“Iya, Bu," jawab Aurora.
"Kamu bisa-bisanya tidur dalam mata kuliah Ibu. Jadi dari tadi kamu ga merhatiin Ibu?"
"Maaf Bu. Saya ga sengaja ketiduran."
"Sekarang juga kamu keluar dari dalam kelas saya. Ibu ga mau ada mahasiswa atau mahasiswi Ibu yang seenaknya tidur di dalam kelas."
"Baik, Bu."
Akhirnya Aurora dikeluarkan dari dalam kelas. Karena Dosen yang mengajar di dalam kelasnya sudah sangat marah kepadanya. Dan Aurora pun tidak bisa membantah Dosen tersebut.
"Lu ga apa-apa?" tanya Gresa sebagai sahabat baiknya.
"Ga apa-apa."
"Lu hati-hati ya."
"Iya."
Setelah Aurora keluar dari dalam kelas, Dosen itu pun melanjutkan kegiatan belajar mengajar yang sempat terhenti karena ulah Aurora. Kali ini mahasiswa dan mahasiswi lebih berhati-hati lagi. Karena mereka semua tidak mau dikeluarkan dari dalam kelas seperti Aurora.
Setelah keluar dari dalam kelas, Aurora bingung harus pergi kemana. Tidak seperti hukuman di sekolah yang harus berdiri di depan kelas. Di kampus, mahasiswa hanya dikeluarkan dari dalam kelas dan tidak diperbolehkan untuk mengikuti mata kuliah tersebut. Sisanya Dosen tidak perduli mahasiswanya mau pergi kemana atau melakukan apa. Dan Aurora memilih untuk pergi ke kantin. Kebetulan cacing-cacing di perut Aurora sudah meronta-ronta untuk meminta makan.
Setibanya di kantin, Aurora langsung memesan beberapa makanan dan minuman kepada salah satu penjual yang ada di sana. Ketika Aurora sedang menikmati makananannya, tiba-tiba saja datang tiga orang wanita dan duduk di dekatnya.
"Callista, Aurum, Denisa, kalian di sini juga?" tanya Aurora.
Tatapan mata Callista, Aurum dan Denisa saling bertemu.
"Dih, sok kenal banget lu sama kita," jawab Danisa.
"Kan kita sahabat. Gimana sih lu."
"Sahabat? Hello. Mimpi lu. Siapa juga yang mau jadi sahabat lu."
"Kalian kenapa sih? Kalian lagi kesal sama gue? Kalau gue ada salah, gue minta maaf. Biasanya juga kita berempat main bareng. Sebagai tanda permintaan maaf gue, gue traktir kalian semua deh."
Callista, Aurum dan Denisa tertawa mendengar ucapan Aurora barusan.
"Traktir? Ga salah? Lu aja kuliah di sini karena beasiswa. Kalau bukan karena itu pasti lu ga akan bisa kuliah di sini," jawab Callista.
"Udah deh lu ga usah banyak bicara. Kita ga mau bicara sama lu," sambung Aurum.
Aurora hanya terdiam. Aurora merasa sangat sedih karena dengan teganya ketiga teman Aurora memperlakukannya seperti itu. Padahal Aurora tidak merasa punya salah terhadap mereka. Dan seingat Aurora hubungan pertemanan mereka sedang baik-baik saja.
Karena merasa sedih dengan sikap dari ketiga orang yang dianggapnya sebagai sahabat itu, Aurora pun memutuskan untuk segera pergi dari sana. Sebelumnya Aurora akan membayar makanan dan minuman yang sudah dia pesan tadi.
"Berapa Bu semuanya?" tanya Aurora kepada pedagang itu.
"Semua totalnya jadi seratus dua puluh lima ribu kak."
Hari ini Aurora memesan satu piring steak daging dan juga jus jeruk segar. Tidak salah jika harganya di tarif sebesar itu. Apalagi kampus Aurora terkenal sangat elite. Sehingga harga makanan dan minuman di sana cukup mahal.
Aurora membuka dompetnya untuk membayar semua pesanannya. Tetapi sayangnya uang yang ada di dalam dompetnya hanya tersisa satu lembar. Yaitu 50.000 saja.
"Waduh, uang gue kemana? Kok ga ada?" ucap Aurora sendirian dengan suara yang kecil tetapi mampu didengar oleh pedagang tersebut.
"Kenapa? Kamu ga punya uang? Kalau ga punya uang ga usah makan di sini," ucap Ibu itu dengan sangat ketus.
"Engga, saya ada uang kok. Sebentar Bu," bantah Aurora dengan sangat tegasnya.
Ternyata Callista, Aurum dan Denisa mendengar percakapan antara Aurora dan Ibu penjual itu. Mereka bertiga pun tertawa puas.
"Hahaha sok-sokan tadi mau traktir kita. Buat makan sendiri aja ga mampu," ucap Callista sambil tertawa.
"Iya benar. Udah urusin aja dulu diri lu sendiri," sambung Denisa.
Aurora hanya terdiam. Dia menghiraukan ejekan dari ketiga orang tersebut. Aurora hanya fokus dan terus mencari uang di dalam tasnya. Namun Aurora tidak juga menemukan uang miliknya.
"Jadi gimana? Kamu punya uang ga?" tanya Ibu penjual itu.
"Ada Bu. Sebentar saya lagi cari. Kayanya uang saya ketinggalan deh di kelas. Kalau gitu saya ambil dulu ya Bu sebentar. Nanti saya kembali lagi ke sini."
"Alah, jangan banyak alasan kamu."
"Iya Bu, dia cuma alasan Bu. Jangan percaya sama dia. Dia emang ga punya uang. Dia juga sering beralasan kaya gini ke penjual yang lainnya. Kasih hukuman aja Bu supaya ga kebiasaan," sambung Denisa yang mengkompori penjual tersebut.
"Ya sudah kalau gitu kamu ikut saya sekarang."
Ternyata Ibu-ibu pedagang itu terpancing oleh omongan Denisa.
"Mau kemana Bu?" tanya Aurora yang sedikit ketakutan.
"Udah ikut aja."
Karena merasa kesal dengan sikap Aurora, apalagi setelah di kompori oleh geng Callista, Ibu kantin itu pun menarik paksa Aurora dengan sangat kasar. Entah akan dibawa kemana Aurora. Drama di kantin pun terjadi antara Aurora dan Ibu kantin. Aurora terus berteriak karena dia tidak mau dibawa oleh Ibu itu.
"Bu, saya ga mau Bu. Saya pasti bayar Bu," teriak Aurora.
"Alah alasan saja kamu."
Untung saja Gresa datang tepat waktu. Mata kuliah tadi pagi sudah selesai. Gresa yang hendak ke kantin melihat Aurora yang sedang ditarik paksa oleh Ibu kantin itu. Gresa pun langsung berlari menghampirinya.
"Aurora? Ada apa ini?" tanya Gresa kebingungan.
"Gresa, tolongin gue," jawab Aurora dengan wajah ketakutan.
"Iya tapi ini ada apa? Ini ada apa sebenarnya Bu?"
"Ini, dia itu udah makan di tempat saya, tapi dia ga mau bayar. Supaya dia ga mengulangi kesalahan yang sama, seenaknya makan gitu aja dan mau langsung kabur, saya mau bawa dia ke ruang Dosen supaya bisa ditindak lanjuti. Bahkan kalau bisa dia dibawa ke kantor polisi. Karena tindakannya ini sama aja seperti pencurian. Supaya ga ada lagi korban-korban lainnya seperti saya."
"Ya ampun. Tapi ini kasusnya beda sama pencurian, Bu. Memangnya kalau boleh tahu berapa total pembayarannya?"
"Cuma seratus dua puluh lima ribu aja sih. Tapi dia bilang ga ada uang. Kalau ga ada uang kenapa makan makanan yang enak dan mahal harganya. Seharusnya dia tahu diri."
"Saya bukannya ga mau bayar Bu, saya mau dan pasti saya bayar. Saya juga ada uang. Tapi sepertinya uang saya ketinggalan di kelas. Saya cuma mau ambil uang saya di kelas, bukan mau kabur gitu aja," ucap Aurora yang terus membela dirinya sendiri.
"Alah alasan terus kamu dari tadi. Banyak bicara."
Karena sudah terpengaruhi oleh Callista, Danisa dan Aurum, Ibu pedagang itu pun sudah tidak percaya lagi dengan apapun yang Aurora ucapkan kepadanya.
"Udah, udah. Kalau gitu ini uangnya. Saya bayar. Kembaliannya ambil aja. Tapi saya mohon jangan perpanjang masalah ini ya Bu," ucap Gresa yang akhirnya membayarkan tagihan makan Aurora.
"Oke kalau gitu. Urusan kita selesai sampai sini."
"Iya Bu. Terima kasih Bu."
Ibu kantin itu mengambil uang yang diberi Gresa kepadanya. Ibu itu pun langsung pergi meninggalkan Aurora dan Gresa setelah mendapatkan bayaran yang memang seharusnya dia dapatkan.
"Yaudah yuk sekarang kita ke kelas aja. Aneh aneh aja deh lu. Tadi habis buat masalah di kelas. Sekarang di kantin," ajak Gresa kepada Aurora. Aurora hanya terdiam mendengar ucapan Gresa barusan, tetapi dia tetap mengikuti perintah dari sahabatnya itu. Aurora mengikuti langkah Gresa tepat dibelakangnya.