April hendak menulis surat untuk Alessandro, namun ketika ia melihat kalung berliontin mata yang dikirimkan suaminya, April terngiang kata-katanya. Ketika kau mendapatkannya, tolong pikirkan aku. Ia coba membayangkan sang suami seraya menggenggam liontin itu. Menyalurkan rindu yang tak terbendung untuk suami dan putrinya. Dalam pejam, ia mendengar celotehan Lisanna dan tawanya. Sungguhan, ia merindukan keluarganya. Tak lama kemudian, ia mendengar sayup-sayup suara Alessandro. Ia pikir, itu hanya halusinasinya saja. Tapi ternyata …. “April …” Alessandro mengulangi namanya berulang kali, sampai ia benar-benar sadar bahwa suara itu bukan hanya sekadar ilusi semata. “Alessandro? Benarkah ini dirimu? Tapi bagaimana bisa?” Alessandro tersenyum. “Liontin yang kukirimkan ini berfungsi seb

