BAB 3 Air Terjun Jadi Saksi

1146 Kata
Pak Rian Sudah tidur cantik? Aku telpon ya. Handphone Ester bergetar "Hello Pak" "Iya bagaimana jawaban pertanyaan saya itu malam, saya suka kamu Ter, Saya tak peduli Abram suka juga sama kamu". "Bapak lebih cocok dengan ibu Neli. Saya orang kampung, tidak punya ijazah" "Tak perlu ajar aku. Jawab saja ya atau tidak. Tentunya kamu tahu konsekuensi dari jawabanmu". Rian mulai tidak sabar. "Aku takut pada ibu Neli. Bapak harus lindungi pasangan sampai nenek kakek. Ester tersenyum membacanya. 'Kau baik Bram teramat baik , selalu menolongku bila aku membutuhkan bantuan. Tapi aku tidak punya rasa khusus padamu,hanya perasaan seperti adik pada kakaknya', bisik Ester pada dirinya. Aba Ter, bagaimana kelanjutan permainan di warung tante Yudit?, Yosef dan Erni sudah jadian loh Ester Maaf ya Bram, maaf sekali lagi aku sudah punya pacar, tapi bagiku kau teman terbaikku seperti saudara. Maaf ya. Pasti masih banyak cewek yang lebih baik dariku. Kau pintar dan baik Bram Dengan mengumpulkan keberanian Ester menolak halus cinta Bram. Aba Nggak papa Ter. Trims keterusteranganmu. Salam ya pada pacarmu Ester Aku doakan kau menemukan seseorang yang baik Aba Makasih *** Les belajar sore sudah akan berakhir hari ini, Ester memberi tahu bapaknya untuk menjemputnya sekalian berterima kasih pada tante Ruth, mamanya Vivi. Saat les berlangsung pak Silas sebagai wali kelas masuk di kelas Ester memberitahu akan rekreasi hari Senin, empat hari lagi ke tempat Air Terjun yang berada di desa tersebut. Siswa gembira mendengarnya. Pak Silas memberi tahu siswa membawa snack, air putih, dan makan siang. Dewan guru makan siangnya akan disiapkan tante Yudit. Yosef melirik Erni penuh arti, bagi Yosef masa rekreasi punya arti tersendiri bagi insan yg sedang memadu kasih, begitupun Abram yang setelah mengetahui jawaban Ester hatinya berlabuh kepada Vero . Ahhh masa remaja masa paling indah mengenal lawan jenis untuk mempersiapkan diri sebagai manusia seutuhnya. Ester sudah pernah mengunjungi tempat air terjun itu ketika SMP. Pemandangannya bagus dengan petak-petak sawah di sisi kanan kiri dalam perjalanan menuju ke air terjun tersebut. Memang lumayan jauh sih namun air terjun yang airnya putih bersih merapat di gunung yang ditumbuhi pepohonan dan rerumputan liar yang menghijau membuat mata tak lelah memandangnya. Tempat turunnya air terjun membuat dua lekukan besar menyerupai kolam dua tingkat. Lekukan pertama tempat tibanya air terjun, biasanya ditempati laki-laki berenang karena kolamnya dalam, Sedang lekukan kedua airnya muncul dari sela-sela batuan membentuk kolam yang kedua juga. Dari kolam kedua airnya mengalir membentuk sungai membelah lahan pepohonan hutan. Di sebelah kiri kolam kedua di tanah agak rata air muncul dari bebatuan bersusun dan ditadah dengan memakai bambu berderet tiga buah. Karena Ester tidak bisa berenang maka dia hanya mandi dekat pinggir kolam, mencipratkan air ke tubuhnya yg berkulit kuning langsat. Waktu yang disepakati untuk berangkat adalah pukul sembilan pagi. Kepsek dan pak Rian membawa mobilnya masing-masing, membawa guru-guru dan penjaga sekolah dan beberapa siswa sampai di halaman rumah Ester, kemudian berjalan kaki sekitar satu jam. Ester membawa nasinya yang dibungkus daun pisang tiga bungkus untuk dirinya, untuk Rian, dan satu untuk siapapun mau makan, lauknya ayam kampung tumis, ikan mas goreng, sayur daun labu siam dan sambal. Rombongan berjalan penuh canda ria. Pak Rian berusaha berjalan beriringan dengan Ester. Bu Neli bersama guru-guru perempuan. Mata bu Neli mencari-cari Abram yang jalan beriringan dengan Yosef, Erni, Vero. 'Jangan-jangan Abram tidak jadian dengan Ester',bisiknya dalam hati. Neli mulai gusar apalagi ketika dia melihat pak Rian memisahkan diri dari deretan guru laki-laki. 