Leona melamun sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi tadi, Darren Kim memeluknya. Kenapa. Kata itu terus terngiang-ngiang di kepalanya, meski Darren memeluknya sebagai Leona Lee. Ia tetap tidak bisa membohongi hatinya yang berdebar tak karuan, selama 24 tahun hidupnya, ini pertama kali dirinya mendapat pelukan dari Pria selain dari Matsuo. Jika ayahnya yang memeluknya, ia dapat merasakan kehangatan dari seorang ayah. Akan tetapi jika Darren yang memeluknya, Leona tidak tau apa yang ia rasakan. Namun, satu hal yang pasti, otaknya beku seketika saat itu. Leona menghela napas kasar, mencoba mengenyahkan pikiran itu. Kini dirinya tengah berada di kamarnya. Ketika Darren memeluknya, Leona langsung menyentak kedua tangan Darren yang melingkari tubuhnya setelah tersadar. Ia tau Darren tersentak melihatnya, tapi ia tak peduli dan langsung berlari begitu saja.
Bagaimana ia bisa punya muka besok, apalagi ia akan menjadi Sekretaris Darren. Yang benar saja, ia bahkan belum memiliki pengalaman kerja menjadi Sekretaris. Kenapa Tuan Lee menempatkannya diposisi yang sulit, astaga, ia ingin kembali sekarang rasanya. “Sudahlah, tak ada gunanya aku mengeluh. Apapun yang terjadi besok, aku siap!” ujarnya menyemangati diri sendiri.
~~
Pagi kembali menyapa, ini adalah hari ketiganya terjebak di dunia novel. Leona menguap sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, rasanya ia malas untuk beranjak dari tempat tidur. Tapi apa boleh buat, Pria itu pasti akan mengomelinya dan menyebutnya pemalas. Setelah dirasa tenaganya terkumpul, Leona berjalan menuju kamar mandi. Ia akan bersiap sebelum melakukan aktivitas menguras energi, Leona akan sedikit menikmati kenyamanan yang disediakan di kamar ini. Salah satunya bathtub, akan tetapi ia hanya penasaran dengan sabun seperti apa yang disukai wanita seperti Leona Lee. Apakah lebih harum dari sabun yang biasa ia gunakan atau sebaliknya, tangannya meraba atau lebih tepatnya mencari letak sabun yang Leona Lee gunakan. Sampai sebuah botol kaca berisi sabun cair berada dalam genggamannya, ia meneteskan sedikit sabun cair yang tersisa setengah itu.
“Lebih harum milikku,” gumamnya lalu mengganti sabun cair itu dengan yang lainnya.
Sekitar 20 menit kemudian, ia pun selesai dengan urusan di kamar mandi. Waktunya menyiapkan pakaian, untung saja ia sempat mencari di internet seperti apa style berbusana ke kantor yang elegan. Setelah memastikan penampilannya rapi, ia keluar dari kamarnya dengan membawa tas ditangannya menuju ruang makan. Leona menghentikan langkahnya saat melihat Darren yang tengah menikmati secangkir kopi, Pria itu terlihat belum menyadari keberadaannya. Leona kembali berjalan sampai akhirnya Darren menyadarinya dan menoleh padanya, Pria itu mengernyit tak suka melihat penampilan Leona.
"Apa yang kau kenakan?” tanya Darren dengan wajah terkejut. Leona mengernyit sambil memperhatikan penampilannya, sebuah white pencil skirt dengan pink ruffle blouse, dilengkapi heels hitam. “Apa yang salah?” Leona bertanya balik. Darren menghembuskan napas kasar, telapak tangan kanannya menutup kedua mata sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang. “Oke, terserah kau saja. Jika terjadi sesuatu, aku tidak akan bertanggung jawab,” ujar Darren kemudian kembali melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda. Leona mendengus kemudian ikut duduk dan mulai menyantap sarapannya, “Padahal aku mengikuti style di internet,” gumamnya. Darren menatap Leona disela suapannya, ia hanya terdiam walau sedikit merasakan canggung.
~~
Leona menghela napas, matanya sesekali melirik Darren yang tengah fokus menyetir. Pria itu menyetir dengan kecepatan normal, jika bukan karena ia yang mengomel mungkin saja Darren akan membawa mobil seperti kemarin. Darren terlihat biasa saja, dia tidak canggung seperti dirinya. Ya, itu yang ada dalam pikiran Leona. Pasti bagi Darren memeluk seorang perempuan adalah hal biasa, mungkin ia juga harus melupakannya. Lagi pula Darren tak tau jika ia bukanlah Leona Lee, Istrinya.
