CHAPTER #19
SEMBILAN BELAS
Wisnu memandang Firdaus tersenyum. Novi yang kembali kebelakang ikut tersenyum juga.
“Ahh, mas Wisnu. Ganteng dan gagah juga.” Bisik hati Novi.
“Mas Wis! Mas Wis!” Firdaus menggoyang-goyangkan tangannya didepan muka Wisnu yang melongo menatap punggung Novi yang berjalan kembali ke belakang. “Emh, tergoda, deh.”
Wisnu kaget dan menoleh kearah Firdaus.
“Ya, mas.” Suara Wisnu agak tergagap. “Maaf tadi saya melamun.”
“Melamun apa memandang sih, mas?” Firdaus tertawa.
Wisnu tersenyum malu. Pipinya mendadak panas.
Tidak lama mereka sudah tenggelam kembali dalam obrolannya.
“Ohh, iya mas. Saya harus bebenah dulu. Sebentar lagi kan saya harus praktek. Mas Wisnu tinggal saja disini, sambil melihat yang manis-manis.” Ujar Firdaus.
“Sepertinya tidak bisa, mas Fir. Kalau begitu saya pulang saja, lagi pula ada sesi malam di dojo.” Wisnu berdiri dari duduknya.
“Maaf nih, mas. Bukannya ngusir.” Canda Firdaus.
“Tidak masalah, mas Fir. Terimakasih untuk obat dan kebaikannya. Sesekali saya harap mas Fir bisa mampir ke dojo.”
Firdaus mengangguk dan menyalami tangan Wisnu yang lebih dulu terulur.
Wisnu berjalan keluar dari tempat prakteknya Firdaus.
Cukup lama Wisnu menunggu datangnya angkutan umum. Jarang lewat melalui jalan itu kata tukang gorengan yang ada disebelahnya.
“Jadi berapa jam sekali mereka lewat jalan ini, bang?”
“2 jam sekali, mas. Sebelum mas datang sudah lewat satu angkutan, ya mungkin sejam lagi deh.” Ujarnya acuh saja menggoreng.
Tiba-tiba Wisnu menoleh kearah kanan. Dari gang yang ada sebelahnya keluar tiga orang dan mendekati penjual gorengan. Tanpa basa-basi langsung saja mereka mengambil gorengan yang ada dan memakannya.
“Terus kita kemana sekarang, bang Undang?” Tanya salah seorang dari ketiganya. Mulutnya penuh dengan gorengan.
“Ya, gimana lagi, Kim. Bang Boneng dan bang Tanu juga sudah membantu dokter muda itu. Kita kan tidak ada yang belain lagi.” Jawab yang dipanggil Undang.
“Iya, si Akim ini. Sudah jelas-jelas kita tidak mungkin lagi. Ehh, malah nanya bukannya mikir nyari kerjaan apa lagi, kek.” Ujarnya.
“Bukan begitu, bang Nurdin. Tapi memang hanya itu satu pekerjaan kita. Mengusir dokter Firdaus dari kampung ini.”
Wisnu kaget mendengar nama Firdaus dibawa-bawa.
“Ada apa ya? Kenapa mas Firdaus mereka halangi prakteknya?” Bisik hati Wisnu.
“Sudah bang, berapa semuanya?” Tanya Undang.
“Makan apa saja, bang?”
“Paling sepuluh biji, bang. Minta saja, ya?” Nurdin malah berkata lain. Sesudah selesai bicara tangannya malah menarik laci kayu yang ada didepan penjual. “Sekalian minta duit lah sedikit.” Ujarnya.
Penjual gorengan itu mencoba mempertahankan uang yang ada didalamnya.
Tapi tangan Akim dengan kasar menampar wajah penjual itu hingga terjatuh.
Wisnu melihat kaki Nurdin akan menginjak badan penjual gorengan yang sudah terjatuh. Sebelum kakinya Nurdin sampai di perutnya penjual itu, Wisnu sudah menocat dan menendang kaki Nurdin yang sudah terangkat. Akibatnya Nurdin terpental dan tangannya menyenggol minyak panas.
Nurdin menjerit. Tangannya memegang betis kakinya, sementara tangan satunya berlumur minyak panas.
Undang dan Akim hanya melongo melihat temannya bergulingan di tanah.
Wisnu memegang dan mengangkat penjual gorengan.
“Abang tidak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, mas.” Ujarnya sambil mengusap-usap pipinya yang ditampar Akim.
“Hey, siapa lu? Mau jadi jagoan disini?”
“Bukan begitu, bang. Abang-abang ini sudah makan tidak bayar, mukul juga. Sudah gitu sekarang mau rampok uang jualan abang ini. Apa nggak ada kerjaan lain selain meras orang, bang?” Kata Wisnu berjalan mendekati Undang dan Akim yang memegang badannya Nurdin.
Akim memandang enteng pada Wisnu. Tidak bicara lagi dia meloncat kehadapan Wisnu. Tangan menderu akan memukul wajahnya Wisnu.
Wisnu hanya memalingkan mukanya kesamping sedikit. Tangannya Akim yang ada didepan wajah Wisnu sekilat sudah ditangkap oleh tangan kanan Wisnu. Tangan itu lalu diputar melingkar lehernya Akim. Badan Akim mau tidak mau ikut berputar mengikuti putaran tangannya. Wisnu menggerakan kaki kirinya dan membabat kaki Akim yang tidak sempurna berdirinya. Tangan kanannya mengangkat tangan Akim keatas. Karuan saja bada Akim terangkat keatas dan melayang didepan Wisnu. Wisnu melepaskan pegangan tangannya Akim.
Badan Akim langsung jatuh berdebam di tanah dengan punggung lebih dulu. Akim berteriak kesakitan dan mencoba berdiri. Sebelum sempat berdiri, pipinya sudah mendapat tamparan yang keras dari Wisnu.
“Coba rasain, bang? Sakit nggak?” Ujar Wisnu.
Wisnu berdiri tegak lagi. Dia mendengar bunyi keras dari sampingnya. Undang menyerangnya dengan menggunakan tongkat bambu yang biasa dipakai oleh penjual gorengan untuk memanggul jualannya.
Wisnu merunduk. Tongkat bambu itu melewati kepalanya.
Wisnu bergerak kesamping dan siap menerima serangan berikutnya.
Undang yang pukulan tongkat bambunya luput kembali bergerak kearah Wisnu. Kali ini dia mengincar kepalanya Wisnu lurus dari atas. Undang mengayunkan tongkat bambunya. Wisnu bergerak meloncat kesamping badannya Undang. Kaki kirinya menendang lurus menggunakan tendangan pedang karatenya. Undang membatalkan serangan kepalanya Wisnu dan mengejar kaki kiri Wisnu. Wisnu agak kaget melihat pergerakan Undang yang cepat. Wisnu menarik kaki kirinya. Tongkat bambu itu hanya mengenai tanah dan patah dua.
Undang melemparkan tongkat kayu yang patah kearah Wisnu. Wisnu mengelak dan kayu itu melewati badannya.
Undang kemuadian menjulurkan tangannya sepertinya memasang kuda-kuda silat.
“Emh, rupanya orang ini bisa silat juga.” Pikir Wisnu.
Wisnupun segera memajukan kaki kanannya. Tangan kirinya ada dipinggang kiri sedangkan tangan kanannya menjulur kedepan dengan dikepalkan. Pelan-pelan tangan kirinya dibuka dan ada dibawah tangan kanannya.
Undang terpana melihat gerakan Wisnu yang badannya sekarang terlihat merunduk setengah badan.
Undang maju sambil menyabetkan pukulan sampingnya yang akan menghajar wajah Wisnu. Seperti kilat, tangan kiri Wisnu bergerak menghadang tangan kanan Undang dan berhasil menangkapnya kemudian menariknya kedepan. Tangan kanannya Wisnu bergerak menuju dadanya Undang yang kelihatannya kosong. Tangan Wisnu mengenai dadanya Undang. Badannya Undang terlihat terdorong oleh kerasnya pukulan Wisnu.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan ini Wisnu merangsek melancarkan pukulan lurus karatenya beberapa kali kearah d**a Undang. Terakhir upper cut tinju Muay Thai yang dipelajarinya dari Bayu mengakhiri pertarungannya dengan Undang.
Undang terjengkang dan jatuh dijalanan, pingsan.
Tanpa disadarinya banyak warga yang sudah keluar dari lingkungan disitu. Semuanya mengelilingi tempat itu.
“Tidak apa-apa, bang?” Ujar seorang bapak yang menghampiri Wisnu.
Wisnu mengangguk. “Saya baik-bak saja, pak. Maafkan saya jadi membuat semua orang repot.” Jawab Wisnu.
“Tidak apa-apa, bang. Malah kami senang bisa membekuk orang-orang kayak mereka ini.” Ujarnya sambil ramai-ramai mengangkat badannya Undang yang baru sadar lagi. Mereka mengumpulkannya bersama kedua temannya.
“Abang ini siapa, ya?” Tanya seorang bapak lagi. “Saya ketua RT disini.”
Wisnu menyalami orang itu. “Saya Wisnu, pak. Saya habis mengunjungi teman saya, dokter Firdaus disebelah sana.” Wisnu menunjuk arah rumahnya Firdaus.
“Ohh, temannya dokter Firdaus. Syukurlah bisa menghajar mereka. Mereka ini sering membuat resah penduduk, bang. Sok jagoan dan kerjanya hanya memeras orang saja. Terus sekarang mau diapain nih orang.” Ujarnya menengok kearah mereka yang ketiganya mengerang kesakitan.
“Bagaimana kalau kita bawa saja kedokter Firdaus? Kasihan mereka juga kelihatannya kesakitan. Kalau bapak setuju itu juga.” Jawab Wisnu.
Orang-orang pada geleng-geleng kepalanya. Mereka heran dengan Wisnu.
“Ohh, iya abang penjual juga. Bagaimana bang, mau diperiksa sama dokter?” Tanya Wisnu. “Tadi kan dipukul mereka dan kena minyak panas.”
“Iya, mas. Saya ikut saja.” Jawabnya memelas.
Dibantu oleh warga yang ada disitu, Wisnu membawa mereka ke tempat praktek dokter Firdaus.
Tentu saja Firdaus merasa keheranan melihat banyak orang yang mendatangi tempat praktek dokternya dan membawa orang yang terengah-engah dan kesakitan.
“Ada apa ini, bapak-bapak?” Tanya Firdaus keluar menghampiri mereka.
“Ini pak dokter. Orang yang suka memeras warga akhirnya kena batunya. Mereka dihajar oleh abang itu.” Kata ketua RT menunjuk Wisnu yang memapah membawa penjual gorengan.
Firdaus tidak menyahut ucapan ketua RT itu tapi tertawa terbahak-bahak.
Ketua RT dan orang-orang yang mengantar Undang, Akim dan Nurdin jadi heran.
“Kok, pak dokter malah tertawa, kenapa sih pak?”
“Pak RT. Orang ini tiga bulan lalu pernah datang ke tempat praktek saya dan melarang saya membuka praktek. Untuknya ada pak Boneng dan mas Tanu mengusir mereka bertiga. Sekarang, ehh, malah bertemu dengan teman saya yang guru karate. Masih untung mereka tidak terluka parah, pak.” Kata Firdaus membawa mereka masuk kedalam.
Wisnu yang memapah penjual gorengan masuk lebih dulu.
“Mas Fir, mendingan abang penjual gorengan ini duluan. Biar mereka nanti setelahnya.” Kata Wisnu.
Firdaus tersenyum dan mengiyakan Wisnu. Lalu membawa penjual gorengan kedalam.
Hampir satu jam Firdaus mengurus dan memberi obat kepada mereka yang luka. Ketua RT dan warga masih berkumpul disitu.
“Bagaimana, bapak-bapak sekalian dengan orang-orang ini?” Ujar Ketua RT.
“Kita bawa saja ke Pospol, pak. Kita serahin saja mereka, biar kapok.”
Semua berteriak dan mengatakan untuk diserahkan saja ke kantor polisi.
Undang, Akim dan Nurdin pucat pasi mendengar mereka akan dibawa ke kantor polisi. Undang yang masih terduduk bangkit dan menghampiri ketua RT. Undang berjongkok sambil memegang kakinya.
“Jangan, pak! Tolong jangan bawa kami ke kantor polisi. Kami kapok, pak. Kami janji akan merobah hidup kami. Ampun pak.” Ujar Undang sambil menangis. Akim dan Nurdin mengikuti Undang. Mereka juga ikut berjongkok dibawah kaki ketua RT.
Wisnu tersenyum. Firdaus malah tertawa.
“Kok, jadi menangis sih, bang?” Tanya Firdaus. “Bukannya abang-abang ini jagoan?”
Undang tidak menjawab. Wajahnya menunduk.
Ketua RT menengok kearah Wisnu.
“Bagaimana ini, bang Wis?” Tanyanya.
“Saya tidak tau, pak. Semuanya kembali kepada bapak-bapak semua. Saya kan hanya kebetulan melihat dan tidak suka dengan kelakuan mereka yang menyakiti abang penjual gorengan saja. Atau kita tanya saja sama abang gorengan. Gimana bang?” Tanya Wisnu.
Penjual gorengan itu hanya diam tidak menjawab.
Kemudian Undang menghampiri penjual gorengan.
“Maafin saya ya, bang? Saya khilaf tapi jangan laporkan kami ke polisi ya, bang.” Kata Undang menghiba suaranya.
Abang penjual tidak menjawab tapi matanya melihat kearah Wisnu.
“Susah ya, bang. Benci dan kesal memang menjadikan orang bertindak sembarangan. Sekarang saya tanya. Apa abang mau kita menyerahkan mereka ke polisi?” Tanya Wisnu.
Penjual gorengan menggelengkan kepalanya.
“Apa abang tidak merasa dendam?”
Kembali penjual itu menggelengkan kepalanya.
“Nah, sekarang saya tanya sama bang Undang, Akim dan Nurdin. Apa kalian akan mengulangi kelakuan ini?” Tanya Wisnu sedikit membentak.
Mereka bertiga menggelengkan kepalanya.
“Baik. Saya mewakili bapak-bapak disini, juga abang penjual gorengan, kalian tidak akan kami serahkan ke polisi. Tapi kalian harus janji tidak akan mengulangi kelakuan jelek kalian. Bagaiman, mau?”
Mereka menganggukan kepalanya.
“Jawab!” Teriak Wisnu.
“Ya saya janji.” Teriak mereka sama-sama.
“Ingat! Kalau kalian melakukannya lagi, saya tidak akan segan mencari kalian.” Kata Wisnu berjalan kearah halaman yang ada sebongkah bekas dinding rumah. Kemudian Wisnu konsentrasi dan mengayunkan tangannya kearah bekas dinding itu.
Bongkahan bekas dinding rumah itu hancur berantakan.
Semuanya ternganga dan melongo melihat kekuatan tangannya Wisnu.
Wisnu menghampiri mereka lagi.
“Bagaimana? Kalian mengerti maksud saya?”
“Ya, bang.” Jawab mereka.
“Ingat! Jangan membuat malu saya karena sudah melepaskan kalian dari keinginan warga untuk membawa kalian ke polisi. Mengerti?”
“Iya, bang. Kami janji.”
Akhirnya semuanya selesai dan mereka melepaskan mereka untuk pulang ketempatnya masing-masing. Sementara semua warga juga pulang kerumahnya.
“Hebat kamu itu, mas Wis. Dinding setebal itupun bisa hancur. Bagaimana kalau orang, ya?” Firdaus menepuk-nepuk bahunya Wisnu.
Wisnu tertawa.
“Ahh, mas Fir ini mau saja saya kerjain. Dinding itu saya lihat sudah agak retak semuanya, mas. Jadi begitu saya pukul sekeras saya bisa, pasti dinding itu akan hancur.”
Keduanya lalu tertawa.
Sepasang mata lentik tanpa disadari keduanya memperhatikan dari balik ruang periksa dokter Firdaus. Novi tersenyum.
“Mas Wis. Sekarang tolong ikuti saja apa yang saya mau, ya?” Kata Firdaus menatap Wisnu.
“Memangnya mau ngapain, mas Fir?”
“Begini. Angkutan umum jam segini sudah tidak ada. Jadi hubungi saja dojo dari sini biar asistennya yang menggantikan menjadi senseinya hari ini.”
Wisnu tertawa dan menganggukan kepalanya.
“Yuk, masuk, mas Wis.” Ajak Firdaus.
Wisnu masuk kedalam ruangan praktek Firdaus.
“Kenalkan ini, Anwar, ini Siti dan ini Novi.”
Wisnu menyalami satu persatu yang ada dihadapannya.
“Sambil menunggu saya praktek, mas Wisnu bisa istirahat di kamar sebelah, ya.” Ujar Firdaus.
Wisnu menganggukan kepalanya.
Novi yang mengantar Wisnu masuk kedalam kamar disebelah ruang periksa dokter.
Jam 10 malam, Firdaus menutup tempat prakteknya dan berjalan dengan Wisnu menuju mobilnya ditemani oleh Anwar dibelakangnya.
“Jadi mas Wisnu langsung pulang saja kerumah?”
“Iya mas Fir. Saya harus segera membantu pak Rohim membereskan gerobak dan bekas jualan nasi gorengnya.”
“Belum ada niat pisah dengan pak Rohim, mas?”
“Belum, mas Fir. Hitung-hitung tanda terimakasih dan mengikuti amanat guru saya di kampung.” Jawab Wisnu pelan.
“Maksud saya. Kalau mas Wisnu ada niat mau misah dengan pak Rohim, rumah saya terbuka lebar, mas.” Jawab Firdaus.
Wisnu menganggukan kepalanya sambil tersenyum. “Iya, mas Fir.”
Bayu malam itu sudah siap-siap diruang ganti pakaian. Ruang pertarungan sudah penuh dengan penonton yang akan menyaksikan pertarungannya.
Menurut kabar dari salah satu penonton, Bayu mendengar kalau lawannya berasal dari luar negeri.
Penjemput pertarungan sudah mengetuk ruangan. Bayu keluar dan berjalan menuju arena pertarungannya.
Bayu masuk kedalam arena. Dari seberangnya dia berdiri masuk juga yang akan menjadi lawannya. Tampak badannya ringan tapi badannya tegap dan kokoh.
Setelah diperkenalkan oleh wasit pertarungan, Bayu membungkuk pada lawannya. Orang itupun balas membungkuk.
Bayu segera memasang kuda-kuda Muay Thainya. Kakinya berdiri kokoh, tangan mengepal berada dihadapan wajahnya.
Lawannya menarik kaki kanannya kebelakang. Dia memajukan tangan kirinya seperti akan menusuk tapi agak miring. Sedangkan tangan kanannya dikepalkan dan berada didepan dadanya.
Bayu berpikir keras dan meningkatkan kewaspadaannya. Dia tau kalau orang yang menjadi lawannya sekarang menguasai teknik jujutsu atau judo, menurut pikirannya.
Bayu mencoba untuk mengetahui lebih jauh. Kemudian dia mengangkat kaki kanannya dan menghentakan badannya keudara. Badan Bayu melayang dengan dengkul kaki yang dilipat menerjang orang itu.
Orang itu tidak bergeming tapi memiringkan badannya sedikit dan merubah kuda-kudanya dari samping. Tangannya berusaha menggapai badannya Bayu. Tapi Bayu dapat membaca tujuan orang itu. Bayu menghindar dan menarik kakinya kebelakang dan melancarkan tendangan putar gaya Muay Thai.
Tendangannya mengena sasaran ke badan orang itu. Tapi orang itu hanya terdorong beberapa langkah dan memperbaiki kuda-kudanya lagi, seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
Dengan teriakan Bayu memutar badannya dengan kaki kanannya yang terus menerus memutar seiring badannya di udara sebatas d**a. Orang itu terlihat sedikit sibuk menangkis kakinya Bayu. Melihat gerakan itu Bayu teringat kalau itu memang jujutsu, beladiri dari Jepang.
Bayu tersenyum dan berhenti memutar badan dengan tendangan putar Muay Thainya.
Kuda-kudanya berubah. Kaki kanannya maju kedepan, tangan kanannya disodorkan kedepan, tangan kirinya ada dibelakangnya dengan terkepal. Bayu akan menggunakan gerakann silat Cimande yang diajarkan oleh Wisnu.