Nuri tersenyum sumringah saat melihat keberadaan Lio dan Danu di ambang pintu, dengan segera ia menghentikan aktivitasnya dan langsung menghampiri Lio. Dipeluknya Lio, lalu kedua pipinya ia cium dengan sayang. "Iya, pudingnya memang buat Lio. Kangen banget sama Lio, gimana kabar Lio sekarang?" Nuri bettanya sambil melonggarkan pelukannya pada tubuh mungil Lio, menoel pipi berlemak Lio dengan gemas. "Sehat kan?" Lio mengangguk dua kali, hingga poni rambutnya ikut bergoyang. Ia tersenyum sumringah, memperlihatkan gigi gingsulnya yang sudah jatuh. "Lio sehat, Kakak." "Syukurlah," Nuri kembali memeluk Lio sekali lagi, sebelum kemudian berdiri dan menuntun lelaki kecil itu ke arah kursi yang tersedia di dapur. "kakak buat puding kesukaan Lio, nanti dicoba setelah dingin oke." "Oke, Kakak

