Sarapan tersaji. Dua piring nasi goreng yang dihiasi potongan sosis dan telur mata sapi. "Wuah, enak!" seru Fia semringah. "Habisin, ya," kuelus puncak kepalanya. Fia mengangguk, kemudian menyantap makanannya setelah berdoa lebih dulu. Aku pun meraih sendok. Saat akan memasukkan ke dalam mulut, ponsel di atas meja berdering. Nomor tanpa nama. Siapa? Akhirnya kuurungkan niatku, menyimpan sendok dan berganti meraih ponsel. "Halo," sapaku lebih dulu. "Halo, juga, Dinda." "Maaf, dengan siapa ini?" "Roy." "Roy?" Aku menautkan alis. Seingatku, aku tidak mempunyai teman bernama Roy. "Maaf. Roy mana, ya?" "Bukannya baru kemarin kita bertemu?" Kemarin? Astaga! Jangan-jangan .... "Pak Roy Adiatama?" "Yups." "Maaf atas kelancangan saya." "Tidak apa. Saya hanya ingin menyapa, memastika