Leona mengikuti Darren yang memasuki ruangannya, Pria itu langsung duduk di kursinya dan mulai bekerja. Darren menghentikan aktivitasnya, ia kemudian melempar smartphone pada Leona. “Pakai itu untuk urusan kantor, di sana sudah ada jadwal untuk hari ini. Kau hanya perlu memberitahuku saat sudah waktunya jadwal,” ujar Darren membuat Leona mengangguk mengerti. Ia mengecek susunan jadwal hari ini, pukul 10 akan ada pertemuan dengan rekan bisnis dari Perusahaan lain. Lalu pukul 12 akan ada pertemuan makan siang dengan Perwakilan dari perusahaan distributor.
Leona tersenyum tipis, setidaknya ia tidak terlalu bingung dengan adanya jadwal. Sekarang apa yang harus ia lakukan sembari menunggu, ia menoleh pada Darren yang tengah fokus pada laptop. “Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya ragu. Darren menghela napas kemudian menyodorkan beberapa berkas padanya. “Ambil itu dan cek, kau bisa bekerja di sana.. “ Darren menunjuk sebuah laptop di meja sofa dengan kepalanya “... aku tidak suka diganggu.”
Leona mengangguk mengerti, ia berjalan menuju sofa. Darren menatapnya tanpa Leona sadari, Pria itu menghela napas mencoba mengalihkan pandangannya agar tidak menatap kaki Leona yang kelihatan. “Pakai selimut di sampingmu untuk menutupi kakimu,” ujar Darren tanpa menoleh pada Leona yang menatapnya bingung. Leona melakukan apa yang Darren ucapkan, dan mulai melakukan tugas pertamanya sebagai Sekretaris. Darren menghembuskan napas lega, ia hanya risih saat melihat Leona dengan pakaian yang termasuk terbuka. Apa perempuan itu tidak tau jika pakaian lebih tepatnya rok yang dikenakannya, akan mengundang Pria untuk terus menatapnya.
Waktu seolah cepat berlalu, di ruangan Darren hanya terdengar bunyi jam dinding dan ketikan hari tangan pada keyboard laptop. Leona terlihat mengerjakan tugasnya dengan serius, ia tak menyangka bahwa tugas seorang sekretaris memiliki tanggung jawab sama besarnya dengan Pimpinan. Walau masih lebih besar tanggung jawab seorang pemilik perusahaan. Ketukan pada pintu membuat keduanya menoleh. “Masuk!” ujar Darren. Pintu terbuka dan menampakkan Shin dengan beberapa Pria di belakangnya. “Mr. Darren, Tuan Darian sudah menunggu,” ujar Shin membuat Darren tersentak. Ia dengan cepat menatap jam tangan hitamnya yang menunjukkan pukul 10.30, ia membuat tamunya menunggu 30 menit. Matanya beralih menatap Leona yang tengah panik, ia menghela napas lelah sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menghampiri Tamunya. Leona dengan cepat ikut berdiri dan berjalan menghampiri Darren, ia menunduk.
Astaga, bodohnya aku. Batin Leona berteriak.
“Maaf, membuat Anda menunggu,” ujar Darren sembari membungkukkan badannya sebentar. “Tidak apa-apa, bisa kita mulai sekarang?” tanya Tuan Darian, rekan bisnis Darren. Darren mengangguk, kemudian membawa tamunya masuk ke dalam ruangan. “Buatkan mereka kopi, seperti yang kau buatkan kemarin,” perintah Darren dibalas anggukan cepat Leona. Perempuan itu dengan cepat melakukan apa yang Darren perintahkan.
Lima cangkir kopi telah berhasil Leona buat, ia berjalan sambil membawa nampan berisi kopi buatannya menuju meja. Keningnya mengernyit tak suka saat melihat tatapan salah satu tamu Darren, menatapnya dari ujung kaki sampai rambut. Pria seusia Darren itu mengedipkan sebelah matanya pada Leona, membuatnya menggeram kesal. Hingga tanpa sengaja salah satu kopi yang dibuatnya tumpah dan mengenai jas yang dipakai tamu, mereka berdiri sambil mengusap bekas tumpahan kopi dengan tisu. Leona membungkuk sambil meminta maaf, “Maafkan saya.” Darren menghembuskan napas kasar untuk ke sekian kalinya, “Pergilah. Panggil Shin ke ruangan ku.” Leona mengangguk, ia dengan cepat keluar dari ruangan kemudian memanggil Shin yang menunggu di luar ruangan. Setelah Shin masuk dan pintu kembali tertutup, Leona terduduk di lantai dengan lemas. “Kenapa aku begitu ceroboh?” gumamnya kesal.
