke atas lagi. Spontan ia dapat tambahan acakan rambut dari Yudha. "Di mana temenmu?" "Ah. Aku hampir lupa. Udah pasti si Abang kece satu ini pasti nyariin pacar khayalannya," ledek Anna. Lagi-lagi Yudha mengacak poni depan Anna gemas. Gadis itu mendengkus kesal. Tantanan rambutnya jadi tak karuan. Bando birunya juga jadi agak berantakan. Niko membantu membenarkan, tapi ditepis kilat. "Wah. Kalian makin romantis aja. Apa harus kulaporkin kejadian barusan sama seseorang?" Kali ini Yudha yang meledek Anna.  "No! Jangan!" protes Anna spontan. "Selera gue bukan mantan pacar abang sendiri lah," bela Niko, yang langsung mendapat pukulan tangan dari gadis di sampingnya. "Ah. Karena tipe lo itu mbak seksi yang jatuh cinta sama Bang Yudha. Elo harus selalu ingat, cinta lo itu bertepuk sebelah tangan," ejek Anna. Niko langsung mendorong kening Anna sebal. Bisa saja gadis itu memutar kalimat untuk menohok Niko yang menanti kasih tak sampainya. Yudha hanya tersenyum melihat perangai kekanakan dua sahabat ini. Padahal sikap tersebut selalu hilang saat berada dihadapan Shita, perempuan cantik yang ditaksir Niko. Sementara Anna akan kikuk di depan mantan terindahnya, siapa lagi kalau bukan Juna Adelio. "Bang Yudha tumbenan sampai dibela-belain ke sini buat nyariin Nessa? Kangen ya?" gurau Anna. "Kangen sih tiap hari, An. Tapi ada yang mau kuobrolin sama dia." "Soal apa tuh? Kepo deh? Mau nembak ya?" "Nembak tiga kali ditolaknya sepuluh kali." Yudha berkata jujur. Ia memang sudah sering bilang pada Nessa soal perasaannya. Tapi selalu diabaikan mentah-mentah. Malah belakangan Nessa makin menghindar dan menjauh darinya. Ditelepon tak pernah diangkat, dikirimi pesan juga tak digubris. Sampai-sampai Yudha harus pinjam ponsel Juna supaya dapat respon dari Nessa. "Maklumilah, Bang. Si Nessa kan hatinya kayak mutiara dalam kerang di dasar laut. Harus lebih ekstra sabar kalau mau dapetin dia." Anna berusaha menguatkan. "Kenapa nggak ngomong aja sih, An. Kalau si Nessa udah-" Telapak tangan Anna langsung menyumpal mulut ember Niko. Kalau dibiarkan bisa tumpah semua dan bocor ke Yudha kalau Nessa suka cowok lain. Anna tak tega membuat Yudha patah hati. Mengingat betapa gencar pria itu memperjuangkan hati sahabat baiknya. "Kenapa? Nessa udah apa? Udah ada pacar?" selidik Yudha curiga. Anna menggeleng cepat. "Nggak! Nessa mah jomblo! Masih butuh kasih sayang dia." Niko menepis tangan Anna. Lalu mencibir sini. "Ngaca sana!" katanya kesal pada Anna.  ======= Nessa membanting diri ke kursi perpustakaan. Sengaja dipilihnya tempat paling pojok. Menelungkup menenggelamkan wajah berusaha terpejam tenang. Rasa kantuknya tiba-tiba datang, akibat semilir angin yang menelusup dari jendela terbuka di sebelah. Dua tumpuk buku ia jadikan bantalan. Getar ponsel tak digubris sama sekali. Tanpa menengok nama penelpon pun, ia sudah tahu siapa yang menghubunginya. Rekan sekaligus teman dekat kakaknya pasti tengah mencarinya. Dan Nessa belum punya cukup keberanian bertemu pria tersebut. Mengingat sebuah insiden memalukan beberapa waktu lalu. Dipukulnya kepalanya pelan. Berharap segera lupa ingatan. Tapi tak berhasil, yang ada pipinya malah memerah malu. "Ish! Kesel banget gue! Stupid! Ngapain sih dia ke sini segala! Bikin bad mood aja!" gerutunya pada diri sendiri. "Apa iya gue nyebelin banget?" Nessa terperanjat mengangkat wajah. Gama  sudah duduk manis melipat tangan di atas meja. Rasa percaya dirinya bahkan tak lekang, meski gosip merayap ke sana ke mari. Entah mentalnya terbuat dari apa. "Gue tebak lo pasti lagi mikirin gue kan?" tukasnya tanpa keraguan. Nessa membuang napas berat. Ia hendak menarik diri dari tempatnya duduk. Namun lengannya sudah ada di pegangan Gama. Detak jantungnya kembali tak beraturan. Nessa berusaha melepaskan diri. "Apaan sih! Lepasin gue!" teriaknya tak sadar mengganggu pengunjung perpustakaan. Terpaksa membuatnya duduk kembali menutup muka. Karena berpasang mata mulai menoleh akibat kegaduhan sejenak barusan. "Duduklah dengan tenang dan dengar baik-baik. Oke?" pinta Gama agak melunak. "Males." Nessa menepis tangan Gama. Cowok itu malah pindah duduk di sebelah Nessa. Tak bisa berkutik banyak, Nessa akhirnya terkunci di sudut tembok. Posisinya tak menguntungkan sedikit pun. Ditambah jarak mereka yang sangat dekat. "Serius lo marah sama gue soal kemarin?" "Nggak. Biasa aja," ketus Nessa buang muka. "Jadi bener lo diem-diem jadi fans rahasia gue ya?" goda Gama. Nessa hampir berdiri lagi. Tapi Gama menariknya duduk kembali. Bahkan tak melepaskan genggaman tangan mereka. Hawa panas dingin menyeruak mengelabui badan bergetar Nessa. "Ish. Lepasin! Harusnya lo nggak usah repot-repot mikirin gue. Bersihin aja nama elo dari tuduhan gosip sana!" cecar Nessa meluapkan kecemburuan. "Gue nggak peduli, biarin aja mereka ber-opini. Toh semua itu belum tentu bener adanya. Gue mah santai. Gosip bukan hal penting buat gue permasalahin." "Bener-bener nggak ada rasa bersalahnya sama sekali ya jadi orang!" Nessa emosi. Ia tak tahu kenapa mulutnya bisa selancang itu. Padahal dia bukan siapa-siapa Gama. Kecuali hanya seseorang yang jatuh cinta dalam diam. "Angel itu punya penyakit jantung lemah. Kalau gue kasih hukuman ke dia, organisasi yang bakal dapat masalah." Gama mulai menjelaskan tanpa diminta oleh Nessa. "Jantung lemah?" Nessa mengernyit. Gama mengangguk. "Seriusan? Lo tahu dari mana?" Nessa masih sulit percaya. "Dari Prof. Jonathan, bapaknya Angel lah. Dari siapa lagi kalau bukan beliau yang kasih tahu. Beliau nitipin Angel sama kita.  Soalnya si Angel maksa pengen ikut kegiatan Senat di kampus. Katanya biar dia lebih membaur dan berguna buat kampus. Sebetulnya sih Prof. Jo awalnya nggak kasih izin. Tapi karena si Angel keukuh, yaudah akhirnya beliau bilang ke gue buat awasin Angel kuatir kenapa-kenapa." Nessa menimbang. Ia ingat ketika Angel tersengal hebat dan wajahnya memerah saat berlari mencarinya kemarin. Penjelasan Gama menjadi angin segar bagi hati Nessa. Kecemburuannya lumayan padam sekarang. Walau masih tersisa kekesalan yang menggunung akibat ulah Gama tempo lalu yang tidak peka sama sekali. "Hari ini dia nggak masuk karena harus istirahat. Gue juga baru tahu kemarin dia kambuh setelah nyariin elo. Di situ lah Profesor ngasih tahu gue soal kondisi Angel sebenarnya." Nessa mengangguk-angguk mengerti. Ia jadi merasa bersalah karena sudah sempat salah paham termakan gosip murahan. "Gue cuma klarifikasi ini ke elo aja ya. Gue nggak mau elo punya spekulasi jelek soal gue. Udan jelas kan?" Nessa mengangguk saja. Bingung mau bicara apa. Tapi kenapa cuma dia yang dikasih tau? Kenapa harus klarifikasi segala? Pertanyaan ini muncul di benak Nessa secara beruntun. "Yaudah sekarang lo balik lanjutin bersih-bersih aula gih, belakang panggung masih kotor kayaknya," goda Gama. "Nessa melotot seraya membanting buku. "Ogah!" pekiknya lantang.  Berpasang-pasang mata tajam menatapnya horor. Sedangkan Gama hanya terkekeh melihat tingkah Nessa. Gue gemes lihat lo marah, Ness. Pengen gue gigit rasanya! Gumamnya dalam batin.  Gama diam-diam menahan sesuatu dalam hati.  "Jadi nggak mau bebersih lagi?"  "Nggak mau!"  "Maunya apa?"  Gue maunya elo! Teriak Nessa dalam jiwa terdalamnya. Tentun saja Gama tak akan bisa mendengar suara hatinya itu. Lagi-lagi Nessa hanya bisa menyembunyikan perasaannya. Entah sampai kapan ia tak tahu. Yang jelas sebisa mungkin Nessa berharap tak ada kecewa dalam kediamannya. Mau terbalas atau tidak, ia hanya ingin suatu saat Gama bisa menghargai perasaan Nessa. ===========♡Romanceship♡===========
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN