Sama seperti sore hari yang Dean lalui dalam satu tahun terakir, dia menghabiskan harinya dengan duduk di sebuah kursi. Ditemani setumpuk pekerjaannya.
Bau antiseptik rumah sakit memenuhi indra penciumannya di kamar ini dan suara pendeteksi detak jantung yang berbunyi bip bip bip secara teratur.
Sesekali tatapan lembut Dean melirik ke alat itu, lalu Dean memejamkan matanya dan menghela napas.
Lega, karena dia masih selalu mendengar detak jantung Liliana setiap detiknya. Walaupun wanita itu masih tak mau bangun juga.
Dean kemudian melepaskan kacamata bacanya dan memasukkan lembaran-lembaran kerjanya kedalam tas. Kemudian Dean duduk di kursi yang ada di samping ranjang Liliana. Digengganmnya tangan putih nan pucat itu, hanya desiran hangat yang begitu kecil dapat dirasakan oleh Dean.
"Bau antiseptik ini menganggu sekali, ya?" Ucap Dean sambil tersenyum. "Kau bosan dengan bau ini tidak? Atau, kau tidak bosan tidur terus? Bukankah kau selalu bilang kalau kepalamu akan pusing bila tidur lebih dari enam jam? Tapi ini sudah lebih dari beberapa bulan kau tidur."
Dean lalu menghela napasnya lagi. "Aku akan keluar dulu. Mau membelikanmu bunga Lily putih seperti biasa."
Tidak ada jawaban.
Dean kemudian melepaskan genggaman tangannya dari tangan Liliana, lalu berdiri dan melangkah membuka pintu.
Satu kali hentakan pelan, pintu ruangan Liliana terbuka dan bersamaan dengan itu, ada seorang gadis yang berdiri tepat didepan pintu.
Lily Jasper kemudian mengangkat pandangannya dan tersenyum kecil. "Hai."
Dean mengangguk kecil, terlalu terkejut.
"Ini," Lily kemudian menyodorkan sebuket bunga Lily putih. Pas sekali karena Dean hendak keluar dan membeli bunga kesukaan calon istrinya. "Untuk Liliana. Semoga bunga ini adalah bunga kesukaanna."
"Ini... memang bunga kesukaannya." Dean kemudian berdeham sambil meraih buket bunga yang disodorkan oleh Lily. "Terimakasih."
Lily mengangguk sambil tersenyum dan kemudian dia membenarkan letak tas gitarnya. "Hari ini jadwalmu untuk mengajariku gitar."
Dean lalu mengernyit dan kemudian mengangguk. "Iya. Tapi, bukankah nanti malam? Jadwal les-nya nanti malam."
"Aku mau sekarang." Lily lalu mengulum bibirnya. "Disini saja boleh?"
***
"Kondisi Liliana sedang dalam keadaan yang stabil hari ini. Jadi tidak apa-apa latihan di sini." Dean melangkah terlebih dahulu, membuka jalan untuk Lily masuk ke kamar rawat inap Liliana.
Lily mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian tatapan matanya menelusuri isi kamar Liliana yang cukup besar ini.
Ada sebuah meja makan bundar, kulkas kecil, lalu ada dua buah sofa. Satu sofa hanya untuk duduk dan satunya lagi bisa digunakan untuk kasur.
"Duduklah dimanapun yang kau mau, Lily." Ucap Dean sambil mengambil vas bunga yang ada di nakas. "Aku akan mengisi air untuk vas agar bunga darimu segar."
"Okay." Lily tersenyum sambil melihat punggung Dean yang masuk ke kamar mandi.
Lily kemudian duduk di sebuah sofa dan melepas tas gitarnya. Walaupun sempat marah dengan Dean, tapi entah kenapa ketika berbicara dengan lelaki itu, rasa kesalnya seolah hilang.
Karena itulah cinta, kau bisa marah pada orang yang kau cintai karena masalah sepele. Tapi ketika kau bertemu dengan orang itu, kau akan berpikir dua kali untuk tidak marah padanya. Karena dengan keberadaannya disekitarmu saja sudah membuat kau bahagia.
Jadi, kau yakin hendak menghancurkan kebahagiaanmu sendiri karena keegoisanmu?
Tapi kemudian, senyuman Lily perlahan terhapus ketika tatapannya beralih pada seorang wanita yang terbaring disana dengan alat bantu pernapasan dan ada kabel-kabel entah apa itu yang menempel didalam bajunya.
Rasanya jahat, ketika mementingkan keegoisan untuk mencintai lelaki yang telah memiliki seorang wanita yang lebih dulu ada dengannya daripada Lily.
Dean kemudian keluar dari kamar mandi dan meletakkan vas bunganya diatas nakas seperti semula. Lalu Dean melangkah kearah kulkas dan membukanya, mengambil sebotol jus jeruk dingin dan kemudian dia mengambil sebuah buku dari tas-nya.
"Hanya minuman ini yang tersisa di kulkas."
Lily menerima sebotol jus itu. "Thanks."
Dean menganggukkkan kepalanya sambil duduk di sofa yang sama dengan Lily. "Bagaimana kalau hari ini kau mempelajari petikan nada? Jadi aku akan memberikan nada –"
"Dean?" Panggil Lily yang membuat Dean menghentikkan ucapannya dan balas menatap Lily dengan pandangan tanyanya. Lily kemudian mengusap-usap senar gitar yang ada di pangkuannya. "Ada yang ingin aku tanyakan sebelumnya."
"Apa itu?"
"Kenapa kau memilihku masuk di team B untuk drama musical itu? Aku bahkan belum lancar memainkan gitar." Lily mengangkat wajahnya untuk menatap Dean. "Jujur saja, aku trauma dengan keramaian. Aku termasuk anti sosial. Aku terlalu takut bila bertemu banyak orang, bertemu dengan blitz kamera yang banyak dan anggap saja demam panggung. Aku tidak bisa melakukannya."
Dean lalu terkekeh. "Teman-temanmu juga banyak yang mengatakan hal itu tadi."
"Tapi mereka berbeda. Mereka tidak mempunyai trauma sepertiku. Mereka tidak pernah merasakan rasanya di terapi agar aku mau melakukan kontak fisik dengan orang-orang selain keluarga. Mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan." Lily lalu kembali menundukkan kepalanya dan bergumam pelan. "Sebetulnya, aku yang berbeda dengan mereka."
"Maka dari itu aku ingin kau berani."
"Tidak akan bisa." Lirih Lily.
"Bisa." Dean lalu menepuk puncak kepala Lily dan mengusapnya dengan lembut. "Aku bahkan meminta ijin pada Mr Max. Lebih tepatnya, aku menceritakan perkembanganmu dalam bermusik pada Dad-mu dan dia bahkan bercerita bahwa selain suka menulis, kau juga suka menyanyi."
Lily melebarkan matanya dan kemudian mendecih kesal. "Kenapa juga Dad harus menceritakannya padamu?"
Dean sontak tertawa dan mengacak rambut Lily. "Astaga, kenapa kau bisa selucu ini bila merajuk?"
Lily tidak bisa menjawab ucapan Dean. Dia hanya bisa melirik melalui bulu mata lentiknya. Melihat tawa lelaki yang disukainya ini dan ada sebersit rasa hangat ketika Dean terus mengusap rambutnya.
Sadar dengan sikap diam Lily, Dean kemudian berdeham dan melepaskan tangannya dari rambut Lily secara perlahan. "Kau pasti bisa, Lily. Aku akan membimbingmu."
"Baiklah, akan kucoba." Senyuman kemudian terbit di wajah Lily, membuat Dean ikut tersenyum. "Jadi, bagaimana selanjutnya?"
Selanjutnya, kamar Liliana yang biasanya sepi ini, sedikit demi sedikit terisi alunan dari petikan gitar yang terdengar.
Terkadang, obrolan ringan dan tawa yang renyah dari Dean dan Lily juga masuk ke pendengaran Liliana yang terbaring dikasur. Hanya saja, seolah saraf-sarafnya yang lain tidak mau mengajaknya berkompromi untuk membuka mata dan melihat Dean.
"Kau lapar tidak?" Tanya Dean ketika sudah satu jam mereka berlatih gitar.
"Lumayan." Jawab Lily.
Dean kemudian berdiri. "Aku akan ke cafetaria sebentar. Membeli makanan. Kau disini saja dulu. Kau bisa menonton televisi, atau bermain gitar. Liliana sangat senang mendengar musik. Dia juga yang paling senang berkomentar tentang musik. Mungkin, dia bisa memberi komentar padamu."
Lily terdiam. Iris matanya melirik kearah Liliana yang terbaring di kasur itu.
Menyadari arti tatapan Lily, Dean menggerutu dalam hati. Bagaimana Liliana bisa berkomentar dalam keadaan koma?
"Semoga Liliana akan mengomentari permainan gitarku ini ketika dia bangun nanti." Lily mengedikkan bahunya sambil tersenyum.
Dean juga ikut tersenyum. Ah, dia lupa. Bahwa Lily berbeda dengan murid-muridnya yang lain. Atau lebih tepatnya, berbeda dengan gadis kebanyakan. Pemikiran Lily lebih terbuka dan jarang sekali berpikiran aneh.
"Baiklah, aku akan ke cafetaria sekarang." Pamit Dean.
Kemudian pintu kamar rawat Liliana tertutup. Menyisakan Liliana dan Lily yang ada di kamar ini.
Hening dan bahkan sekarang Lily seolah merasakan jika Dean bisa saja depresi atau stress ringan dengan keadaan ini.
Lily kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di sebelah ranjang rawat inap Liliana sambil membawa gitarnya.
"Hai..." Sapa Lily. Kemudian dia tidak tahu lagi harus berbicara apa pada orang koma yang jelas tidak akan menjawab ucapannya.
Akhirnya Lily memutuskan untuk melanjutkan pelajarannya dengan Dean tadi. Mencoba salah satu lagu dari Disney dalam versi akustik untuk drama musicalnya nanti.
Tapi kemudian, Lily menghentikkan gerakan jemarinya yang memetik senar-senar gitar. Lily lalu memeluk gitarnya.
"Dean orang yang baik." Tidak tahu mengapa, tapi Lily mengucapkan itu semua. "Dean pernah bercerita padamu tidak, kalau banyak murid yang menyukainya dan mengaguminya di sekolah? Apalagi murid perempuan."
Lily lalu menundukkan kepalanya. "Aku tidak tahu Dean mempunyai calon istri yang sangat cantik sepertimu. Bila aku tahu, tidak mungkin aku berani menyukainya.
"Aku kira terlambat untuk mundur menyukai Dean karena aku sudah begitu menyukainya. Maaf Liliana, tapi Dean adalah cinta pertamaku." Lily kemudian bergumam begitu pelan. "Juga ciuman pertamaku."
Lily tahu, Liliana tidak akan menjawab. Setidaknya untuk saat ini, tidak tahu jika nanti.
"Tapi ketika melihat kebahagiaan Dean disini, ada pada dirimu, aku sadar bahwa aku tidak berhak berusaha untuk mendapatkan Dean. Karena cinta harus di perjuangkan. Ada seseorang yang berbicara padaku seperti itu." Lily terkekeh kecil ketika mengingat orang itu. "Bangunlah Liliana. Bangunlah untuk Dean, untuk orang-orang yang menyayangimu."
Lily menelan salivanya dan dia tersenyum kecil. Lagi-lagi dia seperti merasakan apa yang dirasakan Dean.
Berbicara pada Liliana, mengharapkan jawaban, tetapi Liliana tak kunjung menjawab. Mengharapkan kelopak mata itu terbuka, tapi tak kunjung terbuka.
Akhirnya, yang berbicara hanya bisa terdiam dan menelan pil pahit.
Pil pahit yang sama saja sebuah kenyataan pahit.
Lily kemudian memutuskan kembali memetik senar demi senar gitarnya. Menciptakan sebuah nada.
Sampai ketika iris matanya kembali menatap Liliana, gerakan jemari Lily yang sedang memetik senar gitarnya terhenti.
Jantungnya seolah mencolos ketika melihat gerakan jemari Liliana.
Satu kali, begitu perlahan. Sampai kemudian Lily melihat bola mata dibalik kelopak mata Liliana seolah bergerak-gerak.
Lily membekap mulutnya, menahan pekikannya. Rasanya seperti keajaiban.
Sampai kemudian mata Lily memanas, dia segera berdiri dan berlari. Membuka pintu dalam sekali hentakan dan kebetulan ada seorang suster yang berjalan didepan kamar Liliana.
"Suster! Tubuh Liliana seolah merespon ucapanku!"
Dan tak sampai sepuluh detik kemudian, kamar Liliana sudah dipenuhi suster dan dokter didalam sana.