"Dasar m***m!" kesal Dea kembali duduk, ia juga memalingkan wajahnya seolah marah. Padahal perasaannya kini sangat berdebar hanya karena mendengar "pujian" sederhana dari bibir Om kesayangannya itu. Pelan Hito mengambil tangan Dea yang kecil namun hangat itu. Ia ingin kembali terlelap seraya memegang tangan halus Dea. Dea tersentak. Ikut memperhatikan genggaman tangan mereka dengan wajah bantalnya. "Kamu gak tidur?!" tanya Hito menatap lekat Dea. Dea menggeleng lemah "enggak..!" jawabnya persis anak-anak. "Kenapa?!" "Takut Om tiba-tiba jadi panas" lirih Dea. Terlihat kesedihan dari sorot matanya. "Heemmm... kalau gitu sekarang kamu tidur. Udah pagi juga" balas Hito. "Enggak ahk... lagi gue gak ngantuk kok" tolak Dea. "Bohong... lihat tuh mata kamu merah gitu" kritik Hito, pagi in

