“Aaaaaaaaaa, ya ampun! Aku harus apa? Pak Ayang bilang hampir gila tidak melihat dan mendengar suaraku.” Saking kerasnya aku berteriak hingga membuat Bibik lari tergopoh-gopoh ke dapur. Bagaimana tidak? Pak Ayang secara jelas dan sadar menuliskan pesan pada grup seperti itu. Aku terharu sampai ingin menemuinya. Tapi gak bisa, Mas Agung tidak akan membiarkanku kabur. “Mbak Mimi kenapa?” tanya Bibik sambil mengatur nafas. “Kangen sama Pak Ayang. Pengen denger suaranya ...” Bibik menghela nafas lega, tangannya membelai lembut dadanya. “Sabar, Mbak. Namanya juga lagi menjalani pingitan.” “Lama banget, Bikkkkkkkk. Aku sudah rindu berat sama Pak Ayang.” Mas Agung menyuapiku gimbal udang. Nyebelin banget dia! Aku tidak boleh melihat pesan dari Pak Ayang. “Hanya empat hari. Bibik dulu samp

