Hujan turun deras malam itu. Langkah Marco tergesa menembus lorong panjang mansion Antico, jas hujannya masih basah kuyup. Nafasnya terengah, wajahnya menegang, matanya merah menahan panik. Ia baru saja kembali dari jembatan tua, tempat seharusnya ia bertemu wartawan yang dijanjikan. Tapi yang ia temukan hanya kegelapan, kesunyian… dan sebuah tas kulit berlumuran darah, tergeletak di tepi jembatan. Marco berhenti di depan pintu besar ruang kerja Adrian. Tangannya bergetar ketika mengetuk. Dari dalam, suara berat Adrian menyahut dingin. “Masuk.” Marco mendorong pintu, lalu menutupnya rapat. Di dalam, Adrian berdiri menghadap jendela, siluet tubuhnya tegak dalam cahaya lampu. “Bagaimana?” tanyanya tanpa menoleh. Marco menunduk, suara seraknya hampir tertelan hujan di luar. “Tuan… wart

