Aku bersama Maya datang ke ruangan Adri untuk pertama kalinya. Saat itu ia nampak sedang sibuk menerima telpon hingga kursinya memutar membelakangi arah pintu. Aku memandang lekat kantornya yang besar dan mewah tertutup kaca bening sedang terpapar matahari pagi, dengan tirai dibiarkan terbuka. Beberapa langkah dari mejanya, sofa abu-abu dari beludru dan lantai tertutup karpet berbulu menjadi pilihan kami duduk di sana.
Aku datang menginjakkan kaki ke ruang kerja Adri bukan tanpa alasan, kami akan membicarakan masalah pekerjaan sebagai seorang pembawa acara seperti yang telah ia tawarkan beberapa waktu sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa barusan saja datang, dia langsung memintaku menuju ke ruangannya. Ruangan di puncak gedung TV2 yang berlantai 15, sekaligus tempat pertemuan Grup Tanoeadji yang ia pimpin di beberapa lini bisnis.
Bunyi telpon menutup, Adri membalik kursinya dan menatap kami berdua dengan dua jemari saling bertaut di depan dagu. Selama beberapa detik ia diam saja kemudian menarik napas dan mulai berbicara serius.
"Maya karena kamu manager Raina, kamu pasti sudah menjelaskan isi kontraknya 'kan?"
"Iya, Raina sudah membaca kontrak dan tanda tangan"
Adri berdecak, "Bagus,cuma aku mau menekankan syarat pribadi kalau ini adalah pekerjaan profesional di mana kalian bekerja dan saya menggaji, jadi saya harap tidak ada hal yang membuat saya harus kecewa" mendengar ucapan membuatku merasa sedikit tersinggung, seolah aku akan membuat rusuh perusahaan maupun hidupnya.
"Ya, saya tahu, tapi tindakan Pak Adri memanggil kami ke ruangan ini juga bisa dianggap tindakan tidak profesional 'kan?" utaraku membuat dia melirik.
"Itu berbeda kalau saya yang memanggil"
Aku mendesah dan berdiri dari kursiku, "Begitu, ada yang tidak adil. Ayo Maya kita pergi, sebentar lagi on air" aku melangkah lebih dulu dan mengabaikan Adri.
**
Waktu janjian kami menuju ke panti sosial akhirnya datang juga. Karena tidak sempat mempersiapkan banyak hal, aku hanya membawa sejumlah besar uang dan beberapa kardus mie instan, makanan kecil dan baju bekas yang masih layak pakai. Aku mengira karena kegiatan hari ini akan sederhana, aku cukup berpakaian santai saja tanpa mengenakan sesuatu yang terlalu mencolok. Namun tiba di sana, acara yang dilangsungkan ternyata cukup meriah dengan tenda yang didirikan bersama sebuah panggung. Ini adalah acara pemberian sumbangan secara resmi sampai mengundang wartawan media cetak maupun elektornika.
Keterkejutanku tak sampai di situ. Dari kejauhan kulihat Adri berada di sana, sedang mengobrol santai dengan Adnand di salah satu sudut kursi. Aku menelan ludah, kaku sambil menenteng dus pakaian bekas dintanganku, dengan di bantu Pak Arofik membawa barang lain. Dalam hati aku menggerutu karena Adriana tidak memberitahu persoalan ini, dan aku sendiri tidak begitu akrab dengan teman arisan lainnya karena baru temu beberapa kali.
Aku mematung di depan halaman panti sosial kawasan Jakarta Barat tersebut sambil melihat ramainya orang-orang dan riuhnya acara. Tak berapa lama Adya melihat keberadaanku lalu melambaikan tangan sambil tersenyum. Ia berlari menghampiri dengan gayu anggun. Hari ini ia nampak cantik dengan gaun sifon abu-abu berkerah 'u' tanpa lengan setinggi paha. Aku terseyum padanya.
"Kamu akhirnya datang, aku kira kamu sibuk?"
"Oh, aku sengaja mengosongkan waktu untuk bisa datang, acaranya ramai sekali ya?"
Adya berpalig ke belakang, melihat panggung dan keramaian acara, "Adriana tidak memberitahu kamu detail acaranya?"
"Tidak, aku baru tahu waktu di sini. Aku harap apa yang kubawa tidak salah"
Adya memberi senyum ramah, "Nggak ada yang salah. Aku mau ngasih tau kamu infonya, tapi aku tidak punya nomor telpon kamu"
"Aku lupa ..." kuraba ponsel di saku celana jeans yang kukenakan.
"Non Adya makanan ini dibawa ke mana?" kata Pak Arofik di belakang punggungku.
"Di bawa ke panitia di tenda sana saja, Pak" Adya menunjuk ke salah satu sudut gedug panti sosial yang lumayan bersih, meski bangunannya kelihatan sudah cukup tua termakan usia.
"Ini momorku!" kataku pada Adya dan kami mulai bertukar nomor pensel sebagai awal mula sebuah pertemanan yang kelihatannya akan menyenangkan.
Kawan-kawan searisan kami muncul, bersama Adriana yang masih terlihat kesal padaku karena masalah Brian yang gagal kukenalkan padanya, dan aku pikir hal itu juga yang membuat Adriana tak menyampaikan masalah penyerahan sumbangan ini padaku. Aku kesal tapi menahan diri, jika itu dalam kondisi normal tanpa dilihat siapa-siapa, bisa saja aku mengajaknya berkelahi di sini.
Kami duduk menyebar, seperti biasa Adriana dengan kawan mewahnya yang tak pernah lepas dari barang mahal dan Adya yang duduk mendampingi Adri yang hari itu nampak tampan dengan kaos polo putih, jeans kargo berwarna hitam, topi putih yang menutup potongan rambut pompadour-nya dan kacamata hitam pembingaki matanya. Tak jauh dari pasangan itu duduk Adnand yang berbincang dengan Adri. Aku memilih berada di kursi belakang untuk menghindari sorotan dan menikmati acara penyerahan sumbangan hari ini.
Lumayan lama aku duduk menyendiri, sampai Adnand berbalik dan menyadari kehadiranku. Adri menengok arah pandangan lelaki tua itu menuju yang kemudian beranjak duduk dua kursi dariku. Awalnya aku mau mengabaikannya saja, tapi dia memulai obrolan lagi di depan banyak orang yang tidak bisa aku hindari. Dia tahu kelamahanku di muka umum.
"Kamu sepertinya akrab dengan istri Tanoeadji"
"Apa aku juga harus melaporkan dengan siapa aku bergaul? Aku tidak berpikir kamu peduli" Adnand bergumam.
"Saya lihat kamu pernah diberitakan sakit?"
"Oh, itu berita sudah basi"
"Saya tidak sempat menjenguk"
"Saya tidak mencari"
"Yah ..." katanya tanpa semangat, kemudian merogoh saku kemeja lengan pendek yang ia kenakan dan mengulurkan sebuah kunci ke arahku.
"Apa ini?"
"Ambil saja, ini sebuah rumah yang sudah lama ingin saya berikan. Saya selalu membawanya karena berpikir kita bisa bertemu lagi. Saya juga ingin tahu, sebenarnya ke mana kamu dan ibu kamu pergi setelah hari itu?" aku menatap tajam mata cekung Adnand selama beberapa detik dan beranjak dari sana, menuju ke tempat panitia yang membagi-bagikan makanan bersama Adriana.
Di sana kami berbaris di sebuah meja panjang sambil membagi uang, makanan, pakaian dan lainnya yang bisa berguna untuk anak jalanan, gelandangan, maupun pengemis sampai tuna susila. Suasana awalnya berlangsung tenang tanpa sebuah masalah sampai seorang anak lelaki dengan pakaian lusuh tanpa sengaja menabrak seorang perempuan yang menenteng tas hermes mahal berwarna putih, hingga noda makanan memenuhi tas mahal itu dengan kuah kare. Anak itu pun terkena marah sampai harus meminta maaf beberapa kali dan tidak satu pun dari orang yang ada di sana menolong, selain memonton dari kejauhan, karena menilai tas ratusan juta itu lebih berharga dari sekotak nasi seharga dua puluh lima ribu rupiah.
Aku beranjak ke arah perempuan yang berusia 45 tahunan, berambut panjang legam sepunggung, memakai kemeja bercorak floral merah muda dengan celana kain berwarna putih. Aku merangkul lengan anak bertubuh kurus setinggi pinggangku yang menatap perempuan di depannya dengan tatapan kosong sambil sesekali menyeka air mata.
"Trus ini bagaimana tas saya, kamu tahu berapa harganya, harga yang harus dipakai mencuci tas saya ini?" hardiknya sambil mendorong lengan anak itu. Aku menatap tajam ke arahnya lalu menyembunyikan anak tersebut di belakang punggungku.
"Kamu sudah tua, tidak malu memarahi anak kecil hanya karena tas?"
"Hanya karena tas?" alis perempuan dengan muka halus penuh perawatan itu menukik dengan nada tinggi, "kamu siapa? Kamu tahu ini merk apa, harganya berapa? Kamu tahu?"
"Harga itu tidak sepadan dengan makanannya yang sudah jatuh ke tanah"
"Apa? Harga kotak nasi itu bahkan tidak seberapa untuk saya! Kamu jangan sok jadi pahlawan di sini, kamu mau masuk tivi?" tukasnya sengit.
"Apa kamu pernah merasa kelaparan sampai merasa takut, sedih dan mau menangis? Apa kamu pernah merasa memakan satu suap nasi dengan lauk sepotong daging dan merasa sudah sangat bahagia? Kamu tidak pernah merasa seperti itu karena kesalahan orang miskin adalah lapar dan orang kaya karena mereka tamak"
"Apa? Kamu jangan mengajari saya! Perempuan tidak ada hormat pada orangtua" bentaknya.
Dua orang lelaki bertubuh tinggi dan tambun lantas datang melerai kami berdua. Tanpa sadar sekelompok orang sudah mengililingi kami bersama mata kamera yang sudah awas membidik. Kebetulan dari salah satu orang itu membawa segelas kecil air kemesan. Aku mengambil dan menyiramkan ke muka perempuan itu hingga ia berteriak geram, seperti hendak menerkam ke arahku.
"Orang kaya memang menjengkelkan" kataku.
"Sudah cukup, tolong keributan ini tidak perlu dilanjutkan lagi" kata Adya yang muncul melerai.
"Saya tidak terima tas saya rusak dan sekarang muka saya malah disiram air. Adya kamu 'kan panitia di sini, harusnya bertanggung jawab. Pokoknya saya tidak mau tahu, mereka berdua ini harus diusir, kalau perlu penjarakan saja!"
Aku menggandeng anak itu meninggalkan tempat acara yang tidak jauh dari pamer orang kaya, terselubung slogan amal. Kuminta Pak Arofik mengantar anak itu pulang ke rumahnya sambil membawa uang pengganti makanannya yang sudah jatuh ke tanah, sementara aku sendiri menunggu di luar pagar tepat berhadapan jalan raya, sampai Pak Arofik menjemputku nanti.
**
Aku bersiap akan tidur dan mematikan lampu di kamarku ketika bel di depan pintu berbunyi. Saat itu sudah menjelang tengah malam dan aku pikir Adri datang tanpa pemberitahuan karena ulah burukku di acara amalnya siang tadi. Aku bergegas menuju pintu tanpa mengintip lebih dulu, namun keningku tiba saja mengerut ketika yang berdiri di depanku bukanlah Adri, melainkan Brian dengan napas berbau alkohol. Dari tindak kelakuannya dia sedang dalam keadaan mabuk berat. Aku meraih gagang pintu, hendak menutupnya namun tangan Bria menahan. Ia menerobos masuk ke dalam apartemenku begitu saja dengan langkah terhuyung.
"Oh, jadi ini tempat tinggalmu?" tukasnya kemudian berbalik badan ke arahku.
"Sebaiknya kamu keluar Brian!"
Ia tertawa keras dengan linglung, "Keluar? Oke saya akan keluar tapi tolong antar saya ke apartemen saya!"
"Kamu bisa meminta tolong bantuan satpam, saya bukan pembantu kamu!" ia merebahkan diri di atas sofaku sambil melintangkan tangan dan melipat kakinya.
"Baik, tidak masalah saya akan berada di sini. Kalau kamu memaksa satpam mengantar saya kemari, saya akan bilang kamu yang mengajak saya ke apartemen kamu untuk minum. Apa kamu tidak takut nama kamu jadi buruk? Saya cukup tahu orang Indonesia tidak pernah ramah dengan profesi selebritis"
Aku berpikir beberapa detik, lalu dengan mengabaikan sikap malas dan beci, akhirnya aku setuju mengantarnya ke lantai atas yang kukira tidak akan menghabiskan waktu lebih dari lime menit, "Saya akan mengantar kamu kalau begitu, silahkan kamu berdiri dari sofa saya!"
Brian menyeringai, "Kalau saya bisa berdiri sendiri, kenapa saya harus meminta bantuan sama kamu? Lagipula sudah tugas seorang tetangga menolong tetangga lainnya 'kan? Seperti saya menolong kamu ketika kamu membawa kawan kamu itu ke rumah saya dan membuat tempat saya jadi kotor"
"Kamu mau kembali ke tempat kamu 'kan?"
Aku beranjak ke sisi Brian, memapah lengannya hingga ia bisa menegakkan diri menuju ke lift. Suasana seputaran apartemen telah sepi ketika kami tiba di depan pintu merah kamar apartemennya. Ia meraih kunci dalam sakunya, kemudian membuka pintu. Aku meletakkan tubuh besarnya di sofa dan hendak beranjak pergi, namun dengan tidak sopan dan kasar Brian menarik jemari tanganku tiba-tiba, melemparku ke atas kursi kemudian memegang pergelangan tangan dan menindih tubuhku. Seluruh tubuhku bergidik ketakutan meski aku berusaha selalu nampak tenang dan tidak ketakutan menghadapi tingkah lelaki mabuk sepertinya.
"Lepaska aku Brian!" kataku dan pria berbibir tipis itu menyungging picik.
"Kalau kamu bisa lepas dari saya, saya akan melepaskan kamu!" wajahnya mendekat hingga bau alkohol bertambah tajam menusuk hidungku. Aku berontak, menggeliat mencoba melepaskan tubuhku yang ditindih kaki Brian dan dijerat lengannya.
"Kalau kamu melakukan sesuatu saya akan berteriak sampai orang-orang datang kemari dan menangkap kamu!"
Wajah Brian berhenti, berada dalam jarak begitu dekat dengan kulit pipiku, "Apa kamu pikir akan ada yang percaya pada perempuan seperti kamu? Apa kamu kira saya bodoh?" katanya kemudian berbisik di telingaku, "bukannya Adri sering datang ke tempat kamu dan tidur di sana? Katakan pada saya, berapa harga yang dia bayar untuk tidur semalam dengan kamu? Tentu kamu tidak keberatan kalau saya membayar dengan harga lebih tinggi" aku tercekat, mendengar ucapan Brian "menjadi perempuan perusak rumah tangga orang lain, sekaligus sebagai p*****r kamu benar-benar perempuan kotor!" pungkasnya kemudian tertawa dengan mencomooh dan merendahkan.
Aku mendorong tubuh Brian menjauh, dan hampir melepaskan tamparan ke pipinya, namun ia menahan kedua tanganku, kemudian mencium bibirku dengan penuh hasrat. Aku menampar pipinya dan ia balik menampar pipiku hingga aku terjerembab ke lantai dengan pecahan air mata yang menetes tanpa terasa dari mataku. Aku menahan isakan tangis, ketika ia kemudian mendekat ke arahku lalu berbisik di lubang telingaku.
"Dengar, kamu harus tutup mulut. Kalau kamu berani buka mulut akan saya katakan pada semua orang mengenai pekerjaan sampingan kamu!" ia merogoh dompet dari belakang saku celananya dan megeluarkan beberapa lembar uang rupiah yang ia lemparkan ke lantai, "dua juta untuk satu ciuman, kamu boleh pergi!" katanya kemudian beranjak menuju ke kamarnya. Aku terisak, hingga rembes air mata membanjir perlahan di atas pipiku. Aku mengumpulkan kekuatan coba berdiri di atas ke dua kakiku. Ini adalah sebuah penghinaan terburuk yang pernah kudapat sepanjang hidup.