~~
Darren menarik tangan Leona kasar menuju ruang kerja Tuan Lee, Leona meringis sakit sambil sesekali mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman kuat Darren. Ia sama sekali tidak berani mengeluarkan suaranya, lagi-lagi ia membuat kesalahan saat makan siang tadi. Pertemuan Darren dengan Distributor gagal karena Leona yang melupakan jadwalnya lagi. Begitu ruangan Presdir tampak, Leona sudah menyiapkan hati untuk mendengar cercaan Darren lagi.
“Ayah mertua, aku ingin mengajukan permintaan agar mengganti Sekretarisku saat ini,” ucapan tegas Darren sontak membuat Leona dan Sam Lee menatapnya kaget. “Kenapa? Apa dia bekerja dengan buruk?” tanya Sam Lee. “Bisa dibilang begitu, dia beberapa kali merusak pertemuan penting dengan melupakannya. Jika sekali atau dua kali aku dapat memaklumi, tapi dia memang tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar,” jelas Darren yang entah mengapa membuat Leona kesal.
“Permisi, Tuan Lee. Bisakah aku berbicara dengan Mr. Darren secara empat mata?” Leona meminta persetujuan dengan tatapan yang tertuju pada Darren. “Tentu, aku akan menunggu di sini,” putus Sam. Leona berdiri dari kursinya kemudian menarik tangan Darren untuk mengikuti langkahnya.
“Kau bisa bicara sekarang,” kata Darren.
“Aku tau jika aku tidak bekerja dengan baik, aku mengacaukan segalanya dalam sehari. Tapi kau tidak perlu mengadu, kau hanya perlu bicara dan tegur aku. Kenapa kau melakukan ini padaku?”
“Aku tidak mengadu, aku hanya mengajukan komplain. Lagi pula aku bicara sesuai fakta, jika kau tidak suka kau bisa membantah ucapanku tadi dan bukan malah mengajakku bicara empat mata. Kenapa? Apa kau takut padanya?” ujar Darren terdapat nada mengejek di akhir kalimatnya.
Leona terdiam karena ia tidak tau apa yang harus ia katakan, Leona tidak tau seperti apa sikap Tuan Lee pada Leona Lee. Melihat Leona yang diam membuat Darren menyeringai, “Kau takut padanya tapi kenapa memaksa bekerja untuknya? Jika kau takut kau bisa datang padaku, bukan pada sekretarismu.”
Leona mengernyit, “Kenapa kalian selalu membawa Shin dalam setiap pembicaraan?”
“Karena kau begitu bodoh dengan lebih memilihnya, kau bahkan rela menjadi samsak ayahmu. Kau terlihat seperti perempuan murahan,” ujar Darren yang entah mengapa membuat hatinya sesak. Kedua tangannya terkepal, ingin rasanya ia menampar Darren, tetapi ia memutuskan untuk pergi. Ia tidak boleh melakukan hal yang sembarangan.
Leona berhenti berjalan setelah dirasa Darren tak mengejarnya, ia berdiri di lorong yang sepi. Kepalanya menunduk dalam sambil menahan emosi, ia kesal. Sesuatu menyentuh tangannya, Leona menoleh cepat dan menemukan Jay tengah menatapnya dengan menyeringai. Leona menyentak tangan Jay membuat pria itu melebarkan seringainya, “Sedang apa kau? Menangis sendirian?”
Leona diam tanpa berniat menjawabnya. “Ku dengar kau bertengkar dengan suamimu, kau bisa menjadi sekretarisku jika mau,” ucap Jay. Leona menghela napas lelah, “Itu semua bukan urusanmu.” Leona hendak pergi, tetapi kedua tangan Jay mengurungnya di antara tubuhnya dan tembok. “Kenapa kau begitu acuh padaku, sedangkan kepada dia dan kekasihmu tidak? Apa aku kurang kaya? Tapi tenang saja, karena sebentar lagi aku akan menjadi pemilik utama LK Group,” ujar Jay dengan nada angkuh. Ah, jadi seperti ini kehidupan seorang Leona Lee. Diperebutkan oleh tiga lelaki sekaligus, mengerikan. Sentuhan di pipinya membuat Leona tersentak, ia mendorong d**a bidang Jay untuk menjauh darinya. “Jangan menyentuhku!” sentaknya kesal. Leona berbalik hendak pergi, matanya memandang Darren yang berdiri lima langkah di depannya. Leona membuang muka sebelum akhirnya berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang, Darren menatap kepergian Leona. Kemudian matanya beralih ke arah Jay, ia berjalan menghampiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
“Cari wanita lain, dia milikku,” ucapnya tegas.
“Milikmu? Jika kau lupa, kalian hanya menjadi suami-istri di atas kertas. Hatinya bukanlah milikmu,” balas Jay sinis. Kedua saudara tiri itu saling menatap dingin. Leona Lee, satu nama yang menjadi permusuhan terjadi.