“Gillian, ayolah kita bisa terlambat jika kau terlalu lama bersiap!” ini adalah kali pertama aku berteriak untuk mengingatkan anak itu. setelah bergaul dengan sepupuku tingkahnya kerap kali jadi suli untuk aku tebak. Kurasa Dennis membawa pengaruh yang sedikit buruk padanya. aku akan memberikan diriku memo untuk memperingati pria itu bila nanti kami bertemu. “Tunggu dulu Ma, sebentar saja.” jawab Gillian dari lantai atas. Kamar Gillian memang berada disana. Anak itu bilang dia ingin mandiri jadi dia memilih kamar atas sebagai ruang pribadinya. Apa terlalu cepat baginya untuk berpisah tempat tidur denganku? Aku hanya bisa mengulum senyumku. Adegan memuakan yang sempat terjadi antara aku dengan perempuan tunangannya Dira yang sudah berlalu pelan-pelan sudah aku lupakan. Sebagai gantinya