Aku berjalan menuju ke westafel kamarku, kemudian mencuci muka dan bibirku dengan air yang mengalir penuh putus asa dan kesedihan tak terkata. Aku mencucinya ratusan kali dan tetap merasa bibirku telah kotor, dan tidak bisa suci lagi setelahnya. Seperti itulah Brian memandangku, begitupun mungkin dengan Adri. Sungguhkah aku sudah seperti seorang p*****r nista karena merahasiakan pernikahan sepihak ini dari semua orang. Dan bila aku meneriakan pernikahanku ke seluruh dunia, mungkinkah tidak akan lagi ada penghinaan untukku di kemudian hari? Tidak, akan selalu ada penghinaan untuk perempuan yang menempatkan diri di tengah pernikahan orang lain.
Sepanjang malam aku menangis tiada henti hingga sepasang mataku bengkak dan lesu. Aku tahu harus menjalankan tanggung jawab sebagai seorang pembawa acara, jadi aku bersiap lebih pagi dan berangkat lebih awal agar tak bertemu muka dengan si b******n Brian.
Masih sekitar pukul setengah enam pagi, matahari bahkan belum mengintip dari balik cakrwala dan semua orang masih terlelap dalam tidur. Aku menuju gedung TV2 dengan diantarkan taksi. Tiba di depan kantor berlantai sebelas itu belum ada aktivitas sama sekali, bahkan pintu pagarnya masih terkunci, hanya lampu dari post satpam yang masih menyala di sudut halaman.
Aku duduk terkulai dan tanpa sengaja berpikir mengenai hal yang telah terjadi kemarin malam. Air mataku hampir tumpah memenuhi sepatu hak tinggi yang aku kenakan dan merusak make up yang telah susah payah kupulas. Aku mendongak ke arah langit mencoba menahan kesedihan, namun tetap saja kubiarkan diriku terisak seperti orang bodoh. Aku selalu bertanya, kenapa kehidupan tak pernah berjalan adil bagiku. Aku tak meminta begitu banyak selain cinta dan rasa bahagia tapi apa yang terberi bagiku hanya genang air mata yang mungkin telah terlalu sering menguap bersama udara.
Aku terlelap tanpa terasa di dekat gerbang, hingga seorang satpam membangunkan ku dengan muka heran. Aku terperanjat, melihat sinar matahari telah tinggi di atas segumpalan awan. Aku berdiri tanpa mengatakan apa pun, hanya memegangi kepalaku yang berat sambil melirik ke dalam kantor yang gerbangnya telah terbuka. Sedikit limbung, dengan menahan kantuk dan kepala yang berat aku beranjak menapaki lobi kantor itu dan duduk di sebuah sofa sambil melirik ka erah jam yang barusan saja menginjak pukul 06.00 pagi. Aku mengatupkan mata, tak bisa menahan serangan lelah semalaman.
Ponselku berdering, membuatku tersadar bersama keramaian para karyawan dan menyadari resepsionis hingga office boy sedang melirikku yang jatuh terlelap di atas sofa. Aku mencoba menghilangkan rasa kikukku dan mengangkat telpon.
"Keruangan saya!" hanya itu ucapan yang dikatakan padaku.
Aku beranjak ke tempat telpon barusan tadi berasal. Ruangan Adri, pria itu sedang duduk di meja kerjanya dengan sikap serius. Ia menyilahkan aku duduk dan aku tidak mengatakan apa pun padanya, hanya menundukkan muka menatap sepasang jemariku yang bergetar. Langkah letupan sepatunya mendekat, aku masih tak berani berpaling ke arahnya.
"Kenapa kamu tidur di kantor?" ia duduk di sebelahku dan aku hanya menggeleng menimpalinya, "kamu kenapa, apa kamu masih kepikiran dengan kekacauan kemarin? Sebenarnya aku selalu heran dengan tindakan kamu. Semalam aku menelpon tapi ponsel kamu tidak aktif. Apa sengaja kamu matikan?" aku menggeleng lagi, tak begitu berselera menimpali pertanyaan-pertanyaan Adri. Jemarinya lalu menyentuh daguku, kemudian membuat wajahku mendongak ke arahnya. Ia melepaskan kacamata hitam yang aku kenakan dan aku lihat keningnya mengernyit, nyaris menyatu, "mata kamu bengkak, bibir kamu berdarah, lihat pipi kamu juga merah. Kamu kenapa? Ada yang memukul kamu, apa parempuan kemarin datang dan menampar kamu bersama body guardnya?"
Adri mengambil telpon dari saku celananya, sedang berupaya menghubungi seseorang. Aku mehanahan lengannya dan cecar air mata ini jatuh lagi.
Aku tersenyum pahit sambil menatap sepasang matanya yang saat itu menatapku dengan keheranan sekaligus kelembutan dan sisa keprihatinan, "Semalam ada orang yang berkata kalau aku ...," ucapanku terhenti, tenggorokanku pahit sekali untuk melanjutkan, "... kalau aku ini p*****r" entasku dengan bibir bergetar dan air mata yang beriringin menetes. Aku terisak mengepalkan kuat jemariku.
"Siapa yang bilang begitu? Apa seseorang dari klub malam. Siapa?" ucapnya terkejut bersama kesedihan yang bersamaan.
Aku tersenyum bersama isakan tangis yang memakanku, "Seseorang yang cukup dekat dengan kamu, tapi kamu tidak perlu tahu"
"Kenapa?" aku diam saja, Adri menatapku, hampir memelukku saat aku menahan empatinya.
"Kamu pernah bilang kalau ada batas antara hubungan kerja di sini. Aku Cuma pekerja, kalau orang lain melihatku di sini, mereka akan berpikir macam-macam. Aku tahu tempatku" kataku beranjak meninggalkan ruangan Adri.
Malam itu aku menginjakkan kaki sekali lagi ke sebuah klub malam, bukan untuk minum tapi mencari seseorang. Orang itu bernama Wibowo dan selalu bermain ke satu klub menuju klub lain. Dari yang aku dengar dari seseorang, dia bisa membubuh siapa saja saat seseorang mengupahnya dengan layak. Tidak, aku tidak berencana membunuh Brian, hanya melakukan sesuatu yang lebih baik dari pada itu.
Aku menatap sekeliling lantai dansa yang bukan main ramai dan bisingnya. Aku beranjak ke meja bartender dan mulai bertanya mengenai Wibowo yang katanya populer di kalangan pengusaha, selebritis, maupun pejabat itu. Dan seperti sebuah keberuntungan ia menunjuk seorang pria yang duduk di sebuah kursi dengan mengobrol santai bersama seorang perempuan sambil meminum alkohol. Aku beranjak ke sana, sedikit mengganggu waktu mesranya dengan perempuan muda di sisinya.
"Wibowo" kataku dan pria itu mendongak.
Satu alisnya terangkat, "Siapa?"
"Saya punya penawaran untuk kamu" ia tersenyum, lalu mencium pipi perempuan di sisinya, memintanya meninggalkan kami sebentar.
"Kita bicara di mobil saya, di sini suasana terlalu ramai" aku mengangguk setuju. Kami menuju ke mobilnya yang terparkir tak begitu jauh dari sana.
Di dalam mobil dengan penerangan samar itu, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan baik selain tubuh tegap dan tato elang di lehernya.
"Lalu tugas apa yang kamu inginkan saya kerjakan" bukanya dengan suara lantang. Aku menyodorkan foto Brian padanya, "Membunuh anak pengusaha?" ia berdecak, "harganya mahal, karena berurusan dengan orang besar, saya bisa saja mati!"
"Tidak, tidak perlu membunuhnya. Saya ingin kamu melakukan hal yang lebih dari itu, lebih dari kematian untuk dia!"
"Kalau tidak masuk akal saya akan menolak!"
"Saya mau kamu menghancurkan hidupnya, buat dia kenal dan bergantung pada narkoba! Kalau kamu bisa membuat dia rusak, saya akan mengupah kamu uang enam puluh juta, dan untuk DP saya akan beri kamu dua puluh juta. Apa kamu sanggup?"
"Kalau cuma bikin dia ngobat sih, gampang!"
"Saya tidak mau ada kegagalan!"
"Beres!"
Aku memberikan uang senilai tersebut pada Wibowo dan bergegas pulang sambil menaiki taksi. Hari ini aku tidak ada selera untuk berpesta, aku akan berpesta setelah melihat Brian hancur sejadi-jadinya dan menunjukkan pada lelaki b******n sepertinya dengan siapa dia sedang bermain dan resiko apa yang akan menghampirinya dan keluarganya ketika mereka menyakiti dan mengusikku.