“Dokter Dira adalah ayahku?” Gillian mempertanyakan kembali pertanyaan itu padaku seolah itu tidak masuk akal. Tapi ekspresi wajahnya nampak tidak terlalu terkejut seperti menegaskan padaku bahwa hal itu sudah masuk kedalam nalarnya. Seolah dia sudah mengetahuinya. Meskipun ada setitik kebingungan yang dia nampakan dari ekspresi wajahnya. “Ya, begitulah kebenarannya,” kataku kembali memberi sebuah afirmasi pada putra kecilku. Aku merasa kerongkonganku tiba-tiba saja mengering laksana padang sahara. Aku benar-benar tidak siap untuk menerima pertanyaan apapun kurasa. “Kenapa Mama tidak memberitahuku sebelumnya soal ini?” Gillian menaruh perhatian lebih pada topik ini. aku tahu bahwa ketika aku sudah memberitahu soal ini maka itu artinya aku harus menyiapkan diriku untuk sebuah pertanyaan