'Huhh menjengkelkan seandainya aku tahu begini untuk apa ikut. Bikin sakit hati saja,'rutuknya dalam hati. Sementara guru-guru yang lain sibuk bercerita diselingi tertawa bersama. Ibu Welni membagikan gula-gula dan memberikan kepada Gery untuk dibagikan kepada rombongan yang ada di depan. Perjalanan kaki yang melelahkan seandainya tidak diselingi dengan canda tawa. Ibu Welni memperhatikan ibu Neli yqng wajahmya cemberut mencoba mrmbuat ibu Neli tertawa. Berhasil, apalagi pak Rian yang berjalan dengan Ester sudah tidak kelihatan. Kini mereka mulai memasuki daerah Air Terjun. Gemuruh air mulai terdengar. Di sebelah sana kelihatan sungai mrembelah hutan pepohonan. Bunga edelweis dengan bunganya yang putih bergerombol tumbuh di tebing gunung menambah indahnya pemandangan. Anggrek hutan pun ada yang sudah berbunga bergerombol dengan anakannya. Para ibu guru asik memperhatikan sambil ada yang teriak kepada siswa laki-laki untuk mengambilmya sepulang nanti. Rombongan tiba di lokasi air terjun. Bapak guru dan siswa laki-laki langsung menuju ke kolam atau lekukan atas. Ibu guru dam siswa perempuan berada di kolam sebelah bawah.Mereka bersiap mandi, Ester yang memang tidak bisa berenang hanya mencipratkan air ke tubuhnya sambil berpegangan ke batu-batu yang mengelilingi kolam. Yang pintar berenang masuk ke tengah kolam yang ukurannya agak dalam. Matahari menyembul di sela-sela daun pepohonan menambah indahnya pemandangan sekitar air terjun. Bak bidadari turun dari Kayangan siswi-siswi berenang sambil berkejar-kejaran. Ibu Neli mendekati Ester mengajaknya mandi bersama. Tanpa menaruh curiga sedikitpun Ester mau saja menururuti ibu Neli. Dalam keadaan berdiri Ester mengikuti ibu Neli, makin lama Ester tidak bisa lagi menginjakkan kakinya, air sudah sampai di ubun-ubunnya, Ester tidak bisa lagi bernapas. Ibu Neli melepaskan tangan Ester dan meninggalkannya berenang menjauh. Hati ibu Neli puas. 'Mampus kau cewek kampung!! sok cantik rasain lu,' Neli merasa senang memperdaya Ester. Ketika Vero tidak melihat lagi Ester di tempatnys, dia memperhatikan wajah-wajah orang yang sedang berenang. "Mana Ester?", Vero teriak mengalahkan suara air terjun di lekukan atas. " Aku melihatnya berjalan ke arah situ, dia tidak berenang cuma jalan", kata bu Neli sambil telunjuknya mengarah ke tengah kolam, untuk menghilangkan keterkaitannya. Semua panik apalagi teman-temannya tahu Ester tidak bisa berenang. "Ester hilang", serempak mereka teriak ",Ester tenggelam",mereka riuh rendah teriak. Pak Rian dan.beberapa orang laki-laki langsung turun menghampiri arah teriakan itu. Ibu Neli yang berusaha menghilangkan jejak langsung menjelaskan terakhir dia melihat Ester. Pak Rian menyusuri tempat yang dimaksud ibu Neli..Laki-laki terpencar menyelam menyusuri lekukan itu. Abram dan Yosef langsung menyelam ke tempat pusaran air ditengah lekukan, mereka tahu persis karena mulai dari kecil mereka biasa datang dengan bapakmya mandi di situ. Tenyata betul. Ester terikut pusaran air, Abram teriak minta tolong, pak Rian dan teman laki-laki yang lain berenang mendapatkan Abram yang tengah membopong Ester, yang lain memegang tangan, kaki, dan rambut Ester yang bergelombang sebatas pinggang tergerai di bawa air.Matanya tertutup diam, Vero dan teman-temannya bersama ibu guru menangis melihat keadaan Ester. Ibu Neli hanya diam entah ada apa di kepalanya. Mereka membawa Ester ke tepi kolam. Semua berusaha menolong Ester. Pak Rian berusaha membantu memberi pernapasan buatan Akhirnya Ester mulai bergerak dan membuka matamya. Bantuan mendudukkan Ester untuk bisa memuntahkan air dilakukan oleh pak Rian dan teman-temannya. Setelah memuntahkan air ibu guru dan teman perempuan mamapah Ester ke tempat pancuran yang dilindungi karung goni untuk bertukar pakaian. Untung Ester cepat tertolong. Kini Ester hanya duduk-duduk di batu besar dekat pancuran, melihat temannya kembali berenang. Ester memperhatikan pak Rian yang masih duduk di tepi kolam. Mata mereka bertemu pak Rian menatap Ester penuh cinta. Ester tersenyum manis. 'Ciuman pertama saat kau tak merasakannya Ter' bisik Rian pada dirinya. ml
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN