CHAPTER #10
SEPULUH
Malam itu di tempat praktek dokter Ambardi terlihat sangat penuh. Bahkan sampai ke luar halaman tempat praktek.
“Firdaus, coba tolong Papah beresin pasien diluar itu jangan sampai berebut. Bilang ke Nina dipanggil sesuai nomor antrian yah.” Kata dokter Ambardi.
Firdaus adalah anak tunggal dokter Ambardi. Dia kuliah di fakultas kedokteran juga mengikuti jejak ayahnya. Tinggal dua tahun lagi dia selesai dan menjadi dokter umum.
Firdaus menghampiri Nina dan berbisik agar memanggilnya berdasarkan nomor antrian kecuali ada yang memang sakitnya terlalu parah.
Ada sepasang orangtua yang sedang sakit dipojokan ruangan. Tapi mereka sedang menunggu panggilan antrian. Firdaus tidak tahan melihatnya sehingga mengabaikan perintah dari ayahnya.
Firdaus lalu berdiri dihadapan orang-orang dan meminta ijin untuk mendahulukan orangtua itu.
“Bapak-bapak, ibu-ibu sekalian. Saya mohon pengertiannya dari semua. Ada orangtua yang sakitnya cukup parah, saya akan membawanya kedalam lebih dulu. Bagaimana saya diijinkan?” Ujar Firdaus melihat keselilingnya.
Semua orang mengangguk kecuali seorang anak muda yang agak kekar menolak dengan cara berteriak. “Jangan begitu dong. Semua kan berdasarkan antrian. Hargai itu.” Ujarnya.
“Iya mas. Saya tau. Tapi ibu ini terlihat sangat kesakitan. Kami hanya sebentar untuk memeriksanya ya mas. Mohon maaf dan pengertiannya.”
“Tidak bisa mas. Tunggu saja sampai pada gilirannya.”
“Mas ini nomor berapa?” Tanya Firdaus.
“Nomor 20.”
“Maaf ibu. Ibu nomor berapa?” Firdaus bertanya dengan lemah lembut.
“Saya nomor 15.” Ujarnyanya. Suaranya bergetar karena menahan sakit.
“Sekarang baru nomor 9. Apa pasien nomor 10 sampai 14 tidak apa-apa kalau ibu ini lebih dulu diperiksa?”
Semuanya mengatakan iya dan mempersilakan Firdaus membawanya lebih dulu.
Tanpa banyak bicara lagi Firdaus langsung membopong ibu itu kedalam ruang pemeriksaan dan meletakannya di tempat periksa.
Dokter Ambardi sudah tidak heran melihat kelakuan anaknya seperti itu. Lalu dia menghampiri ibu-ibu yang dibawa oleh Firdaus.
“Kenapa baru sekarang dibawa kesini?” Tanya dokter Ambardi kepada orang yang mengantarnya.
“Iya pak dokter. Nenek tidak pernah mau kedokter. Katanya bayarannya mahal. Nenek saya sedang tidak ada uang dan baru hari ini punya setelah menjual kalungnya.” Jawab anak muda yang cucunya ibu-ibu tua itu.
Dokter Ambardi tidak menjawab tapi hatinya terasa sakit mendengar kata-kata cucu ibu ini. Apalagi Firdaus hampir meneteskan air matanya.
Karena tidak tahan Firdaus lalu keluar dari ruang pemeriksaan.
Anak muda yang tadi tidak setuju dengan apa yang dilakukan Firdaus mendekatinya dan langsung mengayunkan tangannya akan menampar Firdaus. Semua orang menjerit melihatnya.
Tapi Firdaus tiba-tiba bergerak dengan menarik badannya pemuda itu kedepan sehingga badannya menjadi doyong kedepan. Dengan gerakan kilat Firdaus membalikan badannya dan dengan punggungnya dia membantingkan badan pemuda itu kedepan.
Bunyi gedebuk badan membuat semua orang tersadar dan melihat pemuda itu sudah tergeletak dilantai.
Kemudian pemuda ini bangkit lagi dan setengah berlari ke arah Firdaus yang sudah berjalan keluar dari ruang tunggu pasien.
Tangannya sudah terkepal dan akan menghajar Firdaus dari belakang. Sebelum sampai ke sasarannya badan Firdaus tiba-tiba meloncat keatas dan bergerak berputar seperti baling-baling. Kembali kaki Firdaus kali ini menghajar punggung pemuda itu. Sudah dua kali pemuda ini tersungkur.
Ada seorang ibu-ibu yang menghampiri Firdaus.
“Sudahlah mas. Maafkan anak saya. Dia memang agak temperamen. Begitu itu kelakuannya. Sudah Anwar, jangan teruskan. Malu! Kirta yang salah dan kamu tidak menghargai mas ini.” Ujar ibunya membentak kepada Anwar nama pemuda itu.
Firdauspun terdiam dan memegang pundak ibu itu. Lalu membimbingnya kedalam kembali ke tempat duduknya.
Anwar yang sudah reda amarahnya menghampiri Firdaus dan mengulurkan tangannya.
“Saya minta maaf mas. Saya Anwar.” Ujarnya menyalami tangan Firdaus.
“Iya mas. Sama-sama. Maafkan juga saya. Saya Firdaus anaknya dokter Ambardi.”
Akhirnya kedua pemuda yang sudah saling meminta maaf ngobrol di dalam ruang tunggu pasien.
Ternyata Anwar adalah seorang aktivis di kampusnya yang menyuarakan keadaan masyarakat yang kurang mampu. Mereka berjanji akan sering bertemu lagi karena mereka merasa ada kesamaan visi dalam tujuannya.
Pagi-pagi sekali Firdaus sudah berangkat ke kampus. Harapannya akan bisa menyelesaikan sebagian tugas dari dosen anatomi tubuh yang belum diselesaikan karena kejadian semalam ditempat praktek ayahnya itu.
Baru saja duduk dikursi kuliahnya Desi teman sekelasnya sudah datang menghampirinya.
“Fir, bantuin gua dong. Anatomi nih belum selesai!” Ujarnya memegang tangan Firdaus.
“Gua juga belum Des. Kerjain bareng-bareng saja ya?”
“Ya udah. Kita bareng saja yah.” Sahut Desi duduk disebelahnya Firdaus.
Mendekati jam mulai mata kuliah anatomi Firdaus dan Desi selesai mengerjakannya tapi Desi belum bangkit dari samping Firdaus.
Toni pacarnya Desi yang juga teman seangkatan dengan Firdaus jadi salah sangka terhadap Desi juga Firdaus. Dikiranya mereka sengaja curi waktu agar bisa ngobrol berdua.
“Ohh, jadi begini ya Fir. Lu pagar makan tanaman rupanya.” Kata Toni tidak banyak tanya lagi lagi langsung menendang kursinya Firdaus hingga terbalik.
Untungnya Firdaus cepat berdiri sehingga tidak ikut terjatuh bersama kursinya.
“Tahan Ton. Apa-apaan ini?”
“Jangan banyak omong lu Fir. Sini!” Kata Toni sementara tangannya memegang krah kaos Firdaus dan menariknya.
Firdaus yang belajar yudo tentu saja dengan reflek tangannya memegang kedua tangannya Toni dan memutarnya kesebelah kiri dan membantingnya kebawah. Sementara badannya Firdaus yang sudah ringan karena sering gimnastik ikut memutar.
Tentun saja badannya Toni terbawa oleh arah bantingan tangannya Firdaus dan mukanya langsung terjerebab mencium lantai hingga berdarah. Toni bangun kembali dan berniat akan membalas Firdaus dengan mengangkat kursi kuliah. Namun terlambat karena kaki Firdaus sudah bersarang didadanya yang bidang. Badannya Toni terpental hampir 3 meter dan terkulai lemas dan pingsan.
Firdaus menarik nafas. Lalu mendekati Toni. Dia mengangkat badannya Toni dan mendudukannya dikursi kuliah tapi masih dalam keadaan pingsan.
Desi yang dari tadi melihat perkelahian karena salah paham ini ikut duduk disebelah Toni dan mengusap-usap tangannya.
“Sudah Fir. Biarin saja. Memang begini nih orang yang asal nuduh.” Kata Desi. Karena dia calon dokter jadi tau mana yang berbahaya atau tidaknya keadaan Toni.
“Iya Des. Gua minta maaf yah.” Kata Firdaus. “Gua hanya membela diri saja.”
“Iya gua tau Fir. Nggak apa-apa ntar gua beresin semuanya.”
Mata kuliahpun dimulai dan Toni mulai tersadar dari pingsannya. Lalu dia celingak-celinguk kesekelilingnya yang sudah banyak mahasiswa mengikuti kuliah. Lalu mengusap hidungnya yang berdasarh tapi sudah bersih. Hanya dadanya saja yang masih terasa sakit. Toni lalu membetulkan posisi duduknya.
Bel selesai sudah berbunyi. Firdaus segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
“Tunggu Fir.” Kata Toni. “Gua minta maaf. Barusan Desi sudah cerita semuanya. Gua salah sangka sama kamu Fir.” Toni mengajak salaman dengan Firdaus.
Firdaus menyambut tangannya Toni dan menyalaminya.
“Sama-sama Ton. Maafin gua juga.”
Mereka berdua tersenyum.
Semua orang tersenyum tapi berbeda pikirannya. Mereka tersenyum sedikit meremehkan Toni yang tidak tau atau pura-pura tidak tau melawan Firdaus juara gymnastik dan juara yudo sekampus.
Firdaus menyapa beberapa orang yang kenal dengannya lalu dia keluar dari kampusnya.
Meskipun anak seorang dokter yang kaya Firdaus tidak pernah menggunakan fasilitas keluarga yang diadakan untuk kepentingannya. Dia lebih suka berjalan kaki atau naik angkutan umum. Lagi pula rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Firdaus kemudian naik angkutan umum yang mangkal diseberang jalan depan kampus dan kebetulan langsung jalan. Belum lama mobil itu berjalan sudah distop oleh dua orang penumpang yang baru naik.
Firdaus merasa orang ini agak mencurigakan terlihat dari gerak-geriknya. Lalu Firdaus memutar ransel kuliahnya kebelakangnya.
Benar saja sekejap orang itu mengeluarkan sebilah pisau belati dan menodongkannya kesetiap orang yang ada didalam.
“Diam dan jangan teriak. Keluarkan semua dompet kalian dan barang yang kalian pakai.” Teriak salah seorang dari dua orang itu. Sedangkan yang seorang lagi mengambil barang-barang penumpang yang ada di mobil.
Firdaus memutar otaknya. Kebetulan pisau belati si penodong itu diarahkan kepadanya. Dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh mata, tangannya Firdaus bergerak menangkap pangkal lengan kanan penodong yang memegang pisau oleh tangan kirinya. Lalu ditekuk kebawah dan tangan kanannya Firdaus bergerak menghajar wajahnya dengan keras.
Penodong yang satunya berusaha untuk menolong temannya namun tiba-tiba dia memegang lehernya dan langsung pingsan. Ada tangan yang bergerak memukul samping leher sipenodong itu sebelum jatuh pingsan.
Firdaus menangguk kepada orang itu. Orang itu juga balas mengangguk.
Mobil angkutan itu berhenti didepan kantor polisi yang kebetulan dilewati. Lalu orang itu turun dari mobil dan menurunkan penodong yang pingsan. Kemudian dia membantu Firdaus untuk menurunkan penodong lainnya yang juga pingsan.
Ada sejumlah polisi yang ikut membantu mereka membawa para penodong itu kedalam. Lalu orang itu dan Firdaus masuk lagi kedalam mobil angkutan umum yang menunggunya.
Didalam mobil Firdaus menjulurkan tangannya kepada orang itu.
“Saya Firdaus.” Ujarnya.
“Saya Wisnu.” Balasnya dan tersenyum.
“Turun dimana mas Wisnu?”
“Di jembatan serong sana mas Fir.” Jawab Wisnu. “Kalau mas Firdaus dimana?”
“Saya turun di terminal ujung aspal, lalu naik jurusan lain. Saya di Sempor dekat tukang baso.”
“Kalau begitu nggak jauh dari rumah saya dong. Saya di ujung aspalnya.”
“Iya mas Wis. Ehh, kuliah dimana?”
“Di Seroja. Semester 5, ekonomi.” Jawab Wisnu. “Kalau mas?”
“Dekat juga ya kampus kita. Saya di jalan Jogja. Semester 7, kedokteran.”
“Wahh, calon dokter ya. Kampus yang mahal disitu. Tapi kenapa naik angkutan umum mas Fir? Bukannya kaum borju disana itu?”
Firdaus tertawa geli.
“Iya mas Wis. Yang borju, yang nggak ya nggak. Betul mahal sih mas.”
Keduanya menjadi akrab.
Di ujung aspal merek berdua turun. Wisnu menuju rumahnya dengan jalan kaki karena tinggal 500 meter lagi. Sedangkan Wisnu pindah angkutan umum lainnya.
“Mas Fir. Ada yang nyari tuh ?” Kata Nina yang sedang beres-beres ruang praktek.
“Siapa mbak Nin?”
“Itu yang dulu berantem itu loh.”
“Ohh, Anwar namanya. Dimana sekarang?”
“Disamping rumah. Katanya ada perlu. Hati-hati mas!”
Firdaus pergi kesamping rumahnya.
Disitu terlihat Anwar sedang bersender di dinding tembok rumah Firdaus.
“Hey mas Anwar!” Sapa Firdaus. “Tadi mencari saya mas?”
“Iya mas Fir. Ini ada titipan dari nenek saya. Katanya sebagai terimakasih tempo hari.”
Anwar menyerahkan bungkusan.
“Apa ini mas, padahal tidak usah repot-repot segala.” Firdaus menerima bungkusan dan membukanya.
“Ohh, dodol mas. Waduh kok tau saja kalau dodol kesukaan saya?”
“Iya mas Fir. Nenek saya kan menjual dodol betawi jadi ya hanya itu yang dia punya.”
Firdaus tidak menjawab tapi langsung mencomot dodolnya dan memakannya disamping Anwar.
“Enak mas. Legit banget dan harum baunya.”
Anwar hanya tersenyum mendengarnya. Setelah cukup ngobrolnya dengan Firdaus, Anwar pamit pulang karena sudah sore dan pasien sudah ada yang datang mengambil nomor antrian.
Rupanya urusan menundukan penodong di angkutan umum tidak selesai begitu saja.
Keesokan harinya saat Firdaus akan berganti jurusan angkutannya.
“Hey tunggu!” Kata pemuda jalan ujung aspal saat Firdaus turun dari angkutannya.
Pemuda itu menahan Firdaus masuk angkutan umum tujuannya. Dia datang ditemani 6 orang temannya.
“Ya, kenapa bang?” tanya Firdaus.
“Lu yang menghajar anak buah gua diangkutan yah?”
Firdaus berkerut keningnya.
“Menghajar siapa bang?”
“Masih inget nggak lu sama dua orang yang nodong di angkutan?”
“Ohh, itu. Masih bang, masih ingat saya.” Jawab Firdaus sambil tertawa. “Terus maunya abang apaan?”
“Banyak ngomong lu. Gua mau ngasih pelajaran sama lu biar nggak ikut campur urusan orang.”
“Ikut campur? Itu sih bukan ikut campur bang. Itu namanya bikin risih orang. Jadi ya terpaksa menghajarnya karena saya juga terganggu soalnya. Apa 6 orang yang abang bawa cukup buat menghadapi orang yang banyak itu?” Kata Firdaus menunjuk orang-orang yang mulai berjalan menghampiri Firdaus.
Orang itu tertawa. Lalu dia mencabut sebuah pisau sangkur besar.
“Apa lu masih hebat dengan ini?” Katanya menusukan pisau sangkur itu.
Firdaus yang sejak awal sudah waspada tidak kaget lagi. Jadi begitu dapat serangan mendadak semacam itu dia hanya tersenyum. Badannya langsung merunduk dan meloncat keatas seraya menggerakan kaki kanannya menendang kearah kepala orang itu.
Orang itu kaget dan mundur 3 langkah kebelakang.
“Sebentar bang, jangan buru-buru. Nama abang tuh siapa ya?” Firdaus menyimpan ranselnya dan mengangkat tangannya kepada orang-orang untuk berhenti menghampiri. “Begini saja bang. Kita selesaikan saja persoalan ini antara kita berdua. Bagaimana?”
“Ada nyali juga lu. Gua Kirman.”
“Sebentar bang Kirman. Kalau saya bisa ngalahin bang Kirman apa jaminannya?”
“Oh gitu. Jangan ngeper dong. Tapi gua janji. Kalau gua kalah gua jamin keselamatan lu disini dan gua tunduk ama lu. Tapi kalau lu kalah, selain lu akan luka juga lu harus setor uang sama gua setiap minggu. Gimana?” Jawab Kirman.
“Oke bang. Saya siap.” Jawab Firdaus. “Bapak-bapak tolong jaga 6 orang itu. Biar saya tenang menghadapi bang Kirman ini.” Kata Firdaus kepada orang yang melihatnya. Serempak orang-orang itu mengelilingi temannya Kirman.
Lalu Firdaus memasang kuda-kuda kakinya dengan kokoh.
Kirman tidak menunggu lama langsung menyerang Firdaus dengan tusukan yang mematikan. Sekilat itu juga Firdaus mengelak kesamping lalu menjulurkan kakinya kesamping. Tangan kirinya menekan tanah untuk mengangkat badannya keatas seperti halnya senam palang-palang kuda.
Lalu badannya berputar kesamping dan kakinya menghajar d**a Kirman.
Kirman terjajar kebelakang beberapa langkah. Firdaus melanjutkan serangannya dengan melakukan salto beberapa kali kedepan. Belum Kirman bersiap kembali tau-tau Firdaus sudah ada didepan mukanya. Kirman kaget dan berusaha untuk mundur namun terlambat baginya karena tiba-tiba punggung Firdaus sudah menempel di badannya dan tangan yang memegang sangkurnya sudah berada dalam pegangan Firdaus yang kuat.
Firdaus membungkukan badannya mendorong dan dibungkukan untuk mengangkat badan Kirman dengan bantingan yudo ke aspal jalanan.
Badan Kirman terbanting dengan punggung dan bagian kepala belakang yang lebih dulu ke jalan aspal.
Kirman menggerung sambil memegang kepalanya dan jatuh pingsan setelah kaki Firdaus melayang ke kepalanya dengan kekuatan tidak untuk melukai.
Orang-orang bertepuk tangan sementara anak buah Kirman berlari menghampiri Kirman dan berusaha untuk menyadarkan.
Firdaus berjalan menghampiri mereka. Mereka mundur takut dihajar oleh Firdaus. Tapi Firdaus hanya tersenyum.
“Saya tidak akan apa-apa bang. Saya akan menyadarkan bos kalian. Nah, silahkan minggir sedikit.” Kata Firdaus.
Anak buah Kirman bergeser kesamping dan memberi tempat untuk Firdaus menyadarkan Kirman.
Firdaus mengangkat badannya Kirman. Dengan ilmu menyadarkan dari pingsan yang diperolehnya di yudo, Firdaus mempraktekannya.
Hanya sedetik Kirman sudah tersadar lagi.
Kepalanya celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Pas menoleh ada Firdaus disampingnya dengan tangan terulur untuk mengangkat badannya Kirman.
Kirman menyambut tangannya Firdaus dan berusaha untuk berdiri.
“Gua salut sama lu. Lu hebat dan gua mengaku kalah. Gua akan memenuhi janji sama lu.” Ujar Kirman menyalami tangannya Firdaus. “Sekarang lu teman gua dan ada dalam perlindungan gua disini.”
“Iya bang. Tidak masalah. Malah saya senang sudah mendapat pelajaran yang berarti dari abang.” Jawab Firdaus merendah. Kemudian Firdaus maju kedepan dan memeluk Kirman.
Kirman yang seumur hidupnya belum pernah terkalahkan baru kali ini dia diperlakukan seperti ini. Mana sudah kalah lagi. Kirmanpun membalas pelukan Firdaus.
Firdaus melepaskan pelukannya dan menepuk pundak Kirman.
“Ya. Kita berteman bang.” Ujar Firdaus.