"Kak Rian masih muda kok," Ester duduk diikuti Rian yang duduk di sebelahnya. Tangan mereka masih berpaut satu sama lain. Rian menggenggam erat tangan Ester. 'Gadis yang begitu kucintai kini mengandung benih yang kutabur. Ampuni kami Tuhan, sehatkan anakku' bisik Rian dalam hatinya. Ester wanita belia yang rupawan dan ļelita. Matanya menyusuri wajah Ester mulai dari rambut yang dikucir tanpa poni. Alis mata tebal laksana semut beriringan. Bulu mata lentik. Hidung mancung. Bibir tipis mungil merekah merah. Dagu laksana lebah tergantug. Cekungan di kedua pipinya bila dia tersenyum. Pipi yang mulus tanpa jerawat. Ester hanya tertunduk tersipu malu. "Ter, apa sudah periksa ke dokter Kandungan anak kita?" Tanya Rian. Ester merasakan kehangatan yang nyaman taktala Rian

