Apakah sebuah situasi semacam ini sudah biasa dia temui di luar negeri? Mengapa pula aku justru perlu memikirkan pembenaran dari tindakannya yang sudah jelas tidak bisa aku terima? Aku tidak tahu apa yang sedang kepalaku pikirkan. Apa yang otakku proses demi sesuatu yang sepatutnya sudah jelas artinya. Tidak perlu melibatkan perasaan. Toh, sejak awal memang aku sudah merasa bahwa ada sesuatu yang telah terenggut dariku. Lantas apa?! Percikan binar kebahagiaan dan juga perhatian dari mata pria itu sudah hilang tak berbekas. Hitam dan dingin, itulah yang aku lihat dari sosok Dira yang sekarang. Apapun itu, aku tidak perlu memikirkan berulangkali sesuatu seperti memaafkannya. Mengampuni dari caranya bertindak dan memperlakukanku secara demikian. Ini semua sudah terlalu banyak untuk da

